INIPASTI.COM, MAKASSAR – Idrus Marham bukan saja mensosialisasikan Nurdin Halid sebagai calon tunggal Golkar. Tapi juga memuja Nurdin Halid sebagai tokoh dunia. Menurut Idrus Marham yang juga Sekjen DPP Golkar, NH adalah tokoh Sulsel, Nasional dan Dunia.
Dengan ketokohannya itu, NH tidak bisa dibendung untuk menjadi calon tunggal Partai Golkar. Ini sudah menjadi kehendak masyarakat, sudah menjadi gerakan rakyat, lanjut Idrus.
Pujian Idrus untuk NH mendapat berbagai tanggapan. “Sudah menjadi gerakan rakyat? Sudah menjadi tokoh dunia? Hebat betul pak NH, cetus Dr. M. Ridwan, Dosen Unhas. Menurut Ridwan, ketokohan seseorang bukan dikatakan, bukan dipromosikan, tapi dibuktikan dengan pengakuan masyarakat. Masyarakat yang akan menilai ketokohan seseorang. Bukan pujian antar elit yang menjadikan seseorang tokoh.
Selain itu menurut Ridwan, kriteria seorang tokoh ditentukan oleh karya dan kontribusi seorang aktor kepada masyarakat. Apa yang sudah dibuat oleh seseorang untuk kepentingan orang banyak. Ketokohan seseorang itu merupakan hasil resultante dari banyak kebaikan yang dilakukan oleh seseorang untuk orang lain. Saya tidak mengerti kriteria apa yang digunakan oleh Idrus untuk menyebut NH sebagai tokoh nasional atau tokoh dunia. Kalau seseorang sudah menjadi tokoh dunia, jangan lagi mengambil bagian pada wilayah lokal, apalagi kalau itu permainan politik. Pilihan itu akan mereduksi ketokohan NH yang sudah mendunia, sindir Ridwan.
Dr. Adi S, akademisi yang meneliti tentang atmosfir politik di Sulsel, menyebut ketokohan seseorang akan dibuktikan dengan kesiapan masyarakat menerima orang itu dalam berbagai momentum. Kalau orang yang disebut sebagai tokoh itu ikut bermain dalam politik praktis seperti NH d Sulsel, maka seharusnya NH mendapat dukungan yang tinggi, tingkat penerimaan masyarakat juga semestinya tinggi, yang pada ujungnya yang bersangkutan akan memperoleh tingkat keterpilihan yang tinggi pula. “Setahu saya, dari hasil beberapa survei, tingkat kesukaan dan elektibilitas masyarakat terhadap NH masih kalah dari Ikhsan, Agus, NA dan Azis K.” Jelas Adi.
Singkatnya, menurut Adi, ketokohan itu akan bergaris lurus dengan penghargaan masyarakat terhadap aktor yang bersangkutan. Dan, penghargaan itu tidak terkait dengan issue dan kepentingan politik.










