Ketika The Professor NA Mencium Tangan Pimpinan Partai

youtube screen capture

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Gelar profesor adalah gelar tertinggi dalam dunia akademik. Gelar yang nyaris tidak punya cacat keduniawian. Kalau disejajarkan dengan gelar keagamaan, kira-kira sejajar dengan para sufi, yang memiliki maqom yang berlapis-lapis tingginya. Mereka ini tidak tegiur nafsu politik, ekonomi dan nama besar. Apalagi mencitrakan diri. Apalagi membohongi publik. Apalagi tidak konsisten dan tidak berkarakter.
Adalah NA (Nurdin Abdullah) adalah satu-satunya professor yang mencalonkan diri menjadi Gubernur Sulsel periode 2018-2023. Ia dikenal sebagai salah satu bupati yang rapi mem-packiging pencapaian pembangunan yang dilakukannya. Banyak orang di Indonesia yang mengaguminya, ia sering disebut sebagai bupati teladan. Aktor politik yang awesome.
Sebagai professor, NA tentu saja memiliki konsep dan strategi yang mumpuni untuk memperkenalkan dirinya kepada publik. Sayangnya, dalam upayanya merebut simpati publik, NA melakukan banyak blunder. Dalam catatan publik, melalui media massa, NA adalah bakal calon yang paling banyak memberikan pernyataan di publik, akan tetapi pernyataannya selalu gagal dibuktikan. Entah berapakali NA menjanjikan akan segera deklarasi dengan Tanri Bali Lamo. Entah berapakali NA mengklaim banyak parpol yang akan memberikan dukungan kepada diri dan pasangannya. Tapi lagi-lagi belum bisa ia buktikan. Yang sangat mengagetkan, tidak ada hujan, tidak ada angin tiba-tiba NA mengganti pasangannya. Alasannya, TBL tidak bisa menambah elektabilitasnya. Akhirnya, dia menemukan pengganti yang bernama Sudirman Sulaiman (SS). Dalam jagad politik, ekonomi atau prestasi lainnya, SS sulit ditemukan jejaknya. Google link atau Wikipedia tidak bisa menyajikan protofolionya. Sesungguhnya, tidak ada tempat yang tersembunyi bagi orang yang berprestasi dan dikenal publik, karena Google dan Wikipedia akan mencatatnya dengan jujur untuk menyapaikan protofolio dan jejaknya kepada publik. Bagaimana mungkin alasan menggantikan TBL untuk menaikkan elektabilitasnya bisa dijawab dengan memilih orang yang oleh link-Google pun tidak mengenalinya?
Publik kemudian mulai mempertanyakan konsistensi NA. Konsistensi calon pemimpin wilayah sebesar Sulsel. Dalam kepemimpinan, konsistensi adalah simpul penting yang harus dimiliki dan dipegang teguh oleh seorang calon pemimpin. Sejumlah akademisi, menyebut: NA punya masalah dengan konsistensi.
Yang paling mutakhir, NA yang seorang professor yang memiliki makom akademik tertinggi tiba-tiba nongol disebuah TV sawsta nasional (15/10/17) mencium tangan pimpinan partai politik, ketika menerima rekomendasi dukungan untuk maju pada pilgub Sulsel 2018 yang akan datang. Dalam tradisi pesantren, mencium tangan adalah kebiasaan yang dianjurkan. Tapi, seorang professor yang mencium tangan tokoh politik, kurang elok dilihat. Apalagi pada saat yang sama, terdapat juga calon Gubernur dari provinsi lain yang menerima rekomendasi dari parpol yang sama, tapi dia tidak mencium tangan pimpinan parpol itu.
Dalam politik, ucapan dan tindakan, adalah kunci untuk menaikkan atau menurunkan citra. Sedangkan citra adalah pintu untuk meraih dukungan publik.
Dari beberapa orang yang berniat mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Sulsel, NA adalah salah seorang yang sejak dua tahun lalu mendapatkan dukungan atau elektabiltas dari publik yang paling tinggi. Namun beberapa bulan terakhir ini, berdasarkan banyak sumber dari berbagai lembaga survei, elektabilitas NA terus tergerus, bahkan ada beberapa partai sudah menempatkan NA pada urutan terakhir. (*ipc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.