Kiat A Sampai Z: Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan

Drs. Ahmad Usman, M.Si, Dosen STISIP Mbojo Bima, Pengamat Pendidikan dan Penulis Buku Menjadi Guru Parpurna Sejati dan Beberapa Buku Lainnya

INIPASTI.COM – Dua persoalan besar di antara ”seribu satu macam” problem bangsa yang sedang dan akan terus dihadapi bangsa Indonesia yakni pendidikan dan kebudayaan. Karena itu, tak ayal pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang diselenggarakan pada tanggal 5-8 Februari lalu di Pusdiklat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Sawangan, Depok mengetengahkan Tema: “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan.”
Menguatkan Pendidikan.

“Jika rencana Anda satu tahun, tanamlah padi; sepuluh tahun, tanamlah pohon; seratus tahun didiklah manusia” (Konfusius, 556-479 SbM). Ungkapan yang bernada filosofi tersebut mengisyaratkan betapa urgen, vital, dan sakral pendidikan. Bila suatu negara yang mengharapkan suatu kebesaran, tapi tidak mempedulikan pendidikan, maka negara tersebut sedang memimpikan suatu kemustahilan (W. Surachman dalam Ahmad Usman, 2016). H.G. Wells (2001) menulis seperti ini: “Human history becomes more abd more a race between education and catostrophe”–“Siapa memperhatikan pendidikan dia akan jaya, siapa yang menjauhi pendidikan akan mengalami kekacauan (catostrophe)”. Pendapat senada dikemukakan juga oleh pakar pendidikan seperti Edgar Faure, Allan Bloom, Myrdal, Lodge, Leibniz Albert Einstein, dan lain-lain.

Pada dimensi yang satu betapa urgen, vital, dan sakralnya pendidikan, tapi pada panorama lain, dunia pendidikan kita sedang dibalut persoalan yang multikompleks, mulai dari: pendidikan yang timpang dan tak adil, kurikulum yang sering gonta ganti, pendidikan yang terlalu elitis, mutu yang sangat rendah, masih lemahnya manajemen pendidikan, rendahnya prestasi siswa, dan masih sederet persoalan lainnya. Persoalan pendidikan, tak ubahnya melerai benang kusut dan sebuah lingkaran setan.

Saking seriusnya persoalan pendidikan dan kebudayaan, pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018 ini, ada lima isu strategis yang menjadi pokok bahasan yaitu ketersediaan, peningkatan profesionalisme, dan perlindungan serta penghargaan guru; pembiayaan pendidikan dan kebudayaan oleh pemerintah daerah; kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi dan pembangunan ekonomi nasional; membangun pendidikan dan kebudayaan dari pinggiran; dan penguatan pendidikan karakter: sekolah sebagai model lingkungan kebudayaan.

Sejumlah Problematika
Anies Baswedan (Mantan Mendikbud), pernah mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia berada dalam posisi gawat darurat. Beberapa kasus yang menggambarkan kondisi tersebut adalah: rendahnya layanan pendidikan, rendahnya mutu pendidikan, rendahnya mutu pendidikan tinggi, rendahnya kemampuan literasi anak-anak Indonesia (Ahmad Usman, 2016).
Apa bukti kualitas pendidikan kita rendah? Tahun 2012, hasil survei Progamme For International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 71 dari 72 peserta survei PISA dari berbagai negara. Masih tahun 2012, hasil Survei UNESCO, Indonesia diperingkat ke-64 dari 120 negara di dunia berdasarkan penilaian Education Development Index (EDI) atau Indeks Pembangunan Nasional. Dalam laporan program pembangunan PBB tahun 2013, Indonesia menempati posisi 121 dari 185 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia dengan angka 0,629. Tertinggal dari dua negara tetangga, yaitu Malaysia (ke-64) dan Singapura (ke-18). Tahun 2014, laporan UNESCO dalam Education For All Globar Monitoring Report, Indeks Pembangunan Nasional atau EDI, Indonesia berada pada peringkat 57 dari 115 negara.
Tahun 2015, survei PISA, Indonesia berada di posisi 69 dari 76 peserta. Tahun 2016, dilansir dari The Guardian, Indonesia menempati urutan ke-57 dari total 65 negara. Survei ini diterbitkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development. Peringkat pendidikan wilayah ASEAN 2017, berada diperingkat kelima di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.

