Detik-detik Mencekam Istana Jelang Gus Dur Lengser

Top Ad

INIPASTI.COM – Tepat 20 tahun lalu, Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dimakzulkan dalam Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Senin 23 Juli 2001.

Beberapa hari jelang hari pemakzulan, situasi mencekam sudah terasa di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dari mulai moncong panser di Lapangan Monas yang mengarah ke Istana, hingga kerumunan pendukung Gus Dur yang memadati Jalan Merdeka Utara, Jakarta.

Inline Ad

Dilansir dilaman CNN, Bahkan situasi di dalam Istana digambarkan putri Gus Dur, Anita Hayatunnufus Wahid, saat itu tak kalah tegangnya “Memang terasa mencekam banget,” kata Anita saat berbincang dengan CNN, Sabtu (17/7/21).

Ia menggambarkan saat itu orang-orang terdekat Gus Dur berdiskusi, terutama soal konsekuensi dari maklumat Gus Dur. Gus Dur saat itu mengeluarkan tiga maklumat sebagai bentuk perlawanan pada Sidang Istimewa MPR yang diagendakan digelar pada 23 Juli 2001. Maklumat dikeluarkan dini hari jelang pelaksanaan Sidang Istimewa.

Isi maklumat itu adalah Pembubaran MPR/DPR, mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan membekukan Partai Golkar.

“Setiap saya menoleh, ada beberapa orang yang bergerombol ngomogin itu, jadi suasananya tegang banget,” kata Anita.

Belum lagi hal-hal janggal seperti petugas Rumah Tangga Kepresidenan yang mulai memisahkan barang-barang pribadi keluarganya dan barang inventaris milik istana.

Padahal saat itu Gus Dur belum resmi dimakzulkan.

“Secara etika mempertanyakan. Ini apa sih. Kok dari rasanya, kayak seakan-akan sudah tahu Bapak akan keluar dari sini,” kata Anita

Sementara di seberang Istana menurut Anita, di lapangan Monas, ratusan moncong panser dan tank milik tentara mengarah ke Istana. Kendaraan-kendaraan tempur TNI telah terparkir di sana untuk menggelar apel sejak beberapa hari sebelum hari pelengseran Gus Dur.

Suasana mencekam juga diakui putri Gus Dur yang lain, Alissa Qotrunnada Wahid. Anak sulung Gus Duritu mengatakan, sang ayah saat itu meminta agar ibu mereka, Sinta Nuriyah diungsikan sementara ke kediaman pribadi di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Namun Alissa menolak dan bersikeras untuk tetap bersama Gus Dur di Istana apapun yang terjadi.

“Saya enggak mau. Saya bilang, ‘Enggak pak, kita sama bapak’,” kata Alissa, Jumat (16/7/21).

Namun Gus Dur juga berkeras. ‘Ini kondisi sudah bahaya nak… Apapun bisa terjadi, jadi, udah bapak saja di sini. Tapi kalian harus pulang, kamu harus jagain mama’,” kata Alissa menirukan ucapan Gus Dur saat itu.

Alissa hanya bisa menangis mendengar jawaban Gus Dur. Alissa khawatir jika berpisah saat itu, ia bakal sulit bertemu dengan ayahnya lagi.

Alissa juga mengaku beberapa kali melihat Gus Dur marah dan bicara dengan nada tinggi bahkan sampai menggebrak meja.

Alissa belakang baru tahu dari Mahfud MD, bahwa saat itu Gus Dur marah besar karena ada pihak yang menawarkan bantuan pada Gus Dur, namun syaratnya akan ada penerapan syariat Islam di Indonesia.

“Gus Dur waktu itu sampai gebrak meja, terus ngomong, itu sama saja membubarkan Indonesia,” kata Alissa.

“Jadi memang situasinya sangat tegang,” kata putri sulung Gus Dur itu.

Putri Gus Dur yang lain, Inayah Wulandari Wahid mengatakan, jelang pemakzulan Gus Dur, di luar Istana sejak tanggal 21 Juli sudah banyak kelompok masyarakat pendukung Gus Dur berkumpul. Makin lama, makin banyak yang datang.

