INIPASTI.COM – Ingatannya melayang terus, sebentar ke alam tanah tumpah darahnya negeri Belanda. Kemudian kembali lagi ke Makassar, tempat ia berkuasa sekarang. Perjuangan suka duka menegakkan tanah-tanah jajahan dan mengibarkan panji-panji negerinya di mana-mana.
Kini ia akan meletupkan lagi perang. Perang kepada Datu Museng, panglima perang sakti dari Sumbawa. Demi nafsu binatangnya dan demi kesentosaan tanah airnya, tak terpikir lagi bahwa tindakan-tindakannya itu tidak benar. Ia malah berpikir tindakan-tindakan yang akan dilakukannya nanti benar adanya, dan namanya akan semakin harum juga di tanah leluhurnya.
Pengorbanan jiwa tidak terpikir pula. Ia hanya berpikir tentang kekuasaan, jangan sampai hilang dan digantikan kekuasaan lain. Sekali orang Belanda berkuasa di Makassar, maka kekuasaan itu harus dipertahankan. Jika bisa, lebih diluas-ratakan ke mana-mana. Kalau perlu, segala daratan nusantara ini berada di bawah perintah kerajaan Belanda. Bukankah raja Belanda sudah memberikan kepercayaan penuh padanya untuk bertindak setiap saat guna kepentingan kerajaan?
Kini ia telah mengambil tindakan tegas terhadap Datu Museng, yang mencoba menentang kemauan dan perintahnya. Itu berarti menentang pula kemauan dan kehendak kerajaan Belanda.
Jiwa Datu Museng sudah berada dalam jangkauannya sekarang. Besok, kepala panglima perang Sumbawa ini sudah bercerai dari tubuhnya dan akan diarak keliling kota. Dipertontonkan kepada khalayak agar mereka mengerti, barang siapa berani menentang kekuasaan dan perintahnya, akan menemui nasib serupa. Biar penduduk tahu, bagaimana kekuatan dan kekuasaannya. Dan Maipa Deapati akan menjadi isterinya atau piaraan kesayangan. Oh, sungguh indah dan bahagia hidupnya kelak.
Sepanjang waktu ia repot dirintang angannya yang muluk-muluk, bagaimana jika Maipa Deapati sudah berada di sampingnya. Bila wanita itu sudah menghiasi biliknya, semua mata pasti memandang iri padanya. Karena telah berhasil memetik kembang dari segala kembang, berhasil memeluk ratu dari segala ratu, merangkul mesra bulan purnama di pangkuannya.
Begitu hebat pengaruh Maipa, sehingga ia tak dapat tidur dengan nyenyak. Jika pun tertidur, ia hanya bermimpikan perempuan itu, lain tiada.
Keesokan harinya pagi-pagi benar, serdadu kompeni telah mangatur diri dalam benteng Makassar. Siap sedia menunggu perintah penyerangan dari kapitan mereka. Ketika mereka sedang ramai mempersiapkan diri, datang pula Lasykar bantuan dari sahabat Tumalompoa. Mereka dipimpin oleh tubarani pilihan seperti, Karaeng Galesong, Bolebolena Tallo, Pallakina Mallengkeri. Pagssikkina Parangtambung, I Bage Daeng Majjanji, Karaeng Lewa ri Popo, I Taga ri Mangindara, Karaeng Nyikko ri Kanaeng. Benteng Makassar akhirnya penuh sesak dengan prajurit-prajurit yang akan menyerbu Datu Museng.
Bersambung…










