INIPASTI.COM, MAKASSAR – Produser Eksekutif Pamanca’ The Movie, Muhammad Basir alias Den Raffy akhirnya angkat bicara soal latar belakang penggarapan film kolosal dan fantasi sejarah di Sulawesi Selatan (Sulsel) ini. Ia mengungkapkan bahwa penggarapan Film Pamanca’ ini sudah ia rencanakan sejak 10 tahun lalu. Hal itu ia ungkapkan saat menggelar konferensi pers bersama tim Pamanca’ The Movie dan para awak media.
“Pamanca ini saya rencanakan bukan kemarin ya, saya sudah merencanakannya sejak 10 tahun lalu. Alhamdulillah tahun 2017 ini kami punya kesempatan untuk wujudkan,” kata Den Raffy dalam bincang-bincangnya dengan media yang berlangsung di hotel Clarion, Makassar, Jum’at, (10/3/2017).
Ia mengaku telah memperhatikan hingga kini belum ada film action atau kolosal yang berasal dari Makassar ataupun Sulsel pada umumnya. Apalagi, katanya, film yang khusus mengangkat budaya kawasan daerah Sulsel. Karena itulah, ia menjelaskan bahwa Rapindo Galesong mengadopsi tradisi pamanca ini ke layar lebar, film yang bukan hanya bergenre action tapi juga adat budaya fiksi.
“Kami ingin angkat adat dan budaya kami. Pamanca’ itu ada tiga ucapan, yakni ‘pa’ ‘man’ ‘ca’. Dalam ilmu pamanca tiga prinsip itu berarti ujung lidah, ujung badik dan ujung keberanian,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini merupakan momentum terbaik untuk melahirkan sineas-sineas muda Indonesia untuk mengangkat pamanca’. Karena ia menganggap bahwa film ini adalah film kolosal pertama versi anak Makassar. Ia juga bercerita bahwa sebenarnya tidak sesuai ekspekstasinya setelah berdiskusi dengan beberapa orang dan media di Makassar karena ingin langsung menggarapnya lebih dulu, Namun karena mendapat tanggapan dan dukungan berbagai kalangan tak hanya di tanah air, tapi juga sudah sampai ke beberapa aktor kelas dunia, ia pun akhirnya harus menjawab berbagai pertanyaan.
“Di Medsos (media sosial, red) tanggapan orang ternyata Alhamdulillah. Kami baru mengerjakan pra produksi saja, informasi ini sudah sampai ke telinga para aktor dunia. Ini bukan lagi bicara aktor nasional,” ujarnya.
Menurutnya, sebelumnya ada pertanyaan kenapa Jackie Chan dan Jet Li dan ia pun menjawab bahwa dirinya ingin membalik logika perfilman saat ini. Jika biasanya orang Indonesia main di luar negeri. “Tapi aktor atau aktris luar yang harus mainkan di sini, Indonesia. Itu yang ingin saya balik. Bahwa orang Sulsel, orang Sulawesi, orang Makassar, orang Bugis mampu membuat berbisnis (film, red) lebih baik,” tegasnya.
Dengan menggunakan aktor Jackie Chan dan Jet Li, lanjutnya, bukan berarti pihaknya tidak menggunakan aktor nasional. Untuk persentasi pemain, ia mengatakan bahwa 20 persen aktor luar negeri, dan 80 persen aktor dari lokal dan nasional. “Kami harus melahirkan pemain dari makassar. Makanya kami melakukan serangkaian casting. Ada di empat daerah di Sulsel, dari Makassar, Parepare, Bone, dan Bulukumba. Mengapa saya lakukan di daerah ini, karena empat daerah mewakili seluruh potensi yang ada di Sulsel,” tukasnya.
Bahkan ia mengaku bahwa sebenarnya pihaknya hanya ingin membuka casting di Makassar saja, hanya saja permintaan beberapa tokoh di Sulsel agar penjaringan pemain itu dilakukan secara luas. Ia kemudian menegaskan, soal Jackie Chan dan Jet Li tidak ada yang tidak mungkin.
“Jujur saya tidak mampu membayar sekelas beliau (Jackie Chan dan Jet Li,red). Apa lagi dua orang. Tapi bukan berarti beliau tidak bisa kami ajak di (film, red) pamanca. Mereka atlet dan saya juga berjiwa seperti mereka. Yang namanya atlet silat dan kung fu dan sebagaianya saat dipanggil untuk main kolosal pasti mau. Tinggal cocok atau tidak, ceritanya bagus atau tidak, bisnisnya bagus atau tidak. Ternyata potensinya bagus,” urainya.
Sementara soal aktor utama, ia mengatakan bahwa pemerannya akan dipilih dari casting di Sulsel. “Diproduksi di Makassar, premiernya di Makassar, memakai (aktor utama, red) orang Makassar. Melibatkan aktor dunia dan aktor level A di Indonesia,” katanya lagi.
Untuk pemeran aktor nasional, tambahnya, hingga saat ini sudah banyak yang meminta untuk terlibat. Aktor itu, kata Deng Raffy, aktor yang sangat populer dan termasuk aktor level A Indonesia. “Banyak yang sudah mengiyakan. Bukan kami yang mengiyakan. Semuanya bersedia untuk bermain dengan pemain lokal yang belum punya namanya di perfilman, dengan aktor-aktor yang sudah dikenal, tapi saya tidak mau menyebut namanya. Jika saya sebut nama beliau, pasti akan dikejar-kejar oleh wartawan,” tutupnya.










