INIPASTI.COM, MAKASSAR – Sebanyak 100 orang peserta dari jajaran Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulsel mengikuti assesment Kompetensi Jabatan Administrasi tahun 2018. Proses untuk mengetahui kemampuan ASN Kemenag itu diselenggarakan oleh Subbag Ortala dan Kepegawaian Kanwil Kemenag Provinsi Sulsel.
Kegiatan yang berlangsung sejak kemarin hingga hari ini, Rabu, 28 Maret 2018 diselenggarakan di Asrama Haji Sudiang Makassar. “Kegiatan ini berlangsung dua hari, bertujuan untuk mengukur sejauh mana kapasitas dan kapabilitas ASN Kemenag Sulsel memahami dan memaknai tugas dan tanggung jawabnya,” jelas Kasubag Ortala dan Kepegawaian, Maskur, selaku penanggungjawab kegiatan.
Maskur juga menyampaikan bahwa assesment ini merupakan amanah UU ASN yang salah satu maksudnya adalah merubah maidset ASN dari comfort zone (zona nyaman) menuju competitif zone (zona kompetisi). Jabatan administrasi yang diassesment termasuk jabatan struktural, KUA, JFU-l dan Satker Madrasah. Di mana materi ujiannya meliputi tes psikometrik, tes tertulis, wawancara, dan ujian IT.
Selain Kakanwil Kemenag Provinsi Sulsel, hadir pada Kegiatan pembukaan di antaranya, Kabag TU, Bagian Assesment Biro Kepegawaian Kemenag RI, Tim Assesor Eksternal dari Human Capital Development UNM yang dikomandoi oleh Prof Jufri, serta Tim Assesor Internal dari Kanwil Kemenag Provinsi Sulsel.
Dalam arahannya, Kakanwil Kemenag Provinsi Sulsel, Abd Wahid Thahir, menyampaikan bahwa assesment ini dilaksanakan dalam rangka untuk mengukur kompetensi ASN. Kompetisi ASN menurutnya harus diukur dari berbagai aspek untuk nantinya dipersiapkan di suatu posisi tertentu. Di mana nanti, katanya, itu akan menentukan apakah dalam bentuk promosi atau rotasi ataukah mutasi dalam jabatan tertentu.
“Salah satu penilaian, selain materi tes yang sudah disiapkan oleh panitia, adalah kecakapan berinteraksi yang menjadi salah satu prasyarat menjadi seorang pejabat, termasuk di dalamnya menghargai kearifan lokal yang hidup inheren di masyarakat kita,” papar Kakanwil Kemenag.
Menurutnya, leserta yang ikut saat ini sudah memiliki potensi untuk dipromosi atau dimutasi. Namun ia memandang bahwa tidak seluruh peserta yang ikut mendapatkan garansi menjadi pejabat. Garansi tersebut, lanjutnya, tergantung kepada hasil assesment dan penilaian atasan.
“Tes kecakapan berupa kemampuan dalam mengoperasikan IT menjadi hal baru di-assesment tahun ini, karena kecakapan khusus ini sangat dibutuhkan di zaman now, terlebih lagi bagi seorang pejabat. Seorang Pejabat tidak boleh Gaptek (gagap tekhnologi,red), sebab kinerja ASN saat ini hampir semua berbasis IT dan aplikasi,” papar Wahid Thahir.
Ia pun menjelaskan bahwa asseament ini juga sengaja melibatkan Tim Assesor ekternal. Hal itu, katanya, untuk menjaga objektifitas penilaian kegiatan tersebut. Di mana tahun ini dipercayakan kepada Tim Assesor dari Human Capital Development Universitas Negeri Makassar dan Tim Assesor dari Biro Kepegawaian Kemenag RI. (*)










