INIPASTI.COM, JAKARTA – Pada 30 September 2019, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa masyarakat tidak mesti meninggalkan Kota Wamena. Menurutnya, keadaan di sana sudah kondusif dan telah ditangani oleh aparat keamanan.
“Kepala suku di Wamena juga telah mengajak mengimbau untuk seluruh warga untuk tidak mengungsi keluar Wamena. Saya kira ini sebuah imbauan yang baik. Dan juga polisi telah menangkap beberapa tersangka yang melakukan pembunuhan dan pembakaran yang ada di Wamena,” jelas Presiden Jokowi di Bogor, Jawa Barat, 30 September lalu.
Pernyataan itu pun mendapat sorotan dari pengamat politik Rocky Gerung. Atas narasi itu, filsuf asal Manado ini menilai bahwa negara membiarkan kekerasan terjadi di Papua.
“Itu narasi yang buruk dari presiden. Kita tahu bahwa, peristiwa kemarin itu adalah akumulasi dari problem Surabaya, (problem) Surabaya itu akumulasi dari problem tahun 90. Jadi presiden itu menjelaskan sesuatu yang sangat tehnis. Padahal sebetulnya ada problem etis yang orang tunggu dimengerti oleh presiden,” ujar Rocky Gerung pada Kupas Tuntas yang disiarkan oleh CNN Indonesia pada Jum’at, 4 September 2019 kemarin.
Pernyataan Presiden Jokowi dianggap Rocky seolah-olah ingin mengatasi permasalahan Wamena dengan kekuatan bersenjata. “Seluruh keterangan presiden, seolah-olah mau mengatakan ‘kami bisa atasi itu dengan kekuatan bersenjata’. Jadi kekuatan bersenjata dilawan dengan kekuatan bersenjata. 33 korban itu akan dicatat oleh PBB sebagai pembiaran terjadinya kekerasan. Negara membiarkan terjadi kekerasan,” tegasnya.
Dia pun mempertanyakan apa konsep negara untuk Papua. Menurutnya, operasi militer dan penegakan ulang keamanan tidak akan ada gunanya. Karena dia melihat, warga Papua sudah hidup dengan imajinasi jenis nasionalisme baru di kepala orang Papua.
“Kalau saya tanya, apa konsep negara untuk Papua sekarang? Operasi militer? Penegakan ulang keamanan? Padahal Papua sudah hidup dengan imajinasi new kind of nationalism, ada jenis nasionalisme baru di kepala orang Papua. Dan kita, mau anggap bahwa itu bukan nasionalisme. Loh, itu otentik ada di situ. Di seluruh dunia orang hidup dengan cara itu,” jelasnya.
(Sule)