Karakteristik pendidikan di Indonesia, sebagaimana pernah dikemukakan Tjokrowinoto (2002) adalah: (1) titik tekannya lebih pada “universal education” daripada “vocational education”; (2) lebih menekankan kuantitas daripada kualitas; (3) tidak ada “streaming” dalam seleksi siswa pendidikan menengah; (4) terdapat mitmatch antara supplay output pendidikan dan demand tenaga kerja, dalam arti terdapat excess demand pada pendidikan SD atau di bawahnya, dan oversupplay pada pendidikan sekunder dan tertier; (5) rendahnya kualitas pendidikan science dan mathematika; dan (6) methodik-didaktik yang digunakan tidak kondusif bagi proses empowerment, pembentukan kesadaran baru tentang self dan a sense of dignity.

Berdasarkan laporan Bank Dunia (Mulyasa, 2002), terdapat empat faktor yang diidentifikasi menjadi kendala mutu pendidikan di Indonesia, yaitu: (1) kompleksitas pengorganisasian pendidikan antara Depdiknas (bertanggung jawab dalam hal materi pendidikan, evaluasi buku teks dan kelayakan bahan-bahan ajar) dan Depagri dalam bidang (ketenagaan, sumber daya material, dan sumber daya lainnya); (2) praktik manajemen yang sentralistik pada tingkat SLTP; (3) praktik penganggaran yang terpecah dan kaku, dan (4) manajemen sekolah yang tidak efektif.
Masih banyak persoalan lain, jika diurutkan bisa mulai A sampai Z.

Dampak Rendahnya Kualitas Pendidikan
Rendahnya kualitas pendidikan dapat menimbulkan akibat atau dampak yang mempengaruhi berbagai sisi kehidupan. Di antara dampaknya: rendahnya mutu sumber daya manusia; rendahnya produktivitas; rendahnya daya saing; banyaknya pengangguran; banyaknya kemiskinan; rendahnya kemajuan tekhnologi; meningkatnya angka kriminalitas; tenaga kerja menjadi murah; tidak bisa bersaing atau berkompetisi dalam mencari peluang kerja, baik di bursa tenaga kerja lokal, apatah lagi internasional; kemampuan penduduk dalam memahami dan menghadapi kemajuan zaman, Iptek menjadi sulit; sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru; rendahnya penguasaan teknologi maju; perkembangan ekonomi lambat; mudah dipengaruhi isu dan berita bohong; dan adanya kebiasaan buruk di masyarakat.

Solusi dan Panacea
Setiap penyakit pasti ada obatnya (panacea) dan setiap masalah ada cara mengatasinya. Guna meningkatkan mutu, Goetsch & Davis (2000) berpendapat perlunya mengidentifikasi akar penyebab munculnya masalah. Untuk mengatasi masalah-masalah, seperti rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, dan lain-lain, secara garis besar ada dua solusi yaitu: pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa. Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan.

Baca Juga:  Kopertis IX Sulawesi Gelar Deklarasi Kebangsaan 28 Oktober 2017

Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya. Maka dengan adanya solusi tersebut diharapkan pendidikan kita dapat bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang berSDM tinggi, berkepribadian pancasila dan bermartabat.

Rendahnya kualitas guru, misal, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Selain itu, perlu kiranya dilakukan kegiatan-kegiatan dalam usaha: membentuk teacher meeting; mengadakan lokakarya atau workshop; mengadakan studi tour; gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya; standar kualifikasi; standar kompetensi dan upaya peningkatannya; sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi; rekruitmen yang jujur dan transparan; standar pembinaan karir; penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi, dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat; sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK; dan pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG, MGMP, MKKS, dan MKPS, yang perlu diberdayakan.

Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya (Susilo Bambang Yudhoyono, 2007). Susilo Bambang Yudhoyono memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu: 1) meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan. Tolak ukurnya dari angka partisipasi. 2) Menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta gender. 3) Meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional. 4) Pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan. 5) Pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah. 6) Pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. 7) Penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan. 8) Pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.
Atau lebih jelas lagi dapat kita uraikan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, yaitu: meningkatkan anggaran pendidikan, manajemen pengelolaan pendidikan, bebaskan sekolah dari suasana bisnis, perbaikan kurikulum, pendidikan agama, pendidikan yang melatih kesadaran kritis, pemberdayaan guru, memperbaiki kesejahteraan guru, perluasan dan pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
Masih banyak solusi sebagai panacea mujarab lainnya, dan bila diurutkan bisa mulai dari A hingga Z. Intinya, kalau Negara mau kuat, pendidikan harus kuat.

