Oleh Pastisyah
Di tengah gegap gempita pembangunan Nusantara, Ibu Kota Negara (IKN) yang baru dirancang dengan megah dan ambisius. Sebuah proyek mercusuar yang menjulang di atas dasar niat mulia: mengurangi beban Jakarta yang sudah sesak dan memberi kesempatan bagi daerah lain untuk berkembang. Namun, ada ironi yang membayang di belakang keagungan ini, ada kesombongan yang perlahan menyeruak dari fondasi yang ditancapkan.
Sebagai bangsa yang besar, kita seringkali terjebak dalam mimpi-mimpi besar pula. Kita ingin menciptakan kota yang canggih, modern, dan setara dengan pusat-pusat metropolitan dunia. Tetapi dalam ambisi itu, seringkali kita lupa pada esensi yang lebih dalam: manusia dan lingkungannya. IKN yang baru, di balik kemewahan dan rancangan futuristiknya, terasa seperti anak muda yang congkak, sibuk berlarian mengejar citra tanpa memperhatikan langkah yang ditempuh.
Tengoklah kampung-kampung yang terhimpit di sekitar lokasi pembangunan. Bukan hanya tanah mereka yang harus diratakan, tetapi juga hidup mereka yang ikut tergerus. Di manakah tempat bagi mereka dalam kota yang katanya inklusif ini? Apakah pembangunan hanya melulu tentang gedung-gedung menjulang dan jalan-jalan mulus, sementara orang-orang yang terpinggirkan tak lagi punya tempat? Kongres pepohonan, sungai, dan binatang-binatang liar yang dulu berbisik lembut di sekitar hutan kini terdiam, terperangkap di dalam beton.
Ada kebanggaan yang tak terkatakan dalam merancang sebuah ibu kota baru. Tetapi kebanggaan itu menjadi congkak ketika ia lupa bahwa peradaban tak dibangun di atas kehampaan, melainkan di atas warisan, kultur, dan rasa. Jakarta mungkin sesak, tetapi ia penuh cerita, dan kota ini dihidupi oleh kenangan ribuan manusia yang menjadikan setiap sudutnya bernyawa. Lalu, apa yang akan menjadi nyawa Nusantara ini? Gedung-gedung tinggi? Jalanan luas? Atau hanya keramaian kosong?
IKN adalah lambang ambisi kita sebagai bangsa—yang ingin berdiri sejajar dengan dunia. Tetapi, mari kita tanyakan pada diri kita: apakah sejajar berarti sama? Apakah kota yang berhasil adalah yang meniru hiruk-pikuk dunia luar, atau yang tetap teguh dengan jiwa dan identitasnya sendiri? Kita tidak membutuhkan kota yang congkak; kita membutuhkan kota yang memahami jiwa bangsanya. Yang mampu merangkul keragaman, menghidupkan kesejahteraan, dan menjaga bumi yang kita tinggali.
Jika IKN terus melangkah dengan kebanggaan yang tak terbendung, maka kelak ia mungkin akan terperangkap dalam cerminan citra dirinya sendiri. Sebuah kota yang tampak luar biasa dari kejauhan, namun hampa di dalamnya. Biarkan Nusantara tumbuh dengan kebijaksanaan, bukan hanya dengan kemegahan. Sebab ibu kota, di manapun ia berdiri, adalah cerminan hati bangsa.
—
Esai ini menekankan pentingnya keseimbangan antara ambisi pembangunan dan penghormatan terhadap lingkungan serta masyarakat yang terdampak, sebuah refleksi bagi perjalanan Nusantara di masa depan.










