INIPASTI.COM, Sagaing – Myanmar — Myanmar dilanda gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 pada Jumat, 28 Maret 2025, pukul 12:50 waktu setempat. Gempa yang berpusat di dekat kota Sagaing, hanya 10 km di bawah permukaan, menyebabkan kerusakan parah di wilayah tengah negara itu, termasuk Mandalay dan Naypyidaw. Hingga Minggu pagi, 30 Maret 2025, junta militer melaporkan sedikitnya 694 orang tewas dan 1.670 lainnya luka-luka, meskipun jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring berlangsungnya evakuasi.
Di tengah minimnya peralatan berat dan terbatasnya akses bantuan akibat isolasi politik Myanmar, penduduk setempat terpaksa mengambil inisiatif sendiri. Di Mandalay, kota terbesar kedua yang berjarak 60 km dari episentrum, warga dilaporkan menggali reruntuhan bangunan yang runtuh menggunakan tangan kosong untuk mencari korban selamat. “Kami mendengar jeritan dari bawah puing, tapi tak ada alat yang cukup. Kami hanya bisa pakai tangan,” ujar seorang saksi mata di lokasi, yang turut membantu upaya penyelamatan.
Gempa ini juga memicu kerusakan infrastruktur signifikan, termasuk jalan retak di Naypyidaw dan runtuhnya bangunan bersejarah seperti Jembatan Ava di Mandalay. Layanan listrik dan komunikasi lumpuh di banyak wilayah, sementara rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien. Junta militer telah menyatakan status darurat di enam wilayah—Sagaing, Mandalay, Magway, Bago, Shan Timur, dan Naypyidaw—serta meminta bantuan internasional, langkah yang jarang dilakukan mengingat isolasi mereka pasca-kudeta 2021.
Dampak gempa tak hanya terasa di Myanmar. Getaran kuat mencapai Bangkok, Thailand, menyebabkan gedung-gedung runtuh dan menewaskan sedikitnya 10 orang, dengan puluhan lainnya masih hilang di bawah puing. Otoritas Thailand menetapkan status darurat di ibu kota, sementara tim penyelamat berpacu melawan waktu.
Hingga kini, upaya penyelamatan di Myanmar masih terkendala logistik dan minimnya koordinasi. Banyak organisasi kemanusiaan menyatakan kesulitan mengakses wilayah terdampak akibat pembatasan ketat junta. “Kami ingin membantu, tapi akses sangat terbatas,” ungkap seorang relawan dari organisasi lokal.
Gempa ini, yang dipicu aktivitas Sesar Besar Sagaing, menjadi salah satu bencana terburuk di Myanmar dalam beberapa dekade. Masyarakat internasional kini mengawasi situasi, sementara warga Myanmar terus berjuang menyelamatkan sesama dengan segala keterbatasan yang ada.










