INIPASTI.COM, MERAUKE – Kabupaten Merauke memiliki kesuburan tanah dan kesesuaian iklim bagi hampir sebagian besar komoditi pangan maupun hortikultura. Tanaman pangan berupa komoditi padi menjadi komoditi unggulan di Merauke, selain itu juga ada bawang merah dan cabai.
Konsumsi masyarakat di Merauke juga beragam, sumber karbohidrat yaitu beras, ubi kayu, ubi jalar, keladi dan sagu. Bagi penduduk di kota, sangatlah mudah mengakses kebutuhan makanan sesuai pilihan yang diinginkan.
Sayangnya, karena kondisi itu tidak berlaku bagi masyarakat yang bermukim di wilayah perdesaan dan kampung-kamping yang jauh dari kota. Sebagian masyarakat masih mengkonsumsi pangan yang dihasilkan dengan mengolah lahan masing-masing secara sederhana.
Sementara sumber protein didapatkan dengan berburu hewan atau menjaring ikan di pantai atau di kali. Jadi segala kebutuhan pangan, tidak mereka dapatkan di pasar, tetapi mereka mengusahakan sendiri.
Keadaan itu disebabkan oleh sulitnya jalur transportasi di wilayah Kabupaten Merauke, yang menghubungkan wilayah perkotaan dengan kawasan perdesaan. Untuk diketahui, jalur untuk mencapai wilayah perdesaan di Merauka hanya dapat ditempuh lewat laut atau menggunakan pesawat udara.
Transportasi yang sulit tersebut, membuat masyararakat perdesaan tidak dapat memasarkan produksi pertanian dan perikanan
Di sisi lain, masyaraat perdesaan juga masih terbatas dalam pengetahuan dan penguasaan teknologi terkait pengawetan untuk produk pertanian dan perikanan.
Sebagian masyarakat juga sudah mencoba membudidayakan tanaman sayuran organik, namun masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Merauka mengadakan pelatihan budidaya sayuran.
Pelatihan tersebut digelar selama tiga hari di kampung Padang raharja Kecamatan Kurik, yang diikuti masyarakat setempat. Kepada para petani lokal di daerah tersebut, diberikan materi mengenai penanaman sayuran organik, serta dilakukan praktik langsung.
Mereka dilatih mempersiapkan lahan berupa bedengan, melakukan penanaman, proses pemeliharaan, penanganan hama dan penyakit secara alami, hingga panen.
Para petani juga dilatih agar dapat menghasilkan benih sendiri yang dapat mereka tanam ulang, sehingga tidak tergantung pada penyediaan bibit oleh pihak lain.
Diharapkan, pelatihan tersebut dapat membantu masyarakat perdesaan untuk meningkatkan kehidupan mereka dan membawa perubahan yang lebih baik.










