Kisah Ningsih Pedagang Boneka di Tengah Perkembangan Zaman

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Sebelumnya, Ningsih (34 tahun) menceritakan alasannya sehingga memilih untuk membuka usaha pada tahun 2012, setelah menikah.

Diusia yang tergolong muda, Ia tak ingin berpangku tangan hanya mengharapkan penghasilan suami tentu tidaklah cukup dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Ningsih yang pernah tercatat sebagai mahasiswi di Stikom Fajar jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi angkatan 2004-2008, akhirnya membuka usaha sebagai pedagang boneka.

Inline Ad

Kiosnya pun gampang ditemui, saat melintas di Jalan Sultan Alauddin tepat berada di seberang Kampus UIN. Berbagai boneka dari ukuran kecil sampai yang besar terbungkus rapi di kiosnya, harganya juga standar dari Rp 40 ribu sampai ratusan ribu.

Ningsih mengungkapkan membuka usaha sebagai pedagang boneka, tidaklah mudah. Merintis usaha ini kurang lebih 6 tahun lalu, mulanya ia berdagang di Jalan Veteran dan akhirnya memilih pindah ke Jalan Sultan Alauddin dan menetap.

Baca Juga:  Dewan Minta Pemprov Tindaklanjuti Temuan BPK Soal Lahan CPI

Ia mengakui, dengan berkembangnya zaman perkembagan penjualan boneka pun sangat pesat. Persaingan tak hanya dari pedagang toko di pinggir jalan namun toko-toko besar pun telah banyak di bangun.

Lalu, apakah dagangannya menjadi sepi dengan adanya toko-toko besar?

Ia pun memiliki jawabannya. “Persaingan tetap akan ada dalam berdagang , sampai sejauh ini kita masih memiliki pelanggan dan tidak terlalu berpengaruh dengan adanya toko-toko boneka yang ada di kota makassar, sebab barang yang kami jual itu tergolong murah dan terjangkau yang jelas kita jujur dalam menjalankan usaha” ucapnya

Peminat boneka di pinggir jalan ini cukup banyak. Harganya yang cukup murah dan terjangkau membuatnya diminati banyak pelanggan. Lokasi berjualan yang cukup ramai tentu akan menarik pengguna jalan untuk berkunjung sejenak melihat-lihat boneka atau sekedar menanyakan harga.

Baca Juga:  Ichsan Yasin Limpo Tutup Usia

Ningsih mengaku, dengan kondisi penghasilan yang perhari tidaklah seberapa, membuatnya harus banyak bersabar, jika sedang mujur ia dapat memperoleh keuntungan kurang lebih Rp 1.000.000 namun jika tidak sedang mujur tak ada boneka yang terjual.

“Kalau lagi banyak yang beli keuntungan bisa cukuplah untuk menutupi kebutuhan. Apalagi kondisi cuaca tidak menentu jika musim penghujan maka akan sepi,” imbuhnya

Yang terpenting, Ningsih mengungkapkan dalam menjalankan usaha dua hal harus menjadi perhatian kejujuran dan kepercayaan. Oleh karena itu, yang paling penting kepuasan pelanggan.

Ia pun tidak membangun usaha ini sendirian melainkan ada banyak kerja sama dari pemasok untuk menjual barang sebab membutuhkan model yang sangat besar.

Baca Juga:  Usai Dilantik, NA Belum Tempati Rujab Gubernur

(Resti Setiawati)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.