Hanya saja, komentar O’Reilly itu boleh jadi tidak akan mengherankan bagi mereka yang akrab dengan sejarah yang dibahas itu.
Seperti halnya Edward L Ayers, Presiden Emeritus Universitas Richmond, yang menjelaskan kepada majalah TIME, yang dilansir oleh BBC, bahwa pemikiran tentang orang-orang yang menjadi budak di Amerika diberi makan yang cukup dan dirawat dengan baik merupakan satu di antara bentuk rasionalisai yang paling tua terhadap sejarah perbudakan di negara itu.
Untuk memahami bagaimana hal itu terjadi, kata Ayers, silakan menoleh ke dekade 1830-an, “suatu periode yang sangat penting dalam sejarah perbudakan Amerika.” Pada masa itu, mulai tampak ada kemungkinan bahwa perbudakan mungkin tengah menuju ke arah penghapusan: Pemberontakan Nat Turner pada 1831 membuat takut para pemilik budak, Virginia mempertimbangkan untuk memerdekakan budak di negara bagian itu, dan para penganut abolisionisme radikal, yang menuntut penghapusan perbudakan pada saat itu juga, mulai lebih banyak menarik perhatian dari seluruh pelosok negeri. Akan tetapi, pada saat yang sama, nilai ekenomis para budak mulai berubah: seiring dengan kian meluasnya penggunaan mesin pemisah biji kapas, tanaman yang biasanya dikaitkan dengan perbudakan, maka nilai budak pun menjadi berlipat ganda bagi para pemilik perkebunan, yang berarti bahwa para budak yang tidak bekerja pun menjadi berlipat pula nilainya. Mereka yang memperoleh keuntungan dari sistem tersebut memiliki semua alasan bagi diteruskannya perbudakan, dan memiliki alasan untuk mengkawatirkan bahwa hal itu mungkin tidak akan terlaksana.
Dengan demikian mereka yang ingin mempertahankan perbudakan harus memikirkan cara untuk mempertahankannya sebagai suatu kebaikan, terutama untuk menghadapi mereka yang menentang perbudakan berdasarkan argumentasi moral, bukan argumentasi ekonomi. Salah satu alasan yang digunakan adalah alasan keagamaan, yakni bahwa mereka yang diperbudak telah diperkenalkan kepada agama Kristen. Alasan utama lainnya adalah bahwa budak-budak di Amerika lebih sejahtera, dalam hal kondisi kehidupan mereka, dibandingkan jika mereka tetap berada di Afrika atau negara-negara yang menganut perbudakan lainnya. Pikiran seperti itu kemudian disederhanakan oleh orang seperti Thomas R. Dew, yang menulis pada 1832 bahwa “Makhluk yang lebih ceria dari budak negro di Amerika Serikat tidak dapat di temukan tempat lain di bumi ini” dan bahwa “budak dari tuan yang baik” itu “sudah terbiasa memandang tuannya sebagai penyokong, penuntun dan pembela mereka.” (Bahkan pada masa itu, argumen Dew mendapatkan kecaman pedas.)










