Delapan Pelajaran dari Pilpres AS 2016

Trump & Clinton

INIPASTI.COM – Pemilihan presiden AS 2016 yang unik dan sangat menarik perhatian itu akan diulas, dianalisis dan dibedah selama bertahun-tahun. Kajian singkat menghasilkan delapan poin yang berkaitan dengan perspektif rakyat Amerika Serikat seiring berjalannya kampanye, yang dapat dijadikan pelajaran.

1 Semua yang Berkaitan dengan Pilpres 2016 AS Bersifat Negatif

Donald Trump dan Hillary Clinton adalah dua kandidat presiden yang memiliki citra paling negatif sepanjang sejarah Gallup. Penelusuran kami mengenai seberapa kuat perasaan rakyat Amerika tentang pendapat mereka terhadap kedua kandidat memperlihatkan bahwa emosi lebih banyak condong ke sisi negatif daripada sisi positif. Bahkan, di kalangan kutub ekstrem pada spektrum partisan/ideologi–kaum Demokrat liberal dan Republik konservatif–pandangan positif terhadap Clinton dan Trump, tidak terlalu dipegang kuat, namun pandangan negatif, yang jumlahnya sangat banyak, tentang kedua kandidat itulah yang justru melekat kuat di benak mereka.

Pandangan rakyat Amerika terhadap muatan negatif kampanye pilpres kali ini adalah yang paling tinggi dalam sejarah Gallup. Hal yang menarik adalah tingkat kepuasan mereka terhadap cara Trump melakukan kampanye adalah yang paling rendah yang pernah kami catat, sementara cara kampanye Clinton menduduki posisi paling rendah ketiga sepanjang sejarah Gallup.

Sebuah jajak pendapat musim panas yang dilakukan sebagai bagian dari World Poll dari Gallup memperlihatkan adanya penurunan tingkat kepercayaan rakyat Amerika sebesar 10 persen terhadap “kejujuran pemilihan presiden”. Hal itu mungkin sebagian diakibatkan oleh pandangan mereka tentang pendanaan pemilihan presiden dan hubungan antara dana besar dengan kampanye.

Adapun antusiasme rakyat Amerika untuk memberikan suara pada malam pemungutan suara tercatat berada pada posisi paling rendah dalam empat pemilihan terakhir dalam catatan Gallup. Hal itu bersesuaian dengan data pendahuluan resmi yang memperlihatkan angka pemilih yang akan memberikan suaranya adalah yang paling rendah sejak 2000 lalu.

Semua indikasi tersebut menggarisbawahi pandangan skeptis, sinis dan kritis dari rakyat Amerika terhadap seluruh proses pemilihan presiden tahun ini, dan–menurut saya–merupakan indikasi kecurigaan banyak rakyat Amerika terhadap semua aspek proses politik di AS dewasa ini. Hal yang ironis di sini adalah bahwa Trump muncul sebagai pemenang dalam proses politik dengan justru mengkritik proses politik itu sendiri.

2 Anggapan bahwa Trump Tidak Memenuhi Syarat untuk Menjadi Presiden Justru Menguntungkannya

Para pemilik suara tampak bersedia menerima Trump yang tidak berpengalaman dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden–sangat mungkin karena mereka mengasumsikan bahwa seseorang yang bukan politisi diperlukan untuk memutus rantai kemapanan di Washington, dan di seluruh negeri. Data Gallup dengan jelas memperlihatkan bahwa hanya relatif sedikit pemilih yang menganggap Trump memiliki kualitas pribadi dan kepemimpinan yang harus dimiliki seorang presiden, jauh lebih sedikit dibanding mereka yang beranggapan serupa terhadap Clinton. Dan, sebagaimana dikatakan sebelumnya, mayoritas rakyat Amerika tidak menyukai Trump. Menurut analisis exit poll dari ABC News, 23% persen dari mereka yang memilih Trump sekalipun, mengatakan, Trump tidak memenuhi syarat untuk menjadi presiden dan 20% yang memilih Trump mengaku tidak menyukai Trump. Orang-orang itu tampaknya memilih Trump karena mereka memandang Trump sebagai orang yang dapat membawa perubahan besar–dan kekurangannya dalam hal persyaratan boleh jadi, dalam pandangan sebagian pemilih, lebih banyak positifnya dibanding negatifnya.