Memajukan Kebudayaan
Penyair Belanda Lucebert mengatakan, bahwa semua yang berharga tidak mampu bertahan (Smiers, 2008). Pernyataan itu benar karena cocok untuk menggambarkan eksistensi kebudayaan di Indonesia yang semakin lama semakin tergerus oleh ekspansi budaya global.

Budaya menunjukkan bangsa. Kebudayaan pada hakekatnya adalah rekayasa warga masyarakat pendukung budaya tersebut dalam menciptakan, menata dan melaksanakan tingkah laku yang disepakati bersama guna menjalankan kehidupan ini (Jacobus, 2006). Kebudayaan mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, dan hasil karya masyarakat (UURI No: 5/2017).

Kebudayaan selalu bersifat tertib, indah berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, bahagia, dan sebagainya. Sifat kebudayaan menjadi tanda dan ukuran tentang rendah-tingginya keadaban dari masing-masing bangsa (Dewantara; 200). Wujud dari kebudayaan ini adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain. Secara umum wujud kebudayaan dapat juga dibagi atas empat yaitu: pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu ide-ide, cita-cita, rencana-rencana, gagasan-gagasan, keinginan, kemauan. Ini adalah wujud ideal yang berfungsi memberi arah pada tingkah laku manusia di dalam di kehidupannya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai nilai-nilai, norma-norma, peraturan, pedoman, cara-cara dan sebagainya. Ini adalah wujud yang berfungsi mengatur, mengendalikan dan penunjuk arah pada tingkah laku manusia di dalam bermasyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia. Wujud ini disebut juga sistem sosial yaitu sistem yang mengatur, menata aktivitas-aktivitas manusia dalam berinteraksi, bergaul. Keempat, wujud kebudayaan benda-benda hasil karya manusia. Wujud kebudayaan ini merupakan benda-benda yang dapat diraba, dilihat melalui pancaindra, seperti mobil, kapal dsbnya. Kata “memajukan” mengandung pengertian pelestarian, penumbuhan, dan pengembangan kebudayaan.

Baca Juga:  APTISI Jadi Mata-Mata LLDIKTI Wilayah IX

Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang dimiliki bangsa Indoneisa. Di Indonesia keragaman budaya adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri lagi keberadaanya. Manfaat keberagaman budaya antara lain: promotes nilai-nilai kemanusiaan; improves produktivitas dan profitabilitas; helps untuk membuat kolam bakat; exchange ide-ide inovatif; dan other manfaat keanekaragaman.

Vitalnya Kebudayaan
Budaya tidak boleh dikesampingkan karena budaya yang baik adalah Indonesia hebat (Panut Mulyono dalam Ahmad Usman, 2017). Kebudayaan menjadi napas kehidupan bangsa. Kebudayaan berfungsi untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.Pemahaman pentingnya kebudayaan dalam keseluruhan program pembangunan bangsa menuju Indonesia yang adil, makmur, demokratis dan sejahtera. Tanpa pembangunan kebudayaan, baik itu kesenian, sastra, tradisi lokal ataupun pemikiran budaya, sebuah bangsa akan kehilangan spirit dan ruh kehidupan masyarakatnya.
Peran budaya dalam membangun bangsa sangat mendasar karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Kemajuan Korea Selatan adalah sebuah contoh nyata bagaimana kebudayaan mereka berhasil dikapitalisasi menjadi produk-produk industri kreatif. Hal ini hanya dimungkinkan jika nilai-nilai budaya mereka telah mengakar kuat sebagai sendi kehidupan masyarakat. Artinya, rakyat Korea adalah masyarakat yang menjadikan tradisi dan budaya mereka sebagai landasan dalam setiap sendi kehidupan.
Peran budaya dalam membangun dan memajukan bangsa adalah membentuk karakter dan moral bangsa. Krisis karakter, generasi muda yang tidak punya prinsip dan integritas adalah indikasi kegagalan pembangunan kebudayaan. Karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas, baik yang tercermin dalam kesadaran pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. Nilai-nilai karakter kebangsaan tersebut, meliputi: religius; jujur; toleransi; disiplin; kerja keras; kreatif; mandiri; demokratis; rasa ingin tahu; semangat kebangsaan; cinta tanah air; menghargai prestasi; bersahabat/komunikatif; cinta damai; gemar membaca; peduli lingkungan; peduli sosial; dan tanggung jawab.

