Oleh : AHMAD USMAN
Dosen Universitas Mbojo Bima
Ibarat membuat kue, banyak resep digunakan. Ada beberapa istilah yang hampir sama maknanya dengan kata resep, di antaranya: trik, kiat-kiat, strategi, tips, dan lain-lain. Tidak hanya menulis yang banyak resep. Dalam mempersiapkan guru pun ada resepnya.
Kaitan dengan resep menjadi guru, menarik mengulas kembali gubahan M.S. Soelaeman (Usman, 2017) tentang sebuah resep menjadi guru. Dalam sebuah “buku resep” ditemukan suatu “resep” tentang “mengolah dan memasak guru” yang—seperti kebiasaan Orang Inggris—bernada humor. Bila diterjemahkan, resep itu kira-kira berbunyai sebagai berikut.
Carilah seorang pribadi yang muda, kuat dan menarik, kupaslah segala sifatnya yang berlebih-lebihan dalam bentuk suara, pakaian dan tindak-tanduknya yang mungkin membungkusnya. Kemudian tuangilah dengan suatu adonan berupa campuran keberanian Nabi Daud, kebijaksanaan Nabi Sulaiman, kekuatan Samson dan kesabaran Nabi Ayub, dalam takaran yang sama banyaknya.
Bumbunya adalah: garamnya pengalaman, ladanya semangat, minyaknya simpati, dan jangan lupa sekerat humor sebagai bumbu penyedapnya. Selanjutnya godoglah semua itu selama kira-kira tiga tahun dalam sebuah kelas yang hangat, dan sewaktu-waktu periksalah dengan tusukan garpu-kritik dari guru dan pimpinannya. Apabila segalanya telah matang, tatalah di atas skala gaji yang mungil, dihiasi dengan gaji yang kecil, dan hidangkanlah hangat-hangat kepada masyarakat.
Dalam “resep” yang tampaknya hanya berupa lelucon belaka, ternyata banyak hal yang menarik dan perlu mendapat perhatian.
Resep itu menyebutkan tentang “bahan” yang diperkirakan dapat menjadi guru yang baik: pribadi mengandung arti sifat mantap dan terintegrasi; ia harus kuat, fisik maupun mental, sebab dalam tugasnya guru menghadapi tugas dan tanggung jawab yang cukup berat; ia harus muda, artinya: berjiwa muda yang dapat menyelami gejolak perasaan serta liku-liku hidup generasi muda; ia harus memiliki daya tarik agar dapat didekati dan mendekati siswa-siswanya dan dengan demikian mempunyai banyak kesempatan untuk mempengaruhinya; sifat-sifat yang berlebih-lebihan harus dikupas ibarat kita mengupas kulit bawang yang kotor dan tidak enak dimakan; artinya: guru harus wajar dalam sikap dan penampilannya. Proses “pengolahannya”—artinya: kelangsungan pendidikannya—disinggung pula. Dan akhirnya guru yang telah dengan susah payah kita ramu, olah dan memasaknya, harus dihidangkan hangat-hangat kepada masyarakat. Artinya: janganlah pengetahuan, sikap dan keterampilan guru itu sampai “basi”, sampai ketinggalan zaman, sehingga dengan demikian guru itu harus selalu “menghangatkan diri”, harus terus mengembangkan diri dengan belajar tekun. Dalam pada itu skala gaji yang mungil dengan gaji yang diterimanya yang kecil pula, hendaknya tidak terlalu mengecewakannya, sebab pada dasarnya jabatan guru adalah jabatan pengabdian. Bukankah guru itu “pahlawan tanpa tanda jasa?” Ini semua hendaknya menjadi bahan pemikiran mereka yang hendak menjadi guru agar tidak menyesal di belakang hari.
Filosofi ”Rujak”
Cara menulis yang paling mudah adalah dengan gaya rujakan. Rujak adalah makanan tradisional yang terdiri dari berbagai jenis buah-buahan yang diiris-iris kemudian dibumbui bumbu rujak. Ada bermacam-macam jenis rujak di berbagai daerah, seperti rujak manis, rujak lotis, rujak cingur, rujak legi, rujak gobet, rujak serut, dan sebagainya. Seperti rujak, tulisan juga ada berbagai macam, yaitu eksposisi, deskripsi, argumentasi, dan narasi (Sutawi, 2011).
