Gen Kekuasaan

ilustrasi, google images

INIPASTI.COM – Matahari dan bulan adalah ekspresi waktu. Waktu dinyatakan dalam bulan dan hari. Siapa yang berani melawan waktu, ia sedang melawan kekuatan matahari dan bulan yang amat menakutkan. Matahari dan bulan disimbolkan sebagai dewa-dewi, sesuatu yang mengandung harapan besar. Manusia menyimpan harapan pada waktu, pada bulan, pada matahari.

Matahari dan bulan adalah tempat pelarian entitas manusia. Terutama ketika mereka sedang mengalami semacam kemelaratan, dan kehinaan. Semula entitas manusia (masyarakat) menyerahkan diri dan mengeluh atas kemelaratan dan kehinaannya kepada kekuasaan. Tetapi jika rakyat tidak bisa menemukan tempat untuk mengeluh pada ruang-ruang kekuasaan, mereka akan menatap bulan, akan melirik matahari, untuk menyimpan kekesalan. Bahkan untuk menumpahkan kemarahan.

Bila masyarakat menangis sambil menatap bulan, mengais-ngais bumi, dan berharap pada matahari, itu pertanda kekuasaan akan segera mati. Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya kekuasaan akan segera mengalami kehancuran, kekuasaan sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah, kebenaran mulai terancam.

Kalau pengetahuan sudah kehilangan kekuatan atas kekuasaan, maka kekuasaan dikabarkan akan segera lenyap. Dan kalau pengetahuan mulai tunduk kepada kekuasaan, maka kehidupan yang akan segera berakhir. Itu sebabnya orang berpengetahuan diuji dengan dua perkara: pertama, kematian sehingga menyebabkan pengetahuannya sirna; kedua, tunduk pada penguasa, sehingga ilmunya menjadi tumpul. Merujuk pada para mualim, penguasa yang mulia adalah pemimpin yang peka terhadap sintesa pengetahuan, dan kekuasaan yang langgeng adalah kekuasaan yang berhati-hati terhadap proposisi pengetahuan.

Semua orang yang hendak berkuasa akan banyak janji untuk menanggung semua kemalangan, dan nasib buruk masyarakat yang dikuasainya. Tapi watak kekuasaan justru akan mengkapitalisasi nasib malang warganya. Tujuannya untuk memperkokoh kekuasaan yang dimilikinya, agar pengikutnya terus mengalami ketergantungan permanen terhadap kekuasaan. Ujian yang paling tinggi bagi orang-orang yang berfikir ideal adalah kekuasaan. Jika Anda ingin menguji watak manusia, coba beri dia kekuasaan.

Baca Juga:  Parpol Koalisi Prabowo-Sandi Larang Kepala Daerah Jadi Timses

Meskipun kekuasaan itu memiliki sifat dasar yang buruk bagi nilai-nilai kebudayaan manusia. Akan tetapi, kekuasaan sangat dibutuhkan untuk menjamin kenyamanan social dan keadilan ekonomi. Kekuasaanlah yang mengatur ritme politik, kekuasaan pula yang menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Inilah hasil barter politik antara masyarakat yang memilih dengan pemimpinnya. Karena kekuasaan itu diproduksi oleh public, maka yang paling berhak mengontrol kekuasaan adalah public itu sendiri.

Karena masyarakat membutuhkan kekuasaan, apa yang harus dilakukan oleh masyarakat untuk menjamin kekuasaan yang berkemanusiaan dan berkeadilan social? Masyarakat harus bisa memastikan dan sekaligus menghindari watak buruk kekuasaan. Pertanyaannya, bagaimana publik dapat mengawal dan mengontrol kekuasaan untuk menghindari kesewenangan logika kekuasaan?

Begitu pentingnya control terhadap kekuasaan, ada pameo dikalangan penganut filsafat kekuasaan: jika anda harus melanggar hukum, lakukanlah untuk merampas kekuasaan yang tidak adil; untuk kasus-kasus lain pelajarilah lebih matang. Pameo ini mengingatkan public untuk terus menerus terlibat dalam control kekuasaan. Kekuasaan tidak boleh dibiarkan melenggang sendiri. Karena kekuasaan yang tidak dikontrol akan berubah menjadi tirani. Peduli public dalam kehidupan bersama adalah kata kunci untuk mewujudkan kekuasaan yang adil, kekuasaan dengan semangat mencintai. Kekuasaan itu harus berdaulat terhadap cinta. Karena, saat cinta berdaulat, tidak ada keinginan untuk menguasai, dan saat kekuasaan berkuasa, cinta berkurang.

