INIPASTI.COM, OKAYAMA – Sepuluh ribu pria Jepang yang nyaris telanjang menantang suhu beku pada Sabtu malam untuk memperebutkan jimat keberuntungan sebagai bagian dari ritual berusia 500 tahun.
Setelah kain depan cawat putih tipis diturunkan, orang-orang bersuka ria berdesakan di Kuil Saidaiji Kannonin di selatan kota Okayama untuk menandai festival tahunan Hadaka Matsuri.
Kejenakaan liar dimulai pada malam hari ketika para pria membanjiri halaman kuil, menyelam ke kolam-kolam berair untuk membersihkan diri sebelum mengganjal perut mereka dengan bir dan sake untuk menghangatkan diri.
Tepat sebelum jam 10 malam, sejumlah hadirin masuk ke bagian dalam kuil dan, pada jam-jam terakhir, lampu padam ketika seorang pendeta melemparkan setumpuk ranting dan dua batang tongkat keberuntungan seppanjang delapan inci ke kerumunan.
Terjadi pergulatan gila selama 30 menit memperebutkan ranting-ranting itu, yang diidam-idamkan sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran.
Orang-orang yang bersuka ria itu bersorak-sorai saat mereka berjalan kembali ke luar, beberapa di antaranya terluka dan memar pada tubuhnya.
Namun, luka dan memar itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan festival Hadaka Matsuris sebelumnya di mana banyak di antara mereka yang tewas tergencet saat berdesak-desakan dan saling berhimpitan selama festival.
Terlepas dari tragedi sebelumnya, setiap tahun ribuan orang berduyun-duyun ke acara dari seluruh dunia, dengan banyak yang ambil bagian dalam tim tetapi beberapa memilih untuk perebutan jimat secara perorangan.
“Setahun sekali, pada waktu terdingin di bulan Februari, hanya dengan berbalut cawat kami membuktikan diri sebagai seorang lelaki,” kata Yasuhiko Tokuyama, 55 tahun, presiden sebuah perusahaan elektronik regional.
“Itulah pentingnya acara ini dan mengapa aku terus berpartisipasi.”
Beberapa festival telanjang baru bermunculan di seluruh Jepang, tetapi tradisi tersebut muncul di Kuil Saidaiji Kannonin pada tahun 1500-an di mana seorang padri akan melemparkan jimat kertas.
Tetapi seiring dengan meningkatnya popularitasnya, jimat kertas mulai ditinggalkan sebagaimana halnya pakaian akibat meningkatnya jumlah peserta, sehingga akhirnya tongkat kayu diadopsi sebagai jimat dan pakaian diganti cawat.
Salah satu festival telanjang lainnya di Chiba memperlihatkan laki-laki yang juga hanya mengenakan cawat, tetapi mereka saling bertarung dan memanggul anak-anak mereka melalui lumpur sebagai bagian dari ritual pengusiran setan.
(Sumber: dailymail.co.uk)