Seperti membuat rujak, langkah pertama membuat karya tulis adalah menentukan jenis tulisan yang akan ditulis. Untuk karya tulis yang akan dikirim ke media massa harus yang terkini (up to date), sedangkan untuk mengikuti lomba karya tulis harus sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh pihak penyelenggara. Kedua, mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan secukupnya. Cara mudah pengumpulan bahan adalah “membaca”. “Membaca” dalam arti luas dapat diartikan sebagai kegiatan mencari data dan informasi yang diperlukan untuk membuat suatu karya tulis, baik dengan cara membaca (buku, koran, jurnal, majalah), browsing internet, wawancara, maupun mengamati lingkungan. Ketiga, bahan-bahan yang telah terkumpul kemudian “dikupas”, dalam arti dibaca dan dipahami isinya. Keempat, bahan-bahan yang telah dikupas kemudian “diiris-iris”, dalam arti dipilah dan dipilih bagian-bagian tertentu yang diperlukan untuk mendukung karya tulis yang akan dibuat. Kelima, setelah diiris-iris kemudian “disusun”, “dicampur” dan “dibumbui”, dalam arti diberi komentar, dianalisis, dan ditambah solusi. Keenam, rujak siap dihidangkan, atau tulisan siap dipublikasikan.
Sebagai contoh, jika seseorang ingin menulis tentang kemiskinan, maka langkah pertama yang harus dikerjakan menentukan jenis tulisannya, apakah berbentuk eksposisi, deskripsi, argumentasi, atau narasi. Kedua, mengumpulkan data dan informasi secukupnya tentang “5W+1H” (what, why, where, who, when, how) kemiskinan. Informasi tersebut misalnya mengenai apa yang dimaksud miskin (arti dan ukurannya), mengapa terjadi kemiskinan, berapa yang tergolong miskin, di mana kemiskinan terjadi, siapa yang tergolong miskin, bagaimana mengentas kemiskinan, dan sebagainya. Ketiga, baca dan pahami data dan informasi tentang kemiskinan yang diperoleh. Keempat, pilah dan pilih bagian-bagian tertentu yang diperlukan, misalnya definisi kemiskinan, indikator kemiskinan, penyebab kemiskinan, sebaran kemiskinan, solusi mengurangi kemiskinan, dan sebagainya. Kelima, data dan informasi yang terpilih kemudian disusun, dikomentari, dianalisis, dan diberi solusi baru sesuai pendapat penulis. Keenam, kirim atau publikasikan karya tulis yang sudah jadi. Jika “rujak” (tulisan) yang dibuat dirasa “nikmat” (baik) oleh dewan redaksi atau dewan juri, maka tulisan itu akan dimuat di media massa, atau akan jadi juara lomba karya tulis.
Dengan gaya rujakan, penulis dapat mempublikasikan karya tulisnya di media massa paling tidak sebulan sekali, pernah beberapa kali menjadi pemenang lomba karya tulis tingkat nasional, dan beberapa kali mendapat insentif penulisan buku ajar dari Ditjen Dikti Depdiknas. Manfaat yang dirasakan penulis dari karya-karya tulis itu cukup lumayan, mulai kelancaran kenaikan pangkat dan jabatan akademik, bertambah kenalan, rekreasi ke Jakarta dan berbagai daerah, bertemu pejabat tinggi, mendapat tambahan pendapatan finansial, sampai mempresentasikan karya tulis di luar negeri.
Kiat Menulis
Skill menulis memang tidak dibangun dalam waktu sehari semalam seperti kisah Bandung Bandawasa membangun 1000 Candi untuk Rara Jonggrang. Dibutuhkan proses dan proses itu sendiri membutuhkan waktu.
