Laporan Penyelidikan Chilcot tentang Perang Irak:
Garis Besar Temuan
Sir John Chilcot mengungkapkan garis besar temuannya tentang keterlibatan Inggris dalam Perang Irak 2003 dan pelajaran yang diperoleh dari situ.
Laporan tersebut menyelidiki kebijakan pemerintah Inggris selama rentang waktu hampir sepuluh tahun, antara tahun 2001 hingga 2009.
Laporan tersebut mencakup latar belakang keputusan untuk ikut perang, apakah pasukan telah dipersiapkan dengan layak, bagaimana konflik tersebut dihadapi, dan perencanaan apa yang diadakan untuk menindaklanjuti perang, pada masa terjadinya konflik sektarian hebat tersebut.
Hasil temuan yang utama adalah:
Aksi Militer
Inggris memilih untuk ikut bergabung ke dalam invasi ke Irak sebelum semua opsi perdamaian bagi pelucutan senjata dilakukan. Aksi militer saat itu bukanlah pilihan terakhir
Aksi militer boleh jadi akan diperlukan pada masa yang akan datang, tetapi pada Maret 2003, kata laporan tersebut, tidak ada ancaman mendesak dari Saddam Hussein, Presiden Irak saat itu, strategi pengepungan seharusnya dapat diterapkan selama beberapa waktu dan sebagian besarangota Dewan Keamanan mendukung dilanjutkannya tim inspeksi dan monitoring persenjataan PBB di Irak
Pada 28 Juli 2002, Perdana Menterri Inggris Tony Blair meyakinkan Presiden Amesika Serikat George W Bush bahwa dia akan mendukungnya apapun yang terjadi. Namun, dalam surat dia menyebutkan bahwa untuk melakukan aksi militer koalisi pimpinan Amerika memerlukan: Kemajuan dalam proses perdamaian Timur Tengah, kewenangan dari PBB dan perubahan pendapat dari publik Inggris, Eropa, dan para peminpin negara-negara Arab.
Senjata Pemusnah Massal
Penilaian mengenai tingkat bahaya dari ancaman yang dimiliki senjata pemusnah massal Irak–atau SPM–disajikan dengan kepastian yang belum dibuktikan kebenarannya
Laporan intelijen belum “memastikan tanpa keraguan sedikitpun” bahwa Saddam Hussein terus memproduksi senjata kimia dan biologis
Komite Intelijen Bersama Gabungan mengatakan bahwa Irak terus memproduksi “bahan kimia dan biologi” dan ada “produksi yang dihasilkan baru-baru ini”. Komite itu mengatakan bahwa Irak memiliki kemampuan untuk meluncurkan senjata kimia dan biologi. Namun, komite tersebut tidak mengatakan bahwa Irak terus memproduksi senjata
Kebijakan untuk menginvasi Irak dibuat berdasarkan penilaian intelijen yang cacat. Penilaian itu tidak didebat, padahal seharusnya didebat.
Aspek Legal
Keadaan yang dijadikan alasan untuk memutuskan bahwa ada landasan hukum bagi Inggris untuk melakukan aksi militer sangat jauh dari memuaskan
Invasi dimulai pada 20 Maret 2003, namun baru pada 13 Maret Jaksa Agung Lord Goldsmith memberi pertimbangan hukum bahwa ada, setelah mempertimbangkan segala hal, landasan hukum yang aman bagi aksi terrsebut. Selain dari surat balasan No 10 terhadap surat tanggal 14 Maret, tidak ada catatan resmi yang dibuat mengenai keputusan itu serta alasan pasti yang mendasari aksi tersebut hingga kini tetap tidak jelas
Aksi militer Inggris melangkahi kewenangan Dewan Keamanan PBB: Piagam PBB memberi tanggung jawab pemeliharaan perdamaian dan keamanan kepada Dewan Keamanan. Pemerintah Inggris mengaku bertindak atas nama komunitas internasional “untuk melaksanakan kewenangan Dewan Keamanan”. Namun pemerintah Inggris tahu bahwa mereka tidak mendapat dukungan mayoritas untuk melaksanakan aksi mereka
Di dalam kabinet, sangat sedikit pertanyaan yang diajukan kepada Lord Goldsmith mengenai pertimbangan hukumnya dan tidak ada rekaman diskusi substantif tentang masalah hukumnya
Kesiapan Militer
Hanya ada “sedikit waktu” yang dimiliki untuk mempersiapkan secara layak tiga brigade militer untuk digelar di Irak. Risiko yang ada tidak “diidentifikasi secara layak dan diekspose sepenuhnya” kepada para menteri, sehingga mengakibatkan terjadinya “kekurangan perlengkapan”
Antara tahun 2003 hingga 2009, pasukan Inggris di Irak mengalami kesenjangan pada beberapa area kunci–termasuk kendaraan lapis baja, aset pengintai dan intelijen dan dukungan helikopter
Tidak terlalu jelas siapa orangnya di departemen di dalam Kementerian Pertahanan yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan menyampaikan kesenjangan seperti itu
Penundaan penyiapan kendaraan patroli berpelindung sedang yang cukup dan kegagalan untuk memenuhi kebutuhan pasukan Inggris berupa alat-alat intai dan intelijen serta helikopter seharusnya tidak ditoloransi
Pasca-Serangan ke Irak
Meskipun telah diberi peringatan secara gamblang, konsekuensi invasi ke Irak telah dianggap remeh. Perencanaan dan penyiapan Irak pasca-Saddam Hussein “secara keseluruhan sangat tidak memadai”
Pemerintah gagal untuk mwncapai tujuan yang ditetapkan untuk Irak. Lebih dari 200 warga Inggris tewas akibat konflik itu. Rakyat Irak menderita hebat. Hingga Juli 2009, setidaknya 150.000 warga Irak tewas, mungkin lebih. Lebih dari satu juta lainnya kehilangan tempat tinggal
Pelajaran yang Dipetik
Laporan itu menemukan bahwa Mr Blair terlalu melebih-lebihkan kemampuannya untuk memengaruhi keputusan Amerika Serikat tentang Irak; dan hubungan Inggris dengan Amerika Serikat tidak memerlukan dukungan tanpa syarat
Laporan itu mengatakan bahwa diskusi tingkat menteri yang memingkinkan terjadinya perdebatan dan penentangan secara terbuka dan berlandaskan fakta adalah hal yang penting. Sama pentingnya dengan memastikan bahwa warga sipil dan militer pemerintah dipersenjatai dengan memadai
Di masa yang akan datang, semua aspek dari intervensi apa saja perlu dikalkulasi, diperdebatkan dan ditentang dengan sengit. Keputusan perlu diimplementasikan sepenuhnya.










