Oleh: Sitti Hidayah
Mahasiswa Doktoral Kesmas Unhas
INIPASTI.COM, OPINI – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan besar bagi dunia kesehatan di Indonesia. Dengan target ambisius untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030, diperlukan langkah konkret dan strategi yang efektif. Salah satu sorotan penting dalam upaya ini adalah peran integritas dan kepemimpinan situasional sebagai pilar utama dalam meningkatkan kinerja pengelolaan program eliminasi TBC. Tanpa kedua elemen ini, target tersebut bisa saja hanya menjadi angan-angan.
Integritas adalah fondasi yang tidak bisa ditawar dalam setiap program kesehatan masyarakat. Pengelola program yang memiliki integritas tinggi akan memastikan bahwa setiap langkah, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran. Dalam konteks TBC, integritas berarti memastikan dana dialokasikan dengan tepat, obat-obatan sampai ke tangan pasien yang membutuhkan, dan data dilaporkan secara akurat. Tanpa integritas, kepercayaan masyarakat terhadap program ini bisa runtuh, dan upaya bertahun-tahun pun akan sia-sia.
Namun, integritas saja tidak cukup. Kepemimpinan situasional menjadi pelengkap yang tak kalah krusial. Setiap daerah di Indonesia memiliki tantangan unik dalam menangani TBC—mulai dari keterbatasan akses di wilayah terpencil hingga stigma sosial yang masih kuat di kalangan masyarakat. Pemimpin yang mampu menyesuaikan pendekatan mereka dengan kondisi lokal akan lebih efektif dalam menggerakkan tim, membangun kerja sama lintas sektor, dan mengedukasi masyarakat. Misalnya, di daerah urban, pendekatan berbasis teknologi mungkin lebih efektif, sementara di pedesaan, pendekatan langsung melalui tokoh adat bisa jadi solusi terbaik.
Kombinasi integritas dan kepemimpinan situasional ini pada akhirnya akan menciptakan pengelolaan program yang lebih responsif dan efisien. Koordinasi yang baik antarpihak, pemanfaatan sumber daya secara optimal, dan keterlibatan aktif masyarakat adalah buah dari pendekatan ini. Bayangkan jika setiap pengelola program menerapkan dua nilai ini: angka kematian akibat TBC bisa turun drastis, dan target 2030 bukan lagi sekadar mimpi.
Tentu saja, tantangan masih ada. Membangun integritas membutuhkan budaya kerja yang kuat, sementara kepemimpinan situasional menuntut pelatihan dan fleksibilitas. Pemerintah, organisasi kesehatan, dan masyarakat harus bahu-membahu untuk mewujudkannya. Jika kita serius ingin menghapus TBC dari Indonesia, maka integritas dan kepemimpinan situasional harus menjadi kompas yang membimbing setiap langkah menuju 2030. Waktu terus berjalan—saatnya bertindak sekarang.










