JCH Sakit dan Wafat Tetap Haji, Begini Penjelasan Kemenag RI

Jemaah Haji Kloter 4 Embarkasi Makassar, Dahniar Binti Jalaluddin berfoto dengan latar belakang Ka'bah. (Foto : istimewa)

INIPASTI.COM, SUDIANG – Wukuf di Arafah telah dilalui. Mabit di Musdalifah sudah dilaksanakan. Kini, Minggu, 11 Agustus 2019, jemaah haji berada di Mina dan secara bergantian melakukan lontar jumrah.

Akan tetapi, ada beberapa jemaah calon haji (JCH) yang tidak sempat melaksanakan periode Armina (Arafah Musdalifah Mina) itu. Ada yang dikarenakan sakit, ada pula yang meninggal dunia. Khususnya Embarkasi Makassar, sudah 11 jemaah yang meninggal dunia sebelum puncak haji tiba.

Baca : Jelang Wukuf, Total 10 JCH Wafat di Tanah Suci.

Lalu bagaimana dengan status haji mereka?

Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Muhajirin Yanis menjelaskan bahwa mereka tetap berstatus haji. Dia menegaskan bahwa JCH yang sakit dan meninggal dunia dibadalkan hajinya oleh tenaga yang telah disediakan dari pemerintah.

Baca Juga:  Jelang Wukuf, Total 10 JCH Wafat di  Tanah Suci

“Jemaah yang wafat akan dibadalkan hajinya. Jadi ada yang menggantikan mereka melakukan puncak haji dengan meniatkan atas nama jemaah yang wafat. Itu juga termasuk yang meninggal sejak di embarkasi,” jelasnya.

Muhajirin menjelaskan bahwa sedikitnya ada 200 orang sudah disiapkan sebagai tenaga untuk mengantisipasi jika ada JCH yang wafat dan sakit. Hal itu pun dibenarkan oleh Ketua Kloter 5 Embarkasi Makassar Beni Susanto.

“Iya, di kloter saya, ada satu jemaah atas nama Andi Mahpian Sangko yang tidak bisa ikut wukuf karena dirawat di KKHI. Hajinya dibadalkan oleh Temus (Tenaga Musiman) Melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Pihak keluarga di tanah air sudah komunikasi langsung dengan pihak KBIH-nya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Baru Raih Sarjana Hukum, JCH Termuda Pangkep Harap Haji Mabrur

Selain mengenai status haji, Muhajirin juga mengatakan bahwa JCH yabg wafat akan mendapatkan klaim asuransi.

“Yang meninggal di asrama haji, ia akan mendapat klaim asuransi, nilainya sekitar 18 juta karena uang pertanggungannya hanya sebesar Rp50.000 sebagai bentuk perlindungan kita kepada jamaah,” tutupnya. (Sule)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.