INIPASTI.COM – “Tunggu dulu, suro! Jangan lari. Sampaikan pada tuanmu yang berkulit putih seperti kain kaci, bermata kucing, berambut jagung dan berkopiah lebar itu bahwa dia harus sanggup memindahkan pulau Laelae (pulau kecil di depan pantai Makassar) ke sebelah timur dan daratan Makassar ke sebelah barat jika hendak duduk setara denganku, suruh tunjukkan kekuatannya menahan jalannya matahari, jika ia ingin marebutku dari suamiku tercinta. Bukankah ia berkuasa? Bukankah ia merasa lebih dari siapa pun? Tapi ketahuilah, hei anjing kompeni, hidupku dunia akhirat hanya untuk suamiku, bukan untuk orang lain. Tuanmu yang beralas kaki kulit kerbau itu boleh menggertak sekehendak hati. Boleh menepuki dada sekeras-kerasnya. Tetapi dia salah alamat. Kami berdua belum pernah mempan terhadap gertakan, dan tak pernah ragu bimbang pada marabahaya. Maut mengincar pun tak akan kami tolak, jika memang harus demikian resikonya. Itulah kata hatiku, Suara sanubariku. Sampaikan pada tuanmu yang bermata belang itu bahwa dia tak tahu diuntung. Berangkat segera, aku muak melihat tampangmu !”
“Dasar anjing tak tahu diri” tambah Datu Museng, ketika melihat Daeng Jarre melangkah cepat-cepat ke pintu, lalu berlari turun tangga dan keluar pekarangan.
“Kanda…, sudah terbentang bahaya di hadapan kita” kata Maipa lembut sambil merebahkan diri di pangkuan suaminya.
“Adinda sayang… tak usah takut pada bahaya. Bahaya yang mulai membentang di hadapan kita itu adalah jodoh kita. Sudah ditakdirkan Tuhan, kita berangkulan dengan bahaya itu di Makassara. Di sinilah adinda tempat kita berkubur. Rupanya kompeni dan kawan-kawannya telah memasang perangkap untuk kita. Dan yang dijadikan umpan ialah Datu Jarewe, Yang akan merebut kekuasaan di Sumbawa”.
“Apalah usaha kita mencegah hal yang tak diingini itu ?”
“Usaha satu-satunya ialah membela diri sambil menyerahkan nasib pada Ilahi Rabbi. Kita sudah dalam kurungan adinda. Mundur tak dapat, maju pun tak mungkin. Membela diri sampai maut menjelang, itulah jalan Yang harus kita tempuh. Balik kembali ke Sumbawa, jika kita mau memang bisa. Tapi itu berarti mencorengkan arang ke wajah kita sendiri. Nama kita akan ternoda sepanjang masa. Ayahanda Maggauka yang telah menumpukkan harapannya pada kita, Juga akan menanggung malu. Bukankah aku telah bersumpah di hadapan beliau yang disaksikan seluruh anggota adat bahwa akan tak akan pulang jika tugas tidak terlaksana dengan baik? Ya, malah aku telah bersumpah, akan berkubur di daratan Makassar jika maksud yang dikandung tak kesampaian. Sumpah adalah sumpah, tak boleh dilanggar atau dikhianati, adinda. Kukira adinda juga tak rela jika aku menjadi pengecut dan pengkhianat. Dunia lni hanya tempat parsinggahan sementara, tempat manusia diuji oleh Tuhan, apakah kita sanggup berbuat kebajikan atau hanya menumpuk dosa. Dan kita termasuk manusia biasa yang tidak akan kekal hidup di dunia ini. Hidup abadi di akhirat, di taman firdausi, sorga nilakandi bagi manusia yang sanggup berbuat kebajikan. sedang bagi manusia yang berfoya-foya dan melupakan Tuhan, akan mendapat ganjaran maha dahsyat di kemudian hari. Kukira dinda mengerti apa yang kumaksudkan”.
Bersambung…