Fungsi kebudayaan bagi masyarakat: sebagai identitas dan citra suatu masyarakat; sebagai pengikat suatu masyarakat; sebagai sumber inspirasi, kebanggaan dan sumber daya menghasilkan komoditi ekonomi; sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan; sebagai proses yang mempersatukan; sebagai produk proses usaha mencapai tujuan bersama dalam sejarah yang sama; sebagai kekuatan penggerak atau pengubah; sebagai kemampuan membentuk nilai tambah; sebagai pola perilaku; sebagai warisan yang disosialisasikan dan diajarkan kepada generasi berikutnya; sebagai substitusi (pengganti) formalisasi; dan sebagai program mental sebuah masyarakat.

Problematika Kebudayaan
Problematika kebudayaan sangat berbahaya jika dibiarkan, karena kebudayaan merupkan jati diri bangsa, bila itu hilang, maka dengan sangat mudah bangsa itu akan hancur dan dijajah oleh bangsa lain. Penyebab kebudayaan menjadi sebuah problematika, karena kendala kesadaran dari masing-masing orang; banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia; perkembangan teknologi yang semakin maju; perbedaan antara budaya daerah satu dengan daerah lainnya; kurangnya perhatian pemerintah terhadap budaya daerah; minimnya komunikasi budaya; kurangnya pembelajaran budaya; sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat belum kuat dalam usa¬ha pemajuan kebudayaan Indonesia.
Di samping itu, beberapa problematika kebudayaan antara lain: hambatan budaya berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang; hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan; hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan; dan masyarakat yang tersaing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luas.

Dalam hal penyebaran kebudayaan, seorang sejarawan Arnold J. Toynbee (Ahmad Usman, 2016) merumuskan beberapa dalil tentang radiasi budaya. Pertama, aspek atau unsur budaya selalu masuk tidak secara keseluruhan, melainkan individual. Kedua, kekuatan menembus suatu budaya berbanding terbalik dengan nilainya. Makin tinggi dan dalam aspek budayanya, makin sulit untuk diterima. Ketiga, jika satu unsur masuk, maka akan menarik unsur budaya lainnya. Keempat, aspek atau unsur budaya yang di tanah asalnya tidak berbahaya, bisa menjadi berbahaya bagi masyarakat yang didatangi.

Solusi Jitu
Solusi jitu sebagai usaha memajukan kebudayaan dapat diprogramkan melalui kebijakan publik (cultural policy) akan dapat diubah dan direkayasa (modifiable), dapat diukur kemajuannya (measurable), dapat dimonitor perkembangannya, dan dapat dievaluasi keberhasilannya.

UURI No: 5/2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan, secara tersurat bahwa pemajuan kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Pelindungan adalah upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan yang dilakukan dengan cara inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, penyelamatan, dan publikasi. Pengembangan adalah upaya menghidupkan ekosistem kebudayaan serta meningkatkan, memperkaya, dan menyebarluaskan kebudayaan. Pemanfaatan adalah upaya pendayagunaan objek pemajuan kebudayaan untuk menguatkan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan dalam mewujudkan tujuan nasional. Sedangkan pembinaan adalah upaya pemberdayaan sumber daya manusia kebudayaan, lembaga kebudayaan, dan pranata kebudayaan dalam meningkatkan dan memperluas peran aktif dan inisiatif masyarakat.

Solusi jitu lainnya yakni melalui pelestarian budaya. Cara melestarikan budaya, di antaranya: kenali budaya (caranya: mencari tahu tentang budaya kita, mengikuti kegiatan budaya, dan bergabung dalam komunitas); ajarkan budaya kepada orang lain (caranya: mengajar di sekitar lingkungan kita dan mengajar di sekolah); memperkenalkan budaya ke luar negeri (caranya: memposting kesenian di media sosial, mengenakan produk budaya di luar negeri, dan mengekspor barang hasil kesenian budaya); dan tidak terpengaruh budaya asing (caranya: jadikan budaya adalah identitas kita dan memilah kebudayaan asing).

Baca Juga:  Unismuh Tuan Rumah Munas Tarjih PP Muhammadiyah

Dalam menjaga dan mempertahankan kebudayaan, baik pemerintah maupun masyarakat harus memiliki peran. Peran pemerintah, di antaranya: pemerintah harus lebih memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan Indonesia ke Negara-negara lain lewat iklan atau media cetak; membuat acara pagelaran kebudayaan Indonesia di negara sendiri atau di negara lain; memberikan hak paten terhadap setiap kebudayaan yang milik bangsa Indonesia, seperti lagu daerah, tarian, alat musik; memperkenalkan dan mempromosikan tempat-tempat wisata di Indonesia; dan membuat pameran-pameran produk Indonesia. Sementara peran masyarakat, bisa berwujud: melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa Indonesia; mencintai produk Indonesia; saling menghormati dan menghargai sesama masyarakat; bersama-sama pemerintah mengembangkan dan memajukan kebudayaan-kebudayaan di setiap daerah terutama daerah terpencil yang kurang diperhatikan pemerintah ataupun masyarakat di kota-kota maju.

