Mehrnoush Pourziaiee, BBC Persia
TIGA tahun kemudian, cuplikan video dari seorang anak kecil lainnya di Aleppo menyebar lewat media. Omran, yang beusia sama dengan perang di Suriah, tidak punya kenangan tentang kedamaian.
Dia bersama keluarganya juga diselamatkan dari reruntuhan bangunan oleh relawan Helm Putih, hanya sepuluh hari pascakematian Khaled. Dia duduk diam di kursi belakang ambulans dan menyapu darah yang membasahi wajahnya tanpa mengeluarkan suara.
Kali ini, tidak ada “bayi ajaib”. Hanya ada Omran dengan wajahnya yang terkesima, yang kita saksikan dan membuat kita bertanya-tanya bagaimana bisa seorang anak berusia lima tahun bertingkah seolah-olah tidak ada apa-apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Mengapa dia tak mengucapkan sepatah katapun? Kenapa dia tidak minta apa-apa, mencari siapa-siapa?
Saya kira saya tahu jawabannya. Saya berusia dua tahun lebih tua dari Omran ketika perang Iran-Irak pecah.
Pada mulanya, kami mengira perang hanya merupakan jeda singkat dari kehidupan normal kami. Kami akan bersembunyi, kami akan menagis, kami akan menghitung jumlah korban. Lama-lama kami sadar bahwa penderitaan itu ternyata bukan sekadar jeda sementara.
Perang Iran-Irak berlangsung delapan tahun. Kadang-kadang, dalam kurun waktu delapan tahun itu, di antara 2.887 hari itu, kami berhenti menunggu–menunggu seseorang untuk datang, menunggu perang untuk berhenti.
Saya masih ingat dengan jelas saat sedang berdiri di halaman sekolah bersama teman-teman sekelas sambil memandang ke angkasa dan dengan tenang mengamati pesawat pengebom, menghitung berapa jumlahnya dan jumlah bom yang dijatuhkannya yang sempat kami lihat. Suasananya tidak jauh berbeda di rumah.
Setiap malam kami duduk di atas lantai di sekitar sofa bersama kedua orang tua dan saudara-saudara sambil makan malam dan mendengarkan penyiar berita Irak yang dengan marah membacakan daftar kota yang akan dibom keesokan harinya. Kami tidak peduli lagi apakah kota kami termasuk dalam daftar kota yang akan dibom, meski biasanya kota kami hampir selalu masuk daftar.
Kami duduk di sana, menyantap makanan kami, berdiri dan melanjutkan kegiatan sehari-hari atau kegiatan malam kami. Kami tidak berkemas-kemas, kami tidak panik. Kami hanya menunggu jatah kematian harian yang dibagi-bagikan.
Dalam tiga tahun, orang beralih dari menyebarluaskan foto “bayi ajaib” menjadi berbagi foto Omran dengan wajah linglung dan mati rasa. Masih ada 100.000 anak kecil yang hidup di bagian timur Aleppo yang setiap hari mengalami pengeboman, tanpa setitik pun harapan muncul dari cakrawala. Tak setitikpun. Dari segelintir pemberani yang atas kemauan sendiri memikul tugas menyelamatkan anak-anak semampu mereka pun akhirnya ikut pula mati, tanpa ada yang datang menggantikan mereka menemban tugas.
Itulah realitas baru saat ini yang kita jauhkan diri kita darinya.










