Issue Pribumi Melawan Kolonialisasi Ekonomi dalam Pilpres 2019

INIPASTI.COM – Mantan Panglima TNI Jendral Djoko Santoso dipastikan bakal hadir pada acara Tablig Akbar Priboemi untuk NKRI. Kepastian hadirnya Jendral Djoko Santoso, disampaikan langsung oleh Sekjen Roemah Priboemi Yakub A. Arupalakka. Sejumlah tokoh nasional akan menyertai Djoko Santoso, seperti Ratna Sarumpeat, Irwati Moerid, Agus Arifin Nu’mang dan Zecky Al Atas. Tablik Akbar akan dilaksanakan 16 Agustus, di Balai Manunggal Makassar. Roemah Pribumi, mirip dengan sebuah institusi Bumi Poetra di Malaysia, sengaja didirikan untuk meretas perjuangan kalangan pribumi yang sudah mulai bergeser peranan ekonomi dan politiknya, oleh kekuatan ekonomi politik Kolonial (new kolonialisme). Acara ini sekaligus untuk merekatkan kekuatan Priboemi untuk menjaga NKRI. Itu sebabnya dibuat sehari sebelum 17 Agustus.

Issue polarisasi menjelang pemilihan Presiden 2019 mendatang, menjadi issue yang sensitif, karena masing-masing pihak akan menggunakan kekuatan politik identitas yang ada. Jika kandidat berhasil mengolah spirit ke-pribumi-an masyarakat Indonesia, tidak mustahil peristiwa politik yang terjadi di Malaysia bisa diduplikasi oleh kepentingan politik di Indonesia. Mahatir Mohammad yang sudah usia senja berhasil mengalahkan petahana, dengan issue penyelamatan kehancuran ekonomi pribumi. Di Malaysia menurut Mahatir ketika berkampanye, menyebut kekuatan luar negeri, khususnya Tiongkok—China telah menghantui, bahkan mulai menggusur ekonomi lokal. Kesadaran akan hilangnya hak politik dan ekonomi, membangkitkan kekuatan pribumi untuk memenangkan Mahatir Muhammad dalam pemilihan perdana meneteri Malaysia beberapa lampau.

Baca Juga:  Wacana, Uang dan Kekuasaan Bagi NH dan NA Pada Pilgub Sulsel

Apakah issue itu bisa menjadi kekuatan politik di Indonesia? Segala sesuatunya akan ditentukan oleh strategi yang dikembangkan oleh kedua pihak: Prabowo dan Jokowi. Yang pasti kondisi ekonomi Indonesia memiliki kesamaan dengan potret ekonomi Malaysia ketika Tun Abd Razak memimpin Malaysia. Mata uang Indonesia saat ini, malah terjun bebas, nyaris mencapai 15 ribu per dollar Amerika. Sembako, listrik, bensin semuanya menanjak naik selama beberapa tahun terakhir. Keadaan ini akan mempermudah penantang melakukan down grading bagi petahana. Data-data makro ekonomi seperti lapangan tenaga kerja yang semakin sulit, utang luang negeri yang membengkak berlipat-lipat adalah alat politik yang paling empuk untuk menjatuhkan petahana.

Baca Juga:  Mengukur Arena Politik IYL dan NH

Dalam pemilihan Presiden 2019, Issue pribumi dan non-pribumi kelihatannya akan menggeser issue sensitive lainnya, seperti issue sara dan agama. Semula, issue agama disasar untuk Petahana yang dianggap kurang dekat dengan kelompok Islam. Issue itu kemudian dijawab kontan oleh Petahana, Jokowidodo dengan menggandeng Rois Aam PBNU dan Ketua MUI Prof, Dr. Ky. H. Ma’ruf Amin sebagai pendamping atau wakilnya. Tentu saja, pesan tersembunyi kepada public dari Jokowi adalah, “apa kurangnya Jokowi dekat dengan Islam dan ulama?” Pesan ini tidak langsung bisa mengubah preferensi public muslim kepada Jokowi, terutama elit-elit Muslim seperti kelompok alumni 212, yang sangat santer mempersoalkan Jokowi.

Sementara itu, pasangan Parbowo-Sandi, mengambil posisi tunggal, selamatkan Indonesia (save Indonesia) dari kehancuran ekonomi. Dengan single issue seperti ini, Prabowo-Sandi memberikan jalan keluar dengan memberdayakan sumberdaya lokal, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya.

Baca Juga:  Serangan di Nice Dilakukan Warga Sendiri, Prancis di Ambang Bahaya

Roemah Priboemi akan menjadi identias politik baru bagi kandidat presiden, jika bisa dimainkan dengan spirit kerakyatan, yang sebagian spirit itu sudah terlanjur melekat pada Jokowi. Untuk mengoptimalkan posisi sebagai pribumi yang disimbolisasi sebagai ekonomi kerakyatan, sangat ditentukan oleh issue yang diubah menjadi strategi meraup electoral.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.