Baca Juga:  KBRI Dar Es Salaam: Gathering Para Penerima Beasiswa Indonesia dan Pemutaran Film Indonesia

3 Trump Tahu Bagaimana Cara Mendominasi Kesadaran Publik

Penelusuran Gallup memperlihatkan bahwa pada musim panas dan musim gugur Trump berhasil menyisihkan Clinton dalam hal apakah rakyat Amerika ingat pernah mendengar, melihat atau membaca sesuatu tentang kedua calon tersebut. Menjelang akhir kampanye, rakyat Amerika dilaporkan mulai mendengar lebih banyak tentang Clinton–tetapi malang bagi dia, hal itu sangat mungkin berkaitan dengan pengumuman Direktur FBI James Comey tentang peninjauan kembali email Clinton terkait Huma Abedin.

Kelihaian Trump memanfaatkan siklus berita, yang terutama dilandasi keputusannya untuk mengeluarkan rentetan berita secara terus menerus, bersesuaian arah dengan strategi yang menekankan lebih pentingnya menjadi berita daripada isi berita itu sendiri.

4 Apa yang Rakyat Amerika Baca, Lihat atau Dengar tentang Clinton Empat Bulan Terakhir Menjelang Pilpres Didominasi Berita tentang Email

Email menjadi kutukan bagi eksistensi Clinton dalam kampanye pilpres kali ini, dan sejauh ini merupakan hal dominan yang diingat oleh rakyat Amerika sebagai sesuatu yang mereka baca, lihat dan dengar tentang Clinton pada minggu-minggu sepanjang musim panas dan gugur. Wajar apabila pengumuman Comey bahwa dia akan meninjau ulang email Clinton yang berhubungan dengan Abedin hanya satu minggu sebelum pemilihan presiden itu melekat kuat ke dalam pikiran mereka yang sebelumnya memang sudah memiliki assosiasi negatif tentang cara Clinton menangani komunikasi elektroniknya.

Baik Clinton maupun Trump memiliki posisi yang rendah dalam dalam hal kejujuran dan kepercayaan publik Amerika, namun imej tentang ketidakjujuran Clinton jelas jauh lebih merugikannya dibanding kerugian yang diderita Trump oleh hal serupa.

5 Trump Mengambil Keuntungan dari Hilangnya Kepercayaan Rakyat Amerika terhadap Pemerintah Federal

Baca Juga:  Horor di Aleppo

Trump kini akan menjadi pimpinan tertinggi dari sebuah entitas–pemerintah federal–yang sangat tidak dipercayai dan sangat tidak disukai oleh rata-rata rakyat Amerika. Hal ini, menurut saya, merupakan satu dari isu sentral yang kita hadapi pada masa kini. Trump berhasil memanfaatkan persepsi tersebut untuk keuntungan kampanyenya, dengan menyerukan baru-baru ini ajakan untuk “mengeringkan rawa-rawa” Washington D.C. Kini, Trump akan mendapati dirinya memimpin rawa-rawa itu, dan dirinya akan berhadapan dengan tantangan “mengubah arah kapal perang” sebagaimana dihadapi para pimpinan tertinggi lainnya. Sebagaimana dipelajari para penerus tanggung jawab lainnya, lebih mudah mengusulkan perubahan besar-besaran dalam suatu organisasi besar daripada benar-benar melakukan perubahan itu.

6 Trump Menekankan Tema Potret Besar bagi Negara secara Keseluruhan

Saya pikir inilah kunci sebenarnya dari pemilihan presiden. Kampanye Clinton lebih cenderung memandang Amerika Serikat sebagai kumpulan kelompok yang saling terpisah, yang masing-masing menderita dan menghadapi masalah yang memerlukan penanganan tersendiri dari pemerintah. Hal itu mencakup masalah perempuan, kaum LGBT, penyandang cacat, ras minoritas, imigran, ibu-ibu yang bekerja dan anak-anak. Pendekatan Trump menekankan bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah korban sistem dan mereka harus menyerang balik sistem tersebut.

