Dilema Politik SYL pada Pilgub Sulsel

illustrasi by inipasti
Top Ad

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Pelik politik sedang dialami oleh Syahrul Yasin Limpo, Gubernur dua periode di Sulsel (2008-2018). Betapa tidak, SYL yang kini masuk sebagai salah satu Ketua, di Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar diberi tugas untuk memenangkan calon Gubernur dari Partai Golkar. Sementara pada sisi yang lain, adik kandung SYL, Ichsan Yasin Limpo dan Wakilnya dua periode di Pemerintahan Provinsi Sulsel, Agus Arifin Nu’mang juga maju sebagai calon Gubernur Sulsel. Sementara calon gubernur dari Golkar adalah Nurdin Halid. Nurdin Halid dikenal sebagai rival politik SYL dalam beberapa tahun terakhir ini.

Sebagai politisi kawakan, tentu saja SYL akan lolos dari kepelikan politik ini. Tapi banyak yang menduga, dilema politik ini akan menguji kemampuan politik SYL, ibarat seorang pembuat roti yang menemukan rambut pendek tercampur pada tepung terigu yang dimilikinya. Sang maestro roti harus bisa menarik rambut itu keluar dari tumpukan tepung tanpa mengacak-acak tepung yang sedang diadon-adonnya.

Baca Juga:  Pengamat : Petahana Kurang Empati

Ketajaman, kelihaian politik, dan tumpukan pengalaman akan berkelindan menjadi satu kekuatan dalam diri SYL, untuk kepuasan politik partai Golkar, adik biologis (Ichsan YL) dan adik idiologisnya (Agus Arifin Nu’mang).

Dalam perjalanan politik SYL, semua kepelikan politik yang dialaminya selalu berakhir manis. SYL memilki kemampuan akrobatik politik yang sulit diduga oleh lawan-lawan politiknya. Pada tahun 2007, SYL berhasil mengalahkan Ketua Umum DPD Golkar Sulsel, sementara SYL adalah mantan Sekretaris Umum Golkar, yang mengetuai sejumlah organisasi sayap Golkar. Meskipun tidak dicalonkan oleh Partai Golkar pada periode pertamanya, tapi setelah ia menjadi Gubernur, Partai Golkar justru “melamarnya” menjadi Ketua DPD Partai Golkar Sulsel.

Dalam suasana politik yang pelik seperti ini, banyak elit politik Sulsel maupun Nasional yang mengharapkan SYL bisa tampil sebagai negarawan. Harapan ini sebetulnya ditujukan agar tidak secara terbuka mendukung keluarganya. Tapi sebagai orang timur dan keluarga yang sangat kompak, rasanya harapan itu hanya ada di atas impian. Jalan tengah yang paling tepat buat SYL adalah tetap mendukung keluarganya, tapi tidak terbuka. Di atas kertas politik mungkin bisa saja dukungan politiknya sesuai kehendak Partai Politik tempatnya bernaung, tapi operasi politik di lapangan sulit bagi SYL untuk jauh dengan keluarganya. Dan public akan pasti memahami ini.

Baca Juga:  Setelah Jajaki Gerindra dan PKS, Agus AN akan Lobi PDIP

Jadi, dilema politik SYL sesungguhnya hanya akan ada pada level public, dan SYL pasti bisa memainkan jurus politik yang bisa membuat semuanya tidak kecewa. Toh bilik suara ada pada TPS yang tertutup dan rahasia. Hanya SYL yang tau ke mana dukungan politiknya diarahkan. Dengan kata lain, partai politik jangan berharap banyak pada kader-kader politiknya, karena partai politik sudah berubah menjadi institusi pemburu rente. (*ipc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.