Penulis: Ihsan Al Mandari (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)
Melaporkan dari Mamuju Sulbar
CITIZEN REPORTER – Hari ke- 3 lebaran Idul Fitri 1437 Hijriah/ Jumat 8 Juli 2016, masyarakat Mamuju masih ramai melakukan kunjungan silaturahmi ke sanak keluarga. Bersilaturrahmi dan saling menyapa menjadi semarak dikalangan
Bukan hanya maaf memaafkan di hari lebaran tapi budaya bersilaturahmi dengan mendapatkan uang/ampao dari keluarga yang memiliki harta lebih juga sangat kental. Khususnya di Mamuju budaya itu dikenal dengan ziarah uang
Ziarah uang adalah kebiasaan yang dilakukan oleh anak-anak mulai dari usia 5-10 tahun yang dilakukan pada saat perayaan lebaran, mereka mendatangi rumah-rumah warga untuk mendapatkan uang dengan berbagai kisaran ada yang 2000 rupiah, bahkan 50.000 rupiah.
Tergantung dari tuan rumah yang memberikan. Hal ini terjadi pula pada anak-anak Lingkungan Kalubibing Talibu, kel.Mamuyu, kec.Mamuju, Kab.Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.
Biasanya selepas salat Idul Fitri anak-anak kecil mulai bersiap untuk mendatangi rumah-rumah warga baik yang mereka kenal ataupun sebaliknya. Ada yang jalan sendiri, ada pula berkelompok. Dengan kepolosan mereka, tanpa malu-malu menyebut dirinya datang bersilaturahmi untuk mendapatkan uang.
“Anak-anak sekarang bukan mi ziarah kue, tapi uangmi. Baru didepan rumah teriakmi semua. ‘”Assalamualaikum tante ziarah uangka” ujar Andi (30) warga Mamuju.
Meskipun begitu tuan rumah juga menjadikan moment ini sebagai aktifitas sedekah atas rezeki yang Allah SWT berikan, karna anak-anak ini kalau sudah remaja juga tidak ikut berziarah uang lagi. Mereka merasa bukan masanya lagi. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, namanya juga anak-anak. Inilah moment bagi mereka untuk merayakan hari kemenangan. Perlu dibudayakan asalkan tidak dipaksakan, tambah Andi
Tidak tanggung-tanggung anak-anak bahkan membawa dompet berukuran kecil untuk menampung uang yang mereka peroleh. Hasil ziarahnya pun beragam ada yang mendapatkan 50.000 ribu perhari bahkan 100.000 perhari. Hasil yang mereka dapatkan biasanya untuk ditabung atau membeli mainan kesukaan mereka.
“Biasanya per rumah itu om 2000 rupiah ada juga 50.000 rupiah, dikasi masuk di dompet-dompet kecil, uangnya nanti di tabung, tapi biasa kupake beli tembak-tembak (mainan),” ujar Erwin (7) salah seorang peziarah uang.
Hal berbeda diungkapakan salah seorang warga Mamuju Aidil (23) yang mengatakan anak-anak sekarang berbeda dengan dulu. Kalau dulu kita berziarah ikhlas berkunjung dan makan kue lebaran. Sekarang anak-anak sudah orientasinya kepada uang, baru depan rumah teriakmi minta uang.
Setelah diberi uang mereka langsung pulang tanpa mencicipi kue lebaran. Jangan sampai budaya silaturahmi luntur dikalangan generasi muda dengan adanya budaya ziarah uang. Meskipun begitu mungkin inilah zamannya mereka ungkapnya.










