Ilmuwan: Pengukuran Kita terhadap Hal Mendasar di Alam Semesta Bisa Saja Salah

Pemandangan pir berduri dan Bimasakti di langit di atas Gurun Tatacoa, di departemen Huila, Kolombia, pada 11 Oktober 2018 (LUIS ACOSTA / AFP via Getty Images)

INIPASTI.COM, SAINS – Jumlah energi gelap dan laju ekspansi alam semesta bisa saja salah perhitungan. Ulasan Andrew Griffin dikutip dari independent.co.uk.

Pengukuran kita terhadap beberapa proses paling mendasar di alam semesta, yang selama ini kita gunakan, bisa saja salah. Demikian menurut hasil penelitian baru.

Inline Ad

Hasil perhitungan tentang jumlah energi gelap dan laju ekspansi alam semesta bisa saja salah.

Para astronom telah menemukan bahwa apa yang selama ini kita anggap kita tahu tentang pengukuran kimiawi bintang, ternyata bisa saja keliru. Karena bintang-bintang itu telah digunakan untuk melacak sejarah alam semesta saat ia mengembang, pengukuran kita terhadap proses fundamental seperti konstanta Hubble dan jumlah materi gelap juga bisa salah, kata para ilmuwan.

Temuan baru datang dari tim astronom yang dipimpin oleh Maria Bergemann dari Max-Planck-Institute for Astronomy. Mereka mengukur susunan kimia bintang-bintang dan menemukan hasil yang tidak terduga.

Para astronom sebelumnya percaya bahwa jenis supernova tertentu – yang dikenal sebagai “tipe Ia” – biasanya muncul ketika katai putih mengorbit di sekitar bintang normal dan menarik lapisan luarnya. Namun, pengukuran baru menunjukkan bahwa sebagian besar berasal dari skenario lain.

Itu, pada gilirannya, menunjukkan bahwa kita mungkin salah dalam pemahaman kita tentang seberapa terang bintang-bintang seperti itu, bagaimana kecerahan berubah seiring waktu, dan berapa lama mereka dapat tetap terang. Dalam jenis ledakan lainnya, kecerahannya tidak dibatasi dengan rapi, sehingga kita tidak dapat mengetahui secara pasti seberapa terang bintang seharusnya muncul.

Komplikasi baru muncul karena para astronom menggunakan kecerahan itu – dan perbedaan antara seberapa terang bintang itu sebenarnya dan seberapa terang bintang itu tampak bagi kita – sebagai cara untuk mengukur seberapa jauh jaraknya.

Asumsi itu telah digunakan untuk beberapa penelitian paling mendasar tentang alam semesta kita. Asumsi tersebut melandasi sejumlah karya yang mengatakan bahwa alam semesta kita terdiri atas sekitar 70 persen energi gelap, melandasi pengukuran konstanta Hubble, atau pun kecepatan di mana alam semesta kita berkembang.

Dalam beberapa hal, pengukuran baru mungkin terbukti bermanfaat bagi para ilmuwan. Ini dapat membantu menjelaskan perbedaan yang tampak dalam konstanta Hubble, yang muncul ketika para ilmuwan menemukan bahwa pengukuran yang berbeda–beberapa menggunakan supernova tipe “Ia” dan yang lain melihat alam semesta melalui latar belakang gelombang mikrokosmik–tidak cocok.

Pekerjaan lebih lanjut diharapkan untuk membantu memeriksa temuan baru terhadap pengamatan bagian lain dari alam semesta. Satu tes penting bisa menjadi rilis data ketiga dari Program Gaia Badan Antariksa Eropa, tahun depan.

Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.