Dalam artikel “10 Steps to Create the Habit of Writing” (Syarifuddin, 2019) tercantum kiat-kiat yang digunakan untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan, di antaranya: (1) tulis kebiasaan menulis Anda; (2) menulislah setiap hari pada waktu yang sama, dengan pemicu; (3) berkomitmenlah kepada orang lain; (4) fokuslah selama 1 bulan; (5) temukan motivasi Anda; (6) catat dan bertanggungjawablah; (7) tentukan penghargaan diri; (8) disiplin; (9) mencari inspirasi; (10) jadikan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Kiat-kiat menulis lainnya: menulislah; luangkanlah waktu untuk menulis; buatlah riset tentang bahan yang Anda tulis; berkelompoklah dengan penulis lain; pebisnis dan penulis mempunyai satu kesamaan: mereka sama-sama orang yang kuat membaca; terbitkanlah sesuatu; dan bersenang-senanglah.
Ada tiga kiat untuk sukses menulis: (1) ada sesuatu yang akan disampaikan; (2) tahu bagaimana menyampaikannya; dan (3) mampu untuk menjualnya (David Hellyer).
Caranya supaya bisa terampil menulis sebagaimana para pengarang-pengarang atau penulis-penulis terkenal, tiga resep berikut ini dapat menjadi bahan renungan (Bolla, 2012). Pertama, memiliki keyakinan yang kuat untuk bisa menulis. Kita sadari bersama bahwa menulis sudah dapat dilakukan oleh siapa saja karena pekerjaan ini sudah dilakukan sejak kita duduk di bangku SD khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu mengarang. Jadi, setidak-tidaknya bagi siapa saja yang pernah duduk di bangku SD sudah barang tentu ia sudah pernah mengarang atau menulis, baik itu menulis suatu cerita, puisi, dialog, karangan, ataupun menulis hal yang lainnya. Dalam hal ini yang diperlukan dalam menulis saat itu bukanlah bakat yang istimewa namun lebih mengutamakan adanya keinginan dan minat yang besar untuk mau belajar, membangun kebiasaan menuangkan gagasan atau ide lewat tulisan. Kedua, jadikan menulis sebagai kebiasaan. Agar kemampuan menulis berkembang menjadi suatu kebiasaan, maka milikilah keinginan untuk belajar menulis. Tulislah apa saja yang bisa ditulis baik itu buku harian, memori, puisi, cerpen, artikel/esai, atau bahkan buku sekalipun. Apabila sudah sering menulis, maka akan menjadi suatu kebiasaan tanpa beban sehingga pekerjaan menulis akan dirasakan sangatlah gampang. Kalau sudah demikian keadaannya, lambat laun “menulis” akan menjadi budaya bagi para guru yang ingin mengembangkan potensi dan kualitasnya demi dunia pendidikan pada umumnya dan demi profesi keguruan pada khususnya. Ketiga, buatlah semacam “daftar keuntungan.” Ketika menulis kita harus mempunyai keyakinan bahwa dengan menulis dapat memberikan kesempatan memperoleh honor atau uang, menjadi lebih dikenal orang, menjadi lebih dihargai orang, menjadi lebih dihormati orang, dan lain sebagainya.
Ada berbagai cara agar menulis itu mudah sebagaimana yang dituturkan oleh Triatna (2007).
Pertama, menggali pengalaman pribadi. Setiap orang pasti punya pengalaman pribadi. Baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Tuangkan pengalaman yang berkesan tersebut secara bebas. Jangan pedulikan orang lain. Jangan hiraukan aturan tulis menulis. Tapi tuliskan apa saja yang berkecamuk dalam pikiran. Tulislah dengan mengalir mengikuti ritme pikiran. Maka hasilnya menakjubkan. Ternyata pengalaman tersebut dapat menjadi rekaman peristiwa dan sebagai inspirasi untuk menulis. Kita sendiri akan takjub bahwa kita ternyata bisa menulis. Dan kita akan merasakan bahwa menulis itu mudah. Jadi tulislah apa yang kita tahu jangan tulis apa yang kita tidak tahu sehingga tidak memberatkan.
Kedua, sekali waktu, coba keluar dari aktivitas rutin sebagai guru. Suatu aktifitas yang dilakukan secara monoton pasti akan menjenuhkan. Ketika kita jenuh, maka pikiran akan sulit untuk berpikir, untuk mengeluarkan ide-ide cemerlang. Oleh karena itu luangkan waktu untuk keluar dari rutinitas harian. Dengan demikian, maka otak kita akan segar kembali. Otak yang segar akan menghasilkan ide-ide kreatif dan cemerlang.
