INIPASTI.COM, GOWA – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menceritakan keprihatinannya. Ia menganggap bahwa saat ini Sulsel mengalami krisis ulama. Olehnya itu, ia sangat berharap agar Pondok Pesantren (Ponpes) bisa menjadi laboratorium untuk mencetak ulama-ulama penerus ulama-ulama yang telah berpulang ke Rahmatullah.
“Saya prihatin akan krisis ulama saat ini di Sulsel. Olehnya itu, Ponpes diharapkan menjadi laboratorium ulama atau pusat kader ulama. Karena salah satu rohnya ponpes adalah pengkajian kitab kuning yang terlembaga,” ujarnya kepada inipasti.com, Jum’at, (21/7/2017).
Sebelumnya, pada peletakan batu pertama pembangunan Asrama Santri di Pasar Madani binaan Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan UIN Alauddin Makassar pada Selasa, 18 Juli 2017 lalu, Wahid Thahir menyebut bahwa negara Indonesia saat ini terkenal sebagai 3 laboratorium di Dunia. Yaitu, katanya, Laboratorium Kerukunan, Laboratorium Pengelolaan Haji, dan Laboratorium Pendidikan. “Termasuk pondok pesantren yang terkenal sebagai model pendidikan terbaik di dunia yang bukan saja tempat jamiyyatul Diniyah tapi juga jamiyyatul ilmiah,” jelasnya.
Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa rukun Ponpes di Indonesia itu adalah harus ada santri, kiyai, kitab, masjid dan asrama. Terlebih lagi