INIPASTI.COM, ESAI— Di sebuah warung kopi yang bising oleh suara knalpot dan tawa para penutup hari, seseorang pernah bertanya kepadaku: “Mana yang lebih berbahaya, gigi palsu atau ijazah palsu?” Aku diam sejenak, menyeruput kopi yang sudah dingin, lalu tersenyum kecil. Pertanyaan itu seperti cermin yang retak—menggoda untuk dilihat, tapi sulit dijawab tanpa membiarkan bayangan kita sendiri ikut terpotong.
Gigi palsu, katakanlah, adalah penutup luka kecil dari waktu. Ia hadir karena usia, karena kecelakaan, atau karena kita tak cukup rajin menyapa sikat gigi di pagi hari. Ada sesuatu yang manusiawi di dalamnya: kelemahan yang diterima, lalu ditambal dengan sesuatu yang tak lagi asli. Ia tak berbicara banyak, hanya diam di mulut, membantu kita mengunyah hidup yang kadang terlalu keras. Tapi gigi palsu tak pernah berpura-pura menjadi lebih dari yang ia bisa. Ia tak menjanjikan kekuatan rahang singa atau senyum sempurna seorang bintang film. Ia sekadar ada, seperti topi tua yang dipakai karena rambut sudah menipis.
Lain halnya dengan ijazah palsu. Benda ini bukan sekadar penutup luka, melainkan jubah yang dipakai untuk menyelinap masuk ke ruangan-ruangan yang seharusnya terkunci. Ia tak hanya berbohong tentang apa yang kita miliki, tapi juga tentang siapa kita. Gigi palsu mungkin menipu mata, tapi ijazah palsu menipu pikiran—dan lebih jauh lagi, menipu harapan. Bayangkan seorang dokter dengan stetoskop di leher dan ijazah dari pasar gelap di laci mejanya. Ketika tangannya menyentuh pasien, apakah yang kita rasakan: kepercayaan atau getaran kecil dari ketidakpastian?
Tapi jangan buru-buru menghakimi. Di balik gigi palsu dan ijazah palsu, ada cerita yang sama tuanya dengan manusia: keinginan untuk bertahan. Gigi palsu lahir dari rasa malu atau kebutuhan makan; ijazah palsu dari rasa lapar akan status atau pintu yang tak kunjung terbuka. Keduanya adalah cermin dari dunia yang tak selalu adil—di mana yang asli sering kalah cepat oleh yang palsu, dan yang jujur kadang tertinggal di belakang yang pandai berpura-pura.
Aku teringat seorang teman, katakanlah namanya Budi, yang pernah membeli ijazah palsu demi sebuah pekerjaan. Ia tak bangga, tapi ia bilang, “Aku tak punya waktu untuk sekolah lagi, dan anakku harus makan.” Budi tak jadi dokter atau insinyur; ia hanya jadi pegawai kecil di kantor yang tak terlalu peduli pada keaslian kertas. Ijazah itu baginya seperti gigi palsu: tak indah, tapi cukup untuk menggigit hidup.
Lalu aku bertanya pada diri sendiri: apakah kebohongan itu selalu jahat? Atau adakah saat di mana yang palsu justru menjadi jalan keluar dari labirin yang tak kita pilih? Mungkin jawabannya tergantung pada apa yang kita kunyah dengan gigi itu, atau apa yang kita bangun dengan ijazah itu. Tapi di warung kopi itu, aku tak menjawab pertanyaan tadi. Aku hanya memesan satu gelas lagi, membiarkan asap rokok tetangga meja mengaburkan pikiran. Hidup, seperti kopi, kadang lebih mudah dinikmati ketimbang dijelaskan. (Grku)
Dimuat di inipasti.com










