IPI: 2019 Eranya Pemuda Kuasai Penggung Politik

Diskusi Ngobrol Politik Membedah Peluang Caleg Muda PPP, di Warkop 212 Toddopuli Makassar, Minggu 2 Desember 2018.

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Direktur Eksekutif Indeks Politica Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir menilai tahun 2019 sebagai era para pemuda berbondong-bondong akan menjadi pemimpin politik di Republik Indonesia.

Analisa ini dipaparkan Suwadi dalam ngobrol politik bertema ‘Membedah Peluang Caleg Muda PPP’ yang digelar Komunitas Wartawan Politik Sulawesi Selatan di Warkop 212 Toddopuli, Minggu (2/12/2018).

“Tahun 2019 sampai tahun 2024 adalah eranya pemuda menjadi pemimpin politik baik di legislatif maupun di eksekutif. Generasi tua akan hilang dari panggung politik pada 2024 nanti. Pemuda dari aktivis 98 sampai aktivis era sekarang akan banyak mendominasi panggung politik di Indonesia termasuk di Sulsel,” kata Suwadi.

Analisa ini berdasar pada fenomena legislator muda dan kepala daerah muda yang mulai bermunculan sejak 2014 dan terus membesar dari tahun ke tahun sampai sekarang. Ibarat efek bola salju, Suwadi memprediksi puncak kejayaan pemuda di panggung politik akan nampak pada 2024 nanti.

“Apalagi jika memperhatikan porsi pemilih milenial yang berusia 17-35 tahun, itu mendominasi 49 persen DPT kita hari ini. Dari riset selama ini, selalu terlihat kecenderungan anak muda adalah memilih orang yang sebaya dengannya,” beber pemilik PT Altaza Haji dan Umrah ini.

Baca Juga:  PPP dan PAN Solid Berikan Rekomendasi Usungan ke IYL-Cakka

Pengamat Politik UIN Alauddin, Dr Mohd Sabri AR juga menilai demikian. Menurutnya, caleg-caleg muda PPP seperti Imam Fauzan dan Asrul Makkaraus Sujiman memiliki potensi besar meraup dukungan kalangan milenial.

“Syaratnya adalah menciptakan pencerdasan arena demokrasi ke para pemuda. Berdialoglah dengan mahasiswa muslim, apakah benar radikalisme memang ada di kampus atau itu hanyalah fenomena ketakutan berlebihan terhadap politik identitas umat Islam. Sebagai partai Islam, PPP mau tak mau harus bermain di ranah politik identitas jika ingin mendulang dukungan pemilih muslim,” kata Sabri.

Caleg termuda PPP, Imam Fauzan yang baru berusia 22 tahun mengaku maju Pileg 2019 atas inisiatif sendiri. Ayahnya, Amir Uskara bahkan melarangnya masuk ke dunia politik sejak ia tamat SMA tahun 2014 silam.

Baca Juga:  Perindo Siap Akomodir Tim DIAmi di Pileg

“Karena Ayah menghindari kesan ingin melahirkan dinasti politik. Makanya saya bertiga dengan saudara dibuatkan perusahaan masing-masing agar tidak ikut-ikutan berpolitik. Waktu saya mau daftar caleg, Ayah orang yang paling besar suaranya melarang. Tapi saya sampaikan bahwa saya ingin membangun karir politik secara mandiri. Saya mau terpilih bukan karena orang melihat orang tua saya, tapi karena memang masyarakat menilai saya pantas untuk dipilih. Karena itu saya maju di dapil 1 Makassar A, bukan di Gowa yang notabene basis suara Ayah,” tandas Fauzan yang juga Wakil Ketua DPW PPP Sulsel ini.

Asrul Makkaraus Sujiman yang merupakan Paman Imam Fauzan dan saudara Amir Uskara membenarkan karakter kakaknya yang profesional dalam berpartai. Pantang bagi Amir, untuk menggunakan kekuasaannya di partai politik untuk kepentingan pribadi, termasuk membantu anggota keluarga sendiri.

“Saya saja saudara kandungnya sendiri itu tidak dibantu mencari suara. Kakak ingin melihat kita mandiri mencari suara. Dia tidak mau ada kesan saya terpilih karena dibantu oleh kakak. Dia menginginkan saya terpilih karena usaha saya sendiri,” imbuh Sekretaris DPW PPP Sulsel yang juga caleg incumbent DPRD Sulsel ini.

Baca Juga:  IYL-Cakka Dijamu Mantan Ketua Gerindra Sulsel

(Muh. Seilessy)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.