Oleh: Hamdan Juhannis
(Guru Besar UIN Alauddin Makassar)
INIPASTI.COM-Saya langsung menulis setelah pulang dari menonton Silariang, sajian film dengan gendre drama yang sangat cocok untuk disebut hiburan. Saya memulai ketertarikan saya pada kreatifitas anak-anak Makassar yang sudah bisa menghadirkan film yang sangat berkelas, kalau bukan dikatakan sebagai film Kelas Piala Citra.
Film ini menyajikan drama yang sangat apik terhadap sebuah fenomenena pengingkaran terhadap tradisi yang disebut dengan silariang (kawin lari) karena cinta dua sejoli tidak direstui oleh orang tua mereka.
Ketidakrestuan ini umumnya karena faktor tradisi, masalah perbedaan kelas. Setting ceritanya buat saya adalah ‘two thumbs,’ karena di samping saya menonton sebuah hiburan, saya juga belajar arti sebuah tradisi yang sudah menjadi kesadaran kolektif masyarakat serta bagaimana proses tradisi itu terjunjung dan konsekwensi bila tradisi tersebut teringkari oleh komunitas atau kelas pengabdi pada tradisi.
Sejujurnya saya belajar tentang mengapa tradisi silariang itu layak difilmkan, untuk selanjutnya diselami oleh generasi yang hidup belakangan tentang adat yang harus terjunjung. Dengan film ini, saya belajar pada filosofi adat yang yang menghukum pelaku silariang. Film ini juga mengajarkan saya tentang mengapa sampai orang-orang yang menjunjung adat itu rela mengorbankan apa saja termasuk darah dagingnya atau nyawanya sendiri untuk mempertahankan filosofi hidupnya yang berdampak pada siri (harga diri).
Satu lagi tentunya, film ini adalah film tentang ‘cinta’. Film ini semakin menyadarkan saya tentang universalitas cinta. Bahwa cinta adalah pengorbanan bukanlah semboyan oleh mereka yang dimabuk cinta. Pengorbanan bukan hanya milik ‘Romeo dan Juliet’ tapi terjadi pada siapa saja, dimana saja, atau pada mereka yang menemukan cinta sucinya.
Singkatnya film ini memberi saya wawasan tentang tradisi lokal yang mulai kabur dan terabaikan. Film ini menggugah saya dengan lontaran dialog tentang bagaimana tradisi itu berkelindan dalam wadah yang tidak boleh ditawar-tawar dan karenanya darah dan nyawa taruhannya.
Penyajian film silariang ini sangat apik. Sebagai orang awam terhadap penggarapan film, saya mengakui kalau cita-cita film ideal yaitu menghibur dan mendidik telah terpaparkan oleh film ini. Drama yang menegangkan, alur cerita yang tak terduga dan mengalir, dan celoteh lucu sekali-sekali mewarnai untuk membuat saya larut dalam ceritanya.
Sinematografinya nyaris sempurna. Mengambil setting perkampungan yang bagi saya jarang berjalan karena kesibukan rutinitas, saya putuskan dari film ini bahwa ternyata, tidak perlu terlalu jauh untuk berwisata menikmati keindahan alam. ‘Rammang-rammang’ yang menjadi tempat pengambilan gambar sebagian besar film ini sungguh indah penyajiannya dengan teknik pengambilan ‘angle’ yang tak tertandingi. Satu kata, ‘dahsyat’ bagi crew silariang, dan bagi anda yang ingin mencari hiburan film,merasakan derita sampai di titik nadir tentang hal azasi dalam hidup, yakni cinta yang diperjuangkan, dan sekaligus belajar tradisi, jangan biarkan film ini terlewatkan.