“Sampai pada saat dekrit (maklumat) dibacakan, istana itu sebenarnya penuh dengan orang. Berbagai elemen mulai dari mahasiswa, teman-teman aktivis, para tokoh banyak banget.Saya enggak pernah melihat istana sepenuh itu,” kata Inayah.

Ketegangan semakin terasa, karena ternyata di luar Istana ada juga kelompok yang menentang Gus Dur. Meski tidak ada bentrokan, namun suasana menjadi tegang saat itu.

“Ini bukan situasi yang menyenangkan atau baik-baik saja,” ujarnya.

Pada akhirnya meski dekrit atau maklumat dikeluarkan, namun dukungan tidak didapatkan Gus Dur dari parlemen. Gus Dur akhirnya dimakzulkan oleh MPR selaku lembaga tertinggi negara saat itu sekaligus pemberi mandat pada presiden.

Dimakzulkan pada 23 Juli, Gus Dur tak langsung beranjak dari Istana meski beberapa hari kemudian ia memilih meninggalkan Istana Kepresidenan, tempat yang didiaminya selama 21 bulan terakhir.

Terkait pemakzulan Gus Dur, hal yang paling ditakutkan Alissa adalah kemungkinan terburuk bakal terjadi yakni bentrokan berdarah. Pasalnya pendukung Gus Dur masih banyak saat itu berkumpul di depan Istana.

Alissa sendiri sempat berfikir saat itu, terkadang apapun harus dilakukan. “Bagi Gus Dur demi idealisme, bagi kami demi cinta,” ujarnya.

Alissa saat itu juga sempat bertanya pada Gus Dur soal kenapa masih terus bertahan meski banyak yang sudah menekannya, Saat itu Gus Dur hanya menjawab, bahwa siapapun yang jadi Presiden akan mengalami hal berat semacam ini.

Ketika akhirnya Gus Dur lengser, Alissa mengaku sempat sangat marah dalam waktu yang lama. Alasannya, Gus Dur selama ini tak pernah berjuang untuk dirinya sendiri namun dituding mencari keuntungan pribadi seperti di kasus Bulog gate dan Brunei gate. Kasus yang tak pernah terbukti hingga kini.

“Gus Dur tidak pernah, mencari keuntungan pribadi. Terbukti sampai akhir hayat beliau, saya sering cerita. Beliau utang minta uang pegangan sehari-hari ke saya. Itu sudah sangat membuktikan itu,” ujarnya.

Putri Gus Dur yang lain Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid atau Yenny Wahid mengatakan, Gus Dur juga marah saat itu. Bukan soal ia tak lagi jadi Presiden, namun pada tindakan yang dinilainya inkonstitusional.

Sementara Anita Wahid juga mengaku marah dan kecewa.

“Bapak itu dijahati orang sudah sering dari masa Orba sudah dijahati orang. Tapi Bapak sering belain, banyak orang yang percaya,” katanya.

Saat Gus Dur dijatuhkan, yang membela Gus Dur makin sedikit. Mereka yang dulu dianggap teman oleh Gus Dur, sekarang seperti bersikap seperti bukan lagi kawan.

“Itu sebenarnya memperlihatkan ke saya, dunia politik dan kekuasaan, enggak pernah ada yang abadi,” katanya.

Sementara Inayah mengatakan, justru usai Gus Dur dimakzulkan ada semacam perasaan ikhlas.

“Jadi begitu udah dilengserin, rasanya sudah. Kami ingat betul nonton televisi ketika ada yang dilantik (menggantikan Gus Dur), sambil makan nasi Padang membeli di seberang (Istana).

Kebetulan teman saya lagi ngurus surat-surat di Istana, kami berdua makan es krim dan nonton ramai-ramai, dan itu tidak setegang waktu dilengserin,” kata Inayah

(syakhruddin)

Bottom ad

Leave a Reply