Dilema Copypaste dan Mahasiswa Kekinian

Oleh ; Mirdana Ayu Ningsih

INIPASTI.COM. MAHASISWA adalah seseorang yang sedang menikmati keindahan pendidikan di salah satu lembaga tinggi selama beberapa waktu yang telah ditentukan.

Menjadi mahasiswa tentunya tidaklah mudah, saat pertama kali memasuki dunia perkuliahan akan mengalami suasana yang sedikit berbeda dibanding saat masih di bangku sekolah menengah, mulai dari proses belajar mengajar hingga aturan yang berlaku.

Menyandang predikat mahasiswa tentu ditantang untuk berkarya dan terus berkarya.

Hal ini mungkin tak berbeda jauh saat duduk dibangku sekolah, yaitu dituntut untuk berprestasi.

Tuntutan untuk menjawab kesiapan sebagai mahasiswa adalah berkarya. Selama menjadi mahasiswa hendaknya memiliki minimal satu buah karya yang nantinya bisa untuk dibanggakan.

Tugas dan mahasiswa seolah menjadi sesuatu yang tak dapat dipisahkan. Mulai dari makalah, esai, resume ataupun presentasi secara individu pun tidak dapat dihindari.

Baca Juga:  Wujudkan Makassar Tidak Rantasa Lurah Tidung Bangun Sistem Komunikasi

Namun itulah yang menjadi pembeda antara mahasiswa dan siswa sekolah menengah, di tuntut untuk berfikir se-kreatif mungkin yang nantinya akan di tuangkan kedalam sebuah tulisan.

Namun yang menjadi fenomena saat ini adalah rasa ingin serba “instan“ dan ingin mendapat “pujian“ membuat beberapa mahasiswa menumbuhkan jiwa copypaste.

Maksudnya adalah menyalin sebuah tulisan orang lain dengan dimodifikasi se-apik mungkin.

Bahkan kadang kala tidak menyertakan sumber dari tulisan tersebut lalu kemudian diakuilah bahwa tulisan itu adalah karyanya.

Apalagi di zaman yang serba canggih seperti saat ini, hal seperti itu serasa bukan hal yang tabu lagi pada saat ini.

Dengan menggunakan mesin pencari google, mengerjakan tugas tugas menjadi hal yang mudah.

Baca Juga:  Empat Dosen Ekonomi UNKRIT Lanjut S3 di PPs-UNM

Namun karena kemudahan dan kepraktisan itulah, saat ini banyak yang menyalah gunakannya dengan meng-copy paste tulisan orang lain.

Ataupun mengambilnya secara random, lalu disusun dan kemudian di akui sebagai karya milik sendiri.

Menumbuhkan jiwa menulis sebenarnya tidak susah, tetapi tidak gampang juga, karena saat menulis, dituntut untuk mempunyai kreatifitas yang tinggi.

Tidak hanya itu juga, seorang penulis harus terlebih dahulu menumbuhkan jiwa suka membaca pada diri sendiri.

Bagaimana mau dan bisa menulis sedangkan membaca pun enggan.

Copy paste sebenarnya bukannya dilarang, tetapi alangkah baiknya disertai dengan pemikiran sendiri.

Malah lebih bagus jika menulis dengan hasil dari kretifitas sendiri, sebagai generasi milenial saat ini, sebaiknya mulai dengan meninggalkan budaya copypaste.

*) Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI Makassar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.