“Ketika pembelaan kubu pro-perbudakan semakin mengkristal,” kata Ayers, “kesejahteraan materi dari para budak di Amerika Serikat selalu ditonjolkan sebagai contoh kedermawanan hati orang Amerika.”
Apa yang dinamakan kesejahteraan itu sendiri tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh para pendukung perbudakan. Sebagai contoh, jika para budak di Amerika hidup lebih lama dibanding budak di tempat lain, itu bukan pertanda bahwa perbudakan merupakan lembaga yang murah hati. Hal itu hanya menandakan bahwa nilai ekonomi kapas itu begitu tinggi sehinga, sebagaimana dikatakan Ayers, “para budak tidak perlu dipaksa bekerja sampai mati.” Dan, seperti dikemukakan sejarawan Caleb McDaniel pada Rabu lalu, “sedikit kelebihan dalam hal kondisi kehidupan, makanan [dan] tempat tinggan, itu diperoleh melalui perjuangan, bukan pemberian suka rela.”
Namun, argumentasi kesejahteraan-materi itu ternyata tetap bertahan walaupun institusi perbudakan itu sendiri sudah berakhir–kalaupun bukan sebagai pembenaran, ketika praktik perbudakan dihapus, maka argumentasi itu dijadikan catatan kaki yang oleh sebagian orang dianggap digunakan untuk meringankan beban kejahatan yang telah dilakukan. Dengan demikian, dalam konteks seperti itu, tidaklah mengherankan jika menyaksikan ide tersebut menjadi headline lebih dari satu abad kemudian. “Jika Anda melakukan tour ke perkebunan-perkebunan, maka mereka sering mengatakan, ‘Nah, di sinilah para budak itu diperlakukan dengan baik,'” tulis Ayers dengan nada getir.
“Tempat ini selalu menjadi perkecualian.”
Namun, bukan itu masalahnya.
“Tidak peduli bagaimanapun berkecukupannya [para budak], dalam hal nutrisi atau apapun,” kata Ayers, “Anda bisa saja bangun suatui hari nanti dan mendapati putra-putri Anda sudah laku terjual.”










