Dia mendapati putranya sedang duduk di atas tempat tidur dengan mata merah terbelalak menatap ke kejauhan, iPadnya tergeletak menyala di sampingnya. Dia terlihat seperti sedang menerawang jauh. Meski sedang panik, Susan berusaha mengguncangkan tubuh anaknya berulang kali untuk menyadarkannya. Dia bingung, tidak mengerti bagaimana anaknya yang dulu sehat dan bahagia itu sekarang mengalami ketergantungan kepada game dan duduk mematung dengan pandangan kosong.
Ternyata ada alasan mengapa orang tua yang paling berhati-hati terhadap teknologi adalah mereka yang justru bekerja sebagai perancang dan insinyur teknologi. Steve Jobs terkenal sebagai low tech parent–orang tua yang mendidik tanpa gadget. Para pejabat eksekutif dan insinyur Silicon Valley menyekolahkan anak-anak mereka di Waldorf School yang juga tidak menggunakan gadget dalam proses belajar mengajar. Pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah non-teknologi Montessori Schools, seperti yang juga dilakukan oleh kreator Amazon Jeff Bezos dan pendiri Wikipedia Jimmy Wales.
Banyak orang tua yang secara naluriah memahami bahwa layar bercahaya yang ada di mana-mana itu memiliki dampak negatif terhadap anak-anak. Kita melihat luapan amarah anak-anak yang sangat besar ketika gadget mereka diambil dan anak-anak yang tampak seperti kehilangan akal ketika otak mereka tidak mendapatkan stimulasi dari gadget mereka yang begitu nikmat. Lebih buruknya lagi, kita melihat anak anak menjadi jemu, apatis, tidak menyenangkan dan tidak tertarik kepada apapun pada saat tidak menggunakan gadget.
Pengaruh gadget ternyata bahkan jauh lebih buruk dari yang kita kira.
Sekarang kita tahu bahwa iPad, Smartphone, dan Xbox dapat digolongkan sebagai digital drugs atau narkotik digital. Penelitian tentang neuro imaging–pemetaan dalam otak–baru-baru ini menunjukan bahwa gadget ternyata memengaruhi korteks bagian depan otak–yang mengontrol fungsi tindakan, termasuk kontrol impuls–dengan cara yang sama persis dengan kokain. Gadget membangkitkan rasa nikmat yang begitu besar sehingga meningkatkan level dopamine–zat neurotransmitter yang membangkitkan rasa nikmat yang paling banyak ditemukan dalam kasus kecanduan–yang sama dengan level dopamine akibat seks.
Efek kecanduan inilah yang membuat Dr Peter Whybrow, Direktur Neuroscience UCLA, menyebut layar gadget ‘kokain elektronik’ dan peneliti dari China menyebutnya ‘heroin digital’. Sebenarnya, Dr. Andrew Doan, kepala riset kecanduan Pentagon dan Angkatan Laut AS–yang sudah melakukan penelitian terhadap kecanduan video game–menamakan video game dan gadget yang memiliki layar itu digital pharmakeia (bahasa Yunani yang berarti ‘obat’).
Bersambung ke hal 3










