Penulis: Sam Rigby (BBC Culture)
Seniman Shaheryar Malik meninggalkan buku di tempat-tempat terkenal di seluruh dunia dalam suatu upaya berbagi sesuatu yang penting–kekuatan membaca.
Awal tahun ini, seniman Shaheryar Malik baru hendak mengeposkan foto selfie dari Jembatan Brooklyn ketika dia tiba-tiba punya pikiran lain. Dia ingin berbagi sesuatu yang berbeda dengan dunia.
Malik berpikir bahwa media sosial telah menjadi impersonal, tanpa sosok pribadi, dan dia ingin berhubungan dengan orang lain dengan cara yang lebih bermakna. Maka, lahirlah Proyek Membaca. Dia mulai meninggalkan setumpuk buku-buku miliknya di tempat-tempat terkenal di Kota New York disertai kartu yang diselipkan ke setiap buku, berisi petunjuk: ambil buku, baca kemudian bagikan pendapat Anda dengan senimannya melalui surat elektronik. Tumpukan buku itu sendiri dapat dipandang sebagai suatu karya seni, begitu pula halnya dengan proses berbaginya. Berbeda dengan kebanyakan benda yang kita bagikan dewasa ini, dia suka untuk tidak memasukkan ke media sosial benda yang dia bagikan. Untuk menjaga agar “kemurnian” proyek tersebut, dia bahkan tidak pernah menoleh begitu dia meninggalkan tumpukan bukunya. Ketika dia meninggalkan buku-buku itu, dia ingin agar satu-satunya cara untuk mengetahui nasib bukunya adalah melalui email. Proyek tersebut kini telah membawa dia–dan buku-bukunya–keliling dunia, termasuk ke London di mana kami bertemu dengan dia.
“Saya berharap agar [orang-orang] mengambilnya, saya berharap agar mereka membacanya dan memberi tahu saya. Meskipun mereka tidak memberi tahu saya, saya tetap berharap semoga mereka membaca buku itu.”
Dia telah menerima pesan dari berbagai orang dari lebih 30 negara di seluruh dunia. Bagi Malik, buku itu akan “tak bernilai dan tak hidup” jika mereka dibiarkan berdebu di rak dan tidak pernah dibaca lagi. Dia masih bermaksud untuk melanjutkan peoyek tersebut selama beberapa waktu lagi, dan agenda berikutnya adalah berkunjung ke Brazilia.
Lebih dari segalanya, dia suka keterhubungan dengan orang-orang asing dari seluruh dunia yang diberikan buku itu kepadanya, sesuatu yang tidak akan pernah dapat diberikan oleh posting Instagram. Pesan yang hendak disampaikan sangat jelas: mari berbagi buku, bukan berbagi foto selfie.










