ANKARA – Presiden Turki Tayyip Erdogan, telah lepas dari upaya kudeta. Boleh dikata, dia telah menang melawan musuh-musuhnya dan dengan cepat kembali memulihkan kekuasaannya. Tapi kudeta militer yang gagal itu telah terlanjur berdampak dengan menyebabkan polarisasi bangsa dalam kekacauan.
Pergolakan yang terjadi pasca kudeta pada Jumat malam pekan lalu, masih jauh dari selesai. Karena kejadian itu telah menjadi trauma bangsa dan menyebabkan kerusakan, terutama karena selama ini, kekuatan militer dilihat sebagai landasan stabilitas di negara yang tengah memerangi pemberontakan Kurdi.
“Pada akhirnya, Erdogan dan para pendukungnya memenangkan (perlawanan terhadap kudeta), tetapi tidak untuk jangka panjang,” tulis Hugh Pope dan Nigar Goksel dari International Crisis Group, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters. Mereka meramalkan bahwa “kerusakan yang ditimbulkan oleh militer – lebih sulit daripada sebelumnya, mengingat gejolak di kawasan Turki – akan berat.”
Erdogan dan Partai AK yang berkuasa, berakar dalam politik Islam. Mereka menuduh ulama Turki Fethullah Gulen -mantan sekutu Erdogan, telah berubah menjadi oposisi dan mendalangi kudeta tersebut. Saat ini Gulen diduga berada di Amerika Serikat, dan pihak Erdogan menuntut ekstradisi sang penjahat dari Amerika Serikat.
Langkah yang dilakukan oleh sebuah faksi di dalam militer, telah memicu timbulnya gerakan nasionalis dan Islamis yang mendukung Erdogan, yang telah menyebabkan munculnya perlawanan keras. Ribuan lawan telah dibersihkan dari lingkungn militer dan pengadilan, perguruan tinggi dan kantor pemerintah
Sebanyak 35.000 anggota militer, polisi, peradilan, dan pegawai pemerintah telah ditahan karena dicurigai menjadi Gulenist -pengikut Gulen. Sebanyak 230 Gulenist lainnya telah tewas.
Pembersihan juga dilakukan ke sektor pendidikan. Semua dekan pada universitas diperintahkan untuk mengundurkan diri, sementara lisensi dari 21.000 guru sekolah swasta dicabut.
Pada peristiwa kudeta dan pasca kudeta, sekitar 1.400 orang terluka akibat serangan tank, helikopter dan pesawat tempur. Para pembelot juga telah berupaya parlemen, markas intelijen, serta mencoba untuk merebut bandar udara utama dan jembatan di Istanbul.
“Ini adalah trauma dan semua trauma itu akan mewarnai segala sesuatu yang akan terjadi berikutnya,” kata Hakan Altinay dari Brookings Institution Washington.
Altinay juga meyakini bahwa Erdogan dan pendukungnya akan memanfaatkan insiden tersebut untuk membersihkan semua lini kekuasaan dari orang-orang yang tidak mereka inginkan. “Ini adalah hal yang sangat serius dan mereka tidak memerlukan membuang-buang energi untuk itu,” kata Altinay.










