Oleh : Muhammad Zaiyani
Tragedi JT-610
INIPASTI.COM – Belum hilang rasanya hiruk pikuk gempa Lombok dan gempa Palu, kita kembali berduka dengan musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 yang membawa 189 penumpang. Kecelakaan terburuk dalam sejarah penerbangan di Indonesia dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Akibat kecelakaan ini, akhirnya Menteri Perhubungan Budi Karya meminta Garuda Indonesia dan Lion Air meninjau ulang pengadaan (pesawat baru) Boeing 737 Max 8 dan meminta penjelasan teknis dari produsennya di Amerika serta memberhentikan direktur teknik Lion Air sebagai bentuk tanggungjawab moral kepada masyarakat.
Rasa empati, kasihan, simpatik, dan prihatin terus mengalir dari rakyat Indonesia. Di samping rasa duka yang mendalam, kita semua berlomba-lomba meneruskan berita-berita di media sosial tanpa menyelidiki kebenaran berita-berita tersebut. Kita seakan tidak mau didahului oleh BASARNAS dan KNKT me-release foto-foto dan atau video-video tanpa menyelediki kebenaran data-data tersebut. Manifest penerbangan, percakapan pilot dan ATC, video suasana zikir dalam cabin, cerita penumpang yang ketinggalan pesawat tersebut, hingga berita tentang pembiayaan pembelian pesawat tersebut oleh negara, yang ujungnya menyalahkan presiden, berseliweran di media sosial. Berita di media sosial lebih cepat tersebar dibandingkan berita dari media mainstream yang lebih real.
Menyikapi kejadian ini, kebanyakan dari kita adalah melihat dari sisi tragisnya peristiwa ini saja. Membicarakan sebab-musabab, meng-exploitasi tangisan-tangisan keluarga yang ditinggal, menggali firasat-firasat dari kerabat korban, mengeritik cara kerja stake-holder terkait, bahkan ada juga yang mengaitkan dengan peristiwa pembakaran bendera dan hukuman dari Allah SWT. Bahwa jika semua sikap ini adalah dalam rangka untuk perbaikan di masa yang akan datang, maka itu adalah suatu kebaikan, dan semuanya adalah sah-sah saja.
Sabar, adalah sikap yang paling baik bagi keluarga yang ditinggalkan, karena seandainya manusia mengetahui nikmat Allah SWT di balik musibah yang terjadi, maka di balik musibah itu sesungguhnya terkandung suatu kenikmatan yang nilai kebaikannya sama derajatnya bagi orang-orang yang mendapatkan kenikmatan di sisi Allah SWT, sehingga ia akan senantiasa tetap bersyukur kepada Allah SWT.
Hadits Rasulullah SAW : “Kalau Allah SWT memberikan ujian dalam bentuk kebaikan lalu orang beriman itu menyikapi dengan rasa syukur kepada Allah SWT maka itu adalah kebaikan. Dan sebaliknya jika Allah SWT memberikan ujian dalam bentuk musibah kesengsaraan lalu orang beriman itu bersabar kepada Allah SWT berbesar jiwa dengan apa yang dihadapi maka itu juga sesungguhnya adalah kebaikan. sehingga sabar dan syukur hasil akhirnya adalah kebaikan bagi orang-orang yang beriman.
Husnul Khatimah
Peristiwa jatuhnya JT-610 adalah peristiwa yang sangat tragis, namun para korban adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk menghadapNya dalam kedaan yang baik (Husnul Khatimah). Dalam prosesnya kita bisa membayangkan bagaimana paniknya para penumpang yang berada dalam situasi tersebut. Bisa dipastikan dalam kondisi tersebut, semua penumpang akan melakukan zikir dan berserah diri kepada Allah SWT. Kalimat-kalimat Allahu Akbar, Laahawla walaaquwwata illabillah, Laa ilaaha illallah, dan kalimat tauhid lainnya pastilah secara spontan dilantunkan oleh penumpang dan seluruh kru pesawat sebagai bentuk penyerahan dirinya kepada Allah SWT. Bukankah kita tau bahwa “Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah Laa ilaaha illallah, maka dia akan masuk surga”. Demikian hadits riwayat Abu Daud.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dihadapkan pada berbagai macam bentuk kematian yang kelihatannya mengerikan. Kematian karena tenggelam seperti kejadian JT-610 ini, sakit lambung, korban kebakaran, tertimpa runtuhan, ibu yang melahirkan, ibu hamil yang meninggal, kematian karena wabah penyakit, namun di balik kematian tersebut bisa mendapatkan pahala mati syahid di akhirat, dan dengan demikian dapat dikatakan meninggal dalam husnul khatimah, sepanjang proses kematiannya itu tidak melanggar ketentuan agama.
Mereka yang pergi bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, pergi menuntut ilmu, atau pergi dengan tujuan-tujuan baik lainnya yang tidak melanggar ketentuan agama, kemudian dalam perjalanannya mereka dipanggil oleh Allah melalui kejadian JT-610 dan tenggelam di lautan luas, sesungguhnya akan mendapatkan pahala syahid di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang muslim yang meninggal dunia karena tenggelam akan memperoleh pahala syahid di akhirat (mendapatkan pahala syahid), walaupun dia bukan termasuk orang yang gugur di medan perang, sepanjang dia meninggal bukan karena sebab-sebab yang melanggar perintah Allah SWT. Artinya orang yang meninggal tenggelam bunuh diri, berbuat kejahatan lalu tercebur dan tenggelam, atau sebab-sebab lain yang dilarang oleh Islam, maka dia tidak termasuk dalam kategori sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits tentang meninggal karena tenggelam.
Pada umumnya orang yang meninggal secara syahid, jasadnya sudah tidak utuh. Dengan jasad yang tidak utuh, ditemukan hanya potongan tubuh saja, atau bahkan tidak ditemukan lagi. Dalam keadaan demikian, biasanya kita berpikir bahwa betapa menderitanya mereka yang meninggal seperti ini. Namun berdasarkan sabda Rasulullah SAW, bahwa orang yang meninggal secara syahid itu tidak merasakan sakit kecuali seperti orang yang dicubit saja (HR. Tirmidzi), walaupun dalam pandangan manusia keadaan jasadnya tidak seperti keadaan jasad orang yang meninggal secara normal. Dan dalam sabda Rasulullah yang lain : “Seorang yang mati Syahid akan diampuni segala dosa-dosanya kecuali hutang.” (H.R. Muslim). Itulah karuniah Allah SWT.
Wallahu a’lam bish shawab.