Trump memusatkan perhatian pada gambar besar negara–“Make America Great Again” (Kembalikan Kejayaan Amerika). Inilah yang disebut oleh para sosiolog sebagai pendekatan fungsional terhadap masyarakat–memandang sistem sebagai satu kesatuan. Pendekatan fungsional lebih positif dan tampaknya –karena berbagai sebab–lebih bergaung di kalangan pemilih Trump.

7 Pemenang Suara Pemilih (Popular Vote) Kalah dalam Pemilihan, Terbuka Pintu bagi Peninjauan Kembali Electoral College

Clinton meraup suara pemilih lebih banyak dari Trump, dan jikia pemilihan sebelumnya dijadikan acuan, keunggulan suara Clinton atas Trump akan meningkat karena “kertas” suara akan terus dihitung hingga seminggu kemudian. Meskipun kontrovensi soal Electoral College dalam pemilihan presiden kali ini berlangsung lebih singkat dibanding pemilihan pada 2000 silam, pemenang suara pemilih–saat itu dan saat ini–kalah karena sistem pemungutan suara didasarkan porsi masing-masing negara bagian yang berbeda-beda jumlahnya.

Publik Amerika memilih untuk menghapuskan sistem Electoral College setiap kali Gallup mengajukan pertanyaan mengenai hal tersebut, selama puluhan tahun. Seperti dijelaskan kontributor Gallup, Lance Terrance, dalam ulasannya tentang sistem Electoral College, permohonan seperti itu sangat sulit untuk dikabulkan, terutama karena sulitnya rintangan yang dipasang oleh para Founding Fathers untuk mengubah Konstitusi (dan karena sebagian orang berpendapat bahwa sistem yang ada sekarang masih berguna). Namun, sistem pemilihan presiden yang sulit dipahami ini mungkin sekali lagi akan menjadi pusat perhatian dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga:  Trump dan Gagalnya Tata Dunia Global Amerika

8 Media Terus Mendapat Hantaman dalam Pemilihan Ini

Tingkat kepercayaan rakyat Amerika terhadap media massa telah mencapai angka terendah beberapa tahun terakhir, terutama karena disulut oleh rendahnya tingkat kepercayaan partai Republik bahwa berita itu telah dilaporkan secara utuh, akurat dan berimbang. Akibatnya tidak mengherankan apabila mayoritas rakyat Amerika berpikir bahwa media massa telah bersikap berat sebelah dan memihak Clinton dalam pemilihan ini. Persepsi seperti itu dibantu lagi dengan kritik terus menerus Trump terhadap media massa yang dianggapnya bias terhadap dirinya, sebagaimana diperlihatkan yel-yel merendahkan para pendukungnya terhadap CNN pada berbagai pawai belakangan ini.

Ramalan pemilihan yang hampir serempak memprediksikan bahwa Clinton akan memenangi pemilihan presidem kali ini, hampir pasti kian mempertegas keyakinan para pendukung Trump bahwa media dan kalangan mapan telah berlaku curang terhadap Trump dan para pengikutnya. Trump, tentu saja, mempersoalkan hal itu dengan memperhitungkan bagaimana cara menyampaikannya langsung kepada publik melalui twitter–sebuah varian modern dari metode Presiden Franklin Roosevelt untuk berbicara langsung kepada publik melalui ‘”obrolan di depan perapian” di radio. Apakah Trump nanti terus akan menganggap pantas untuk terus membagikan pesan melalui twitter di tengah malam ketika dirinya sudah berada di Gedung Putih masih harus kita tunggu. Tidak akan mengherankan apabila nanti Trump membuat suatu terobosan baru dalam berkomunikasi dengan publik yang memungkinkan dirinya memintas cara tradisional konferensi pers dan pidato umum.

(Frank Newport, Ph.D., adalah Pemimpin Redaksi Gallup. Dia adalah penulis buku Polling Matters: Why Leaders Must Listen to the Wisdom of the People dan God Is Alive and Well. Twitter: @Frank_Newport)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.