INIPASTI.COM, MAKASSAR – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2017 bertumbuh dengan positif, momentum perekonomian secara global yang menunjukkan semakin baik turut memberikan andil. Termasuk inflasi yang selalu tetap terjaga.
Momentum perekonomian Indonesia tahun 2017 berdasarkan perkembangan ekonomi global, menunjukkan bahwa, perekonomian dunia membaik, dimana dimana Produk Domestik Bruto (PDB) dunia tahun lalu tumbuh 3,7 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,2 persen.
Hal ini terungkap dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2017 di Hotel Myko, Kamis (3/5), yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia ini mengakat tema “Memperkuat Momentum, Memperkuat Struktur”, acara ini diharapkan dapat memberikan, pencerahan, peningkatan dan pemahaman dalam rangka memperbaiki kualitas perekonomian daerah dan perekonomian nasional.
Penjabat Sekretaris Daerah Tautoto Tanaranggina menjelaskan, Perekonomian Sulsel pada tahun 2017 menunjukkan perkembangan yang positif, hal ini sejalan dengan membaiknya perekonimian global yaitu pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sebesar 7,23 persen, dimana peningkatan ekonomi tersebut menyumbang 49,58 persen terhadap perekonomian pulau Sulawesi dan di tingkat nasional adalah terbaik kedua dan berkontribusi sebesar 3,08 persen.
“Rata-rata PDRB per Kapita Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2017 sebesar Rp39,72 juta dimana memiliki perekonomian yang beraneka ragam,” kata Tautoto.
Dari tahun 2013-2017, untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan rata-rata 22,89 persen. Industri pengolahan rata-rata 13,84 persen. Perdagangan besar dan eceran rata-rata 13,17 persen. Konstruksi rata-rata 12,39 persen.
Ia menambahkan, kondisi stabilitas makro ekonomi dalam lima tahun terakhir terus terjaga, di mana inflasi Sulawesi Selatan target 2017 sebesar 4,4 persen berada dalam kisaran Bank Indonesia 3-5 persen.
Penyebab inflasi di Sulawesi Selatan bersifat musiman yang sifatnya selalu berulang dimana di saat menjelang bulan Ramadhan, perayaan hari besar keagamaan Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, tingkat konsumsi masyarakat dan harga pangan cenderung meningkat.
Menurutnya, dalam mengendalikan inflasi ini, telah dibentuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus berkoordinasi, berkolaborasi dalam membangun sistem yang terintegrasi dari berbagai stakeholder (Pemerintah, Lembaga Keuangan, Tim Pakar, Distributor, Lembaga Pembiayaan, Pertamina, PLN, Bulog) baik di Provinsi Kabupaten/Kota.
Untuk mengendalikan inflasi, Pemerintah Provinsi bersama Bank Indonesia telah menyusun road map Pengendalian Inflasi dan telah menetapkan zona kabupaten/kota terdiri dari zona Bulukumba, Makassar, Parepare, Bone dan Palopo sebagai dasar untuk mengendalikan inflasi di Sulawesi Selatan, “Pengendalian inflasi di daerah perlu dilakukan secara holistik antar stakeholder dimana Pemerintah berperan sebagai stimulator dan fasilitator yang terlibat dari hulu ke hilier,” sebutnya.
(Iin Nurfahraeni)










