INIPASTI.COM, MAKASSAR – Suasana haru mewarnai sidang paripurna terakhir Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Wakil Gubernur Agus Arifin Nu’mang, Selasa (6/2/2018).
Bahkan beberapa kali, Syahrul terlihat menangis termasuk para hadirin di ruang sidang. Hal ini terjadi saat Rapat Paripurna Rekomendasi Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan Atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan (LKPJ-AMJ) Gubernur Sulsel Tahun 2013-2018, di Kantor DPRD Sulsel.
Diawal pidatonya, Orang nomor satu di Sulsel ini mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin, terutama kepada Wagub Agus Arifin Nu’mang dan Sekda Sulsel Abdul Latief.
“Hari Senin, Pak Wagub terakhir mendampingi saya, pasti saya kehilangan orang baik. Hari itu juga, Pak Sekda akan bertugas di tempat lain. Sambutan Pak Ketua DPRD juga membuat lutut saya bergetar,” kata Syahrul.
Ia pun menambahkan, tidak pernah berpikir bahwa perjalanannya sebagai gubernur sudah akan berakhir dalam dua bulan.
“Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir bahwa sebuah perjalanan bersama itu berakhir. Padahal persimpangan jalan itu kadang akhir dari sebuah proses perjalanan,” sebutnya.
Syahrul kemudian melanjutkan, dengan memaparkan capaian Sulsel dan menanggapi 19 rekomendasi yang ada. Ia sangat mengapresiasi kerja dari DPRD Sulsel. Menurutnya, langkah-langkah upaya dilakukan untuk memperbaiki kekurangan yang ada. Dari rekomendasi ini, apa yang belum sempurna akan diperbaharui, maupun yang sementara berjalan dengan mengedepankan transparansi.
“Saya, kita semua telah berusaha maksimal. Mempertaruhkan semua apa yang saya miliki termasuk harga diri saya. Saya perhadapkan diri saya pada Allah, tidak ada satu sen pun saya terima yang bukan milik saya. Saya takut dengan rekomendasi yang bapak buat,” ujary Syahrul dengan nada bergetar.
Suasana hening pun muncul, saat mantan Bupati Gowa ini tidak sanggup menahan air matanya. Demikian dengan para hadirin, baik dari kalangan dewan, OPD dan awak media yang hadir.
Selama perjalanan sebagai gubernur, ada banyak tantangan yang dihadapi. Salah satu capaian Sulsel yang membekas di hatinya adalah kitab La Galigo dan Perahu Pinisi yang menjadi warisan budaya dunia.
“Maafkan ini adalah panggung terakhir saya dengan Pak Agus dan Pak Sekda. Sebelum mengakhiri , kita memiliki La Galigo sebagai literasi terpanjang dunia dan Pinisi. Tanpa kita sadari, ini yang membuat kita orang Bugis Makassar, juga Toraja dan Luwu hebat,” ucap SYL.
Usai menyampaikan pidato, seluruh pimpinan, anggota dan staf DPRD Sulsel berfoto bersama, demikian juga jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Sulsel. Suasana haru penuh tangis kembali terjadi saat Syahrul akan meninggalkan lokasi acara.
(Iin Nurfahraeni)