Cara menjaga kelestarian kebudayaan Indonesia? Pertama, culture experience. Culture experience adalah pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung, seperti contoh masyarakat dianjurkan mempelajari tarian daerah dengan baik, agar dalam setiap tahunnya tarian ini dapat ditampilkan dan diperkenalkan pada khalayak. Kedua, culture knowledge. Culture knowladge merupakan pelestarian budaya dengan cara membuat pusat informasi kebudayaan, sehingga mempermudah seseorang untuk mencari tahu tentang kebudayaan. Selain itu cara ini dapat menjadi sarana edukasi bagi para pelajar dan dapat pula menjadi sarana wisata bagi para wisatawan yang ingin mencari tahu serta ingin berkunjung ke Indonesia dengan mendapatkan informasi dari pusat informasi kebudayaan tersebut.
Solusi jitu lainnya lagi adalah pengembangan budaya. Yakni suatu proses meningkatkan atau mempertahankan kebiasaan yang ada pada masyarakat dalam kajian pengembangan masyarakat yang menggambarkan bagaimana budaya dan masyarakat itu berubah dari waktu ke waktu yang banyak ditunjukkan sebagai pengaruh global.
Selain pengembangan budaya secara makro, sebagai solusi perlu pula pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Nilai-nilai yang dikembangkan bersumber dari: agama, Pancasila, budaya bangsa, dan tujuan pendidikan nasional.

Mengacu pada keempat sumber nilai tersebut, teridentifikasi sejumlah nilai budaya dalam pendidikan karakter bangsa, di antaranya: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, rasa malu, harmoni, adil, mawas diri, hormat, kasih sayang, patuh, keteladanan, ramah tamah, santun, sportif, arif, tertib, kebebasan, berdoa, takwa, ikhlas, amanah, rasa syukur, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung-jawab, cermat, dinamis, kemajuan, kritis, komunikatif, lugas, terbuka, efektif, efisien, amal, pemurah, produktif, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Solusi cerdas lain: bagi budaya yang sudah mulai kurang gregetnya, seyogyanya direvitalisasi. Dan bagi kebudayaan yang sudah mulai pudar, maka perlu dilakukan institusionalisasi (pelembagaan), baik melalui internalisasi maupun sosialisasi kebudayaan.

Manusia bisa berubah dan menerima budaya baru, tidak serta merta. Tapi perlu tahapan, mulai dari: pertama, know. Semua stimuli dari akibat interaksi kita dan lingkungan, akan menjadi bahan dasar untuk mengetahui sesuatu, dan selanjutnya berfungsi untuk memicu munculnya perilaku. Kedua, believe. Setelah kita mengetahui sesuatu yang baru, yang sudah disaring oleh keyakinan kita. Keyakinan yang bersumber dari nilai-nilai yang terbentuk di lingkungan. Jika hal itu bermakna, maka kita pasti menerimanya. Ketiga, attitude. Sinergi antara apa yang kita ketahui dengan apa yang kita yakini, dan akhirnya membuahkan sikap. Keempat, behavior. Perilaku yang ditampilkan oleh seseorang adalah akumulasi dari know, believe dan attitude. Ketiga paduan tersebut, acapkali disebut sebagai “software”, sedangkan behavior adalah ‘hardware”-nya. Kelima, habit. Perilaku yang didemonstrasikan secara konsisten adalah kebiasaan (habit), merupakan bentuk kristalisasi perilaku. Keenam, cultutre. Budaya adalah cerminan dari nilai-nilai yang diketahui dan diyakini. Budaya merupakan pemantapan dari kebiasaan (habit). Pada tahapan inilah, perilaku seseorang sudah melekat dan sulit untuk diubah kembali, kendati ada nilai-nilai yang baru (Muchlas Samani, 2011).

Penulis: Dosen STISIP Mbojo Bima, Pengamat Pendidikan dan Penulis Buku Menjadi Guru Parpurna Sejati dan Beberapa Buku Lainnya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.