Ketiga, akseslah internet dan perbanyak membaca. Untuk mendapatkan informasi yang banyak, maka kita harus banyak membaca. Dengan membaca kita memperoleh informasi-informasi baru sebagai sumber inspirasi. Selain itu, manfaatkan internet sebagai media mencari informasi sebanyak mungkin dan yang paling mutakhir. Karena internet menyedikakan beragam informasi yang sangat penting sebagai pendukung tulisan kita. Semakin banyak referensi semakin baik pula tulisan kita. Referensi juga dapat menggambarkan kualitas sebuah tulisan.
Keempat, bicarakan tulisan Anda dengan orang lain. Sebagai penulis, sudah selayaknya kita meminta pendapat orang lain tentang tulisan kita. Baik mengenai isi, gaya, tata bahasa dan lain sebagainya. Kita mesti terbuka terhadap pendapat, kritik maupun masukan demi kualitas tulisan kita. Kita harus mengakomodir pendapat orang lain sebagai masukan yang berharga agar tulisan kita makin bermutu.
Kelima, luangkan waktu khusus untuk menulis. Untuk menjadi penulis profesional, maka kita harus meluangkan waktu secara khusus dalam setiap saat untuk menulis. Menulis secara rutin akan mengasah keterampilan dan ketajaman dalam menulis. Penulis yang sudah kenamaan sekalipun kalau sudah lama tidak menulis, maka akan sulit memulai menulis lagi. Ibarat pisau yang tidak diasah, maka lama-lama menjadi tumpul. Jadikan menulis sebagai kebiasaan. Kebiasaan menulis inilah yang kelak tanpa disadari membantu kita berpikir sistematis dan lancar dalam mengemukakan pendapat.
Keenam, kerjakan aktifitas menulis dengan senang hati. Sebuah aktifitas apapun kalau dilakukan dengan senang hati hasilnya akan maksimal. Menulis yang dilakukan dengan senang hati akan menghasilkan tulisan yang terbaik dan orang yang menulis juga akan merasakan kepuasan batin yang tak terkira.
Menulis dan Manfaatnya
Bagi saya (Ratri Puspita, 2014), menulis memiliki sejumlah manfaat. Dan manfaat menulis didapat justru ketika saya sudah nyemplung di dunia kepenulisan. Apa saja?
Pertama, sarana berbagi.
Paulo Coello, novelis berkebangsaan Brasil, mengatakan bahwa “Writing means sharing. It’s part of the human condition to want to share things-thoughts, ideas, opinions.”
Ilmu, pemikiran, pendapat, ide maupun keahlian yang dimiliki bapak dan ibu guru dapat ditularkan kepada peserta didik dan orang lain melalui tulisan. Iya, sesimpel itu! Anda tidak perlu membuat alat peraga yang bikin kantong kempis. Cukup dengan menulis, bapak dan ibu guru sekalian bisa menyebar ilmu. Publikasikan karya Anda, baik itu karya tulis ilmiah maupun populer ke media seperti jurnal, majalah sekolah, buletin, surat kabar, majalah, tabloid, website edukasi, blog pribadi, hingga diterbitkan dalam bentuk buku cetak. Bila hal itu telah dilakukan, betapa Anda telah sangat berperan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pelajar di negara ini. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan dan para siswa, Indonesia akan menjadi negara besar yang disegani.
Kedua, karena peduli
Ibarat seorang pelari estafet, ketika tongkat estafet sampai ke tangan bapak atau ibu guru, selekasnya tongkat itu beralih tangan supaya cepat sampai tujuan. Tongkat estafet laksana ilmu pengetahuan yang telah ditransfer kepada Anda. Dengan menulis, bapak dan ibu guru memberikan ilmu yang telah diperoleh kepada rekan seprofesi, para murid, para orang tua, dan masyarakat yang membutuhkan ilmu yang dimiliki oleh bapak dan ibu guru saat ini. Menulislah demi kemanusiaan. Menulislah karena bapak dan ibu guru peduli akan masa depan generasi bangsa Indonesia. Ilmu bapak dan ibu guru tidak akan surut hanya karena berbagi, tetapi malah bertambah karena adanya masukan dan diskusi. Kompetensi sebagai guru pun akan meningkat, cakrawala berpikir kian luas, dan makin menguasai ilmu seiring kebiasaan menulis di dalam diri Anda.
Ketiga, menulis untuk menginspirasi
Ketika bapak dan ibu guru menulis, lalu karyanya dipublikasikan dan disambut banyak pihak, bukan mustahil akan mengundang rekan seprofesi untuk melakukan hal serupa. Apalagi bila banyak pihak mengapresiasi karya bapak dan ibu guru. Menulislah agar karya bapak dan ibu bisa menginspirasi orang lain, menggugah kesadaran sesama guru lain bahkan murid untuk berbuat sama. Tularkan virus yang bermanfaat. Tumbuhkan iklim akademik di lingkungan mengajar bapak dan ibu guru sekalian.
Buku Oase Pendidikan di Indonesia-Kisah Inspriratif Para Pendidik yang ditulis oleh delapan belas kontributor misalnya. Isinya banyak bercerita tentang lika-liku bergulat di dunia pendidikan. Masing-masing penulis membagi pengalaman mereka menciptakan kegiatan belajar yang kreatif, inovatif, dan berpihak kepada anak didik. Tidak saja menambah pengetahuan akan teknik mengajar, buku tersebut juga menginspirasi. Para penulisnya bisa membentuk jejaring sebagai sarana sharing sekaligus diskusi. Jejaring itu akan meluas, menguat, dan antar anggotanya bisa bertukar ilmu sekaligus pengalaman.
Keempat, menulis untuk mencerahkan
Kata “guru” di dalam Bahasa Jawa bisa diartikan sebagai sosok yang diguGU lan ditiRU. Profesi guru dan kompetensi pedagogi menjadi modal membuat tulisan yang mencerahkan hidup orang lain. Bapak dan ibu guru bisa membuat tulisan berdasar hasil penelitian tentang manfaat sampah bagi peningkatan pendapatan keluarga, penelitian akan khaziat buah-buah tertentu, atau penelitian pembuatan prototipe alat tepat guna. Tulisan bisa dibaca oleh siswa, guru, hingga masyarakat umum. Selain menjadi tulisan, hasil penelitian bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan.
Kelima, menulis untuk membebaskan
Nama Ki Hajar Dewantoro tetap dikenang karena dua hal: sebagai Bapak Pendidikan dan tulisan beliau. Semasa hidupnya, Ki Hajar Dewantara pernah bekerja sebagai jurnalis di tiga surat kabar: De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda. Menggunakan kepiawaiannya merangkai kalimat, Ki Hajar Dewantara mampu mengobarkan semangat antikolonialisme kepada seluruh rakyat Indonesia. Tulisannya yang terkenal berjudul Als Ik een Nederlander yang berisi sentilan kepada orang Belanda. Rakyat Indonesia tergugah kemudian berani berjuang mengusir penjajah. Indonesia pun terbebas dari belenggu penjajahan. Merdeka. Dengan menulis, kita bisa membebaskan diri kita dan orang-orang di sekitar kita dari penjajahan dalam bentuk apa pun yang menyebabkan kebodohan, ketertinggalan, kemelaratan, dan penipuan.
Keenam, menulis sebagai brand
Apa yang ingin orang lain pikirkan tentang diri Anda? Tentunya Anda ingin dikenal sebagai sosok yang istimewa di mata orang lain, sejawat utamanya. Dengan menulis, dengan prestasi yang Anda miliki, dengan kompetensi di luar profesi Anda sebagai guru, Anda bisa membangun image positif.
Keuntungannya? Pertama, Anda akan dikenal sebagai sosok guru yang keren dan hal itu akan meningkatkan nilai jual Anda di masyarakat. Kedua, karir keguruan meningkat seiring dikenalnya brand Anda. Bapak dan ibu guru sekalian bisa diundang sebagai pembicara seminar/pelatihan/workshop, dihire menjadi guru les, diundang ke acara televisi sebagai nara sumber, diundang jadi pembedah buku, sampai mendapat kesempatan belajar melalui program beasiswa prestasi. Lebih dari itu, bapak dan ibu guru pun akan dipandang sebagai sosok guru profesional yang mumpuni di bidangnya.
Semoga !!!










