Kajian Panlok Lahan Jalur KA Mandai-MNP Ditarget Tahun Ini

Top Ad

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Pasca pertemuan yang dilakukan bersama di Kantor Staf Kepresidenan pada akhir Februari lalu, terkait dengan kelanjutan pembangunan Kereta Api Makassar-Parepare, dimana masalah lahan menjadi kendala utama terutama di Pangkep dan Maros.

Inline Ad

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Arafah menyebutkan ada beberapa poin yang disepakati bersama untuk penyelesaian percepatan pembangunan jalur Kereta Api, Makassar – Parepare di Pangkep dan Maros.

“Jadi hasilnya itu, nanti akan dibentuk tim percepatan penyelesaian pembebasan lahan untuk Pangkep dan Maros,” kata Arafah.

Ia menyebutkan bahwa untuk kondisi lahan ini, di Pangkep 95 persen sedangkan Maros 55 persen.

Selain akan dibentuknya tim percepatan pembebasan lahan, Arafah menyebutkan jika pada tahun ini akan dilakukan kajian untuk jalur Mandai – Makassar New Port. “Tahun ini akan dikaji untuk Panlok, kemudian tahun depan akan dibangun. Konsep yang mau dipercepat yaitu Makassar-Parepare tahap awal Garongkong-Tonasa-Bosowa nanti lanjut ke Mandai-MNP ini akan tersambung,”

Seperti diketahui, proyek ini sejak tahun 2015 dengan panjang lintasan jumlah stasiun 16 dengan investasi sebesar Rp8,25 triliun
dengan pembagian empat segmen yaitu yaitu segmen B Pallanro-Takkalasi, Segmen C Takkalasi-Taneter Rilau, Segmen D Tanete Rilaua-Mandai, Maros dan Pangkep, serta lintas cabang.

Sebelumnya, saat menghadiri pertemuan  Februari lalu
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Timur, Jumardi mengatakan pembangunan jalur kereta api tersebut dibangun di aras 7.113 bidang lahan, dengan target operasi 2021 untuk wilayah Pallanroe-Taneter Rilau dan Garongkong-Tonasa.

Jumardi mengaku bahwa masalah pembebasan lahan ini masih terus dilakukan, memang ada halangan itulah yang harus diselesaikan, “Pembebasan lahan ini persoalan manusiawi, Jadi, harus ditempuh dengan cara manusiawi,” sebutnya.

Terkait adanya stasiun yang beroperasi, Jumardi menyebutkan bahwa rencananya di Barru,  Lima stasiun. Tapi sekarang sedang diuji kelaikannya memastikannya. “Jadi, ada tahapan yang perlu dilakukan sebelum dioperasikan. Diuji kelaikannya. Nah kalau tim penguji mengatakan laik, baru dioperasikan. Tapi, kalau belum tentu ada rekomendasi dari tim penguji, dan ini untuk kereta penumpang panjanganya sekitar 33 Km” jelasnya

Data yang diperoleh pada awal Februari lalu pembangunan rel tersebut untuk pengadaan lahan dan konstruksi segmen B sepanjang 26,1 kilometer dan segmen C 16,1 kilometer semua sudah 100 persen. Untuk akses Tonada 9,7 kilometer baru rampung tahun 2021 ini, termasuk segmen A Soreang-Pallanroe sepanjang 23 kilometer baru rampung 2023. Dan akses garongkong sepanjang 4,7 kilometer lahan 100 persen konstruksi 70 persen.

(Iin Nurfahraeni)

Bottom ad

Leave a Reply