INIPASTI.COM, MAKASSAR – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Sulsel melakukan pertemuan dengan para penanggungjawab supervisi dan koordinator wilayah kabupaten/kota Upsus Siwab se Sulsel beserta tim ahli dari Unhas, yakni Prof Dr Ir Tobang Botosamma dan Prof Dr Ir Herry Sonjaya, di Grand Hotel Imawan Makassar, Kamis 3 Agustus 2017.
Pertemuan yang dibuka oleh Kepala Dinas PKH Sulsel, Ir Abdul Azis, untuk membahas realisasi serta masalah yang terjadi di lapangan hingga program Upsus Siwab 2017 di Sulsel kurang mencapai hasil maksimal.
Hadir dalam pertemuan ini sekaligus menjadi narasumber adalah Seknas Upsus Siwab Direktorat Jenderal PKH Kementan RI Drh Maidaswar.
Kepala UPT IB Dinas PKH Provinsi Sulsel, Dr Ir H Abdul Muas, M.Si sebagai penanggunjawab pertemuan tim pokja Upsus Siwab, mengatakan, pertemuan ini sangat penting mengingat realisasi program Upsus Siwab di Sulsel belum mencapai hasil maksimal.
“Inilah yang kita bicarakan dengan penanggungjawab tim supervisi kabupaten kota se Sulsel beserta tim pakar IB dari Unhas untuk mengetahui lebih jauh akar pemasalahannya, kemudian secepatnya menemukan solusinya,” ujar Muas dalam pertemuan tersebut.
Kepala Dinas PKH Provinsi Sulsel, Ir Abdul Azis, dalam setiap kesempatan mengatakan, salah satu penyebab lambatnya capaian target Upsus Siwab di Sulsel, sangat dipengaruhi sistem pemeliharaan ternak di tingkat peternak.
Dikatakan Azis, ada tiga sistem pemeliharaan sapi yang kita kenal, yakni sistem intensif, semi intensif dan ekstensif. Di Sulsel ini peternak kita masih didominasi dengan pemeliharaan sistem ekstensif (lepas). Dengan sistem ini sangat menyulitkan petugas IB untuk mendeteksi birahi secara serentak. Apalagi di Sulsel ini letak geografisnya masing-masing wilayah berbeda-beda ada yang sangat sulit dijangkau oleh petugas IB di kabupaten.
Hal yang sama disampaikan tim pakar IB dari Unhas, Prof Dr Ir Tobang Batosamma, bahwa salah satu kendala dalam program Upsus Siwab di Sulsel adalah sistem pemeliharaan ternak yang didominasi sistem ekstensi atau dilepas. Sehingga untuk mendeteksi birahi sangat sulit dilakukan oleh petugas IB di lapangan.
Sehingga ke depan peternak harus memelihara ternaknya dengan sistem intensif atau semi intensif. Di Jawa, Upsus Siwab relatif lebih maju karena sistem pemeliharaan dilakukan secara intensif atau ternaknya dikandangkan. Sehingga petugas mudah untuk mendeteksi birahi di lapangan.
Di samping itu, petugas juga harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang guna memperlancar pelayanannya, seperti penyediaan bibit, akseptor, kontainer, N2 cair dan juga petugas memiliki pelaporan yang kuat. (nasrullah)