Kekuasaan yang dibumbui dengan rasa cinta, akan memproduksi keadilan dan kenyamanan social. Kenyamanan social harus tumbuh dari benih hukum dan akal sehat. Kenyamanan tidak boleh berkembang berdasarkan senjata dan semangat menguasai. Karena sesungguhnya okupasi yang dilakukan dengan senjata adalah penindasan yang sempurna. Itu sebabnya, kekuasaan juga tidak boleh terbiasa dengan terlalu mencintai diri sendiri, kelompok, ras dan identitasnya (selfish), karena akan menghasilkan kecongkakan buta, dan kecongkakan menciptakan kesukuan, dan kesukuan membangun kekuasaan, dan kekuasan penyebab penaklukan dan penindasan.

Baca Juga:  Perbedaan Pileg 2014 dan 2019 di Dapil "Neraka"

Namun, salah satu kemahiran kekuasaan adalah kemampuannya memproduksi, mereproduksi, me-maintanance, dan memperluas kekuasan atau dirinya sendiri. Dawkins (1989) menyebut peristiwa ini sebagai kapasitas replikator. Replikator adalah suatu molekul yang mampu mereplikasi dirinya sendiri. Replikator ini kemudian membentuk koloni-koloni dan membuatkan dirinya suatu alat yang menjamin kelangsungan keberedaannya. Dalam kekuasaan peristiwa ini disebut sebagai mesin kelestarian kekuasaan, yang mana para replikator ini adalah kekuasaan itu sendiri. Mesin kelestarian kekuasaan itu ibarat organisme-organisme purba dan juga organisme-organisme yang muncul belakangan. Mereka membentuk semacam estafet dalam menjaga ‘tuan’nya, sang replikator tadi.

Akan tetapi, hukum alam memutuskan secanggih apapun kemampuan aplikator (kekuasaan) mereplikasi dirinya, kekuasaan tidak memiliki kemampuan yang utuh, terdapat satu ciri penting yang harus kita ketahui yakni replikasi tidaklah sempurna dan kesalahan akan selalu mungkin terjadi. Kesalahan-kesalahan yang terakumulasi ini merupakan salah satu penyebab terjadinya evolusi kekuasaan. Dari sudut pandang kekuasaan modern dan organisme yang muncul belakangan akan beranggapan bahwa kesalahan replikasi itu baik agar terjadi evolusi, ini karena kita merupakan produk dari evolusi dan merasakan kebaikan-kebaikanya. Namun dari sudut pandang gen, tidak ada yang ingin berevolusi. Evolusi adalah proses yang terjadi tanpa gen dapat mencegahnya.

Dengan menjabarkan terlebih dahulu bahwa pentingnya kesalahan replikasi, maka kita dapat dengan mudah memahami bahwa tujuan besar dari gen adalah memperbanyak diri dalam lumbung gen. Organisme yang ditumpanginya mungkin akan segera mati, namun gen harus memastikan bahwa ia telah tereplikasi melalui proses perkawinan organismenya dengan organisme yang lain. Proses perkawinan ini merupakan proses mencampur-adukkan dan pengocokan gen dari masing-masing induk. Sekali lagi, organisme hanya sebagai tumpangan sementara dari gen.

Baca Juga:  Besok, Romi Berkunjung ke Makassar

Persis dengan dunia kekuasaan, persilangan kepentingan kekuasaan dalam berbagai bentuk: dukung-mendukung, koalisi, hybridisasi partai politik, identitas, suku, ras dan agama hanyalah untuk memastikan kekuasaannya terus tereplikasi, kekuasaannya terus terjaga, kekuasaannya terus berkesinambungkan. Wadah politiknya (partai politik misalnya) bisa segera mati, sebagaimana matinya organisme tempat gen mereplikasikan dirinya, tetapi kekuasaan terus harus terjaga dengan berbagai symbol dan habitus yang dimilikinya. Bahkan dalam sejarah kekuasaan ada yang disebut sebagai gen kekuasaan yang egois, yang memiliki watak permanen untuk menjaga dan memperluas kekuasaannya. (bersambung, imf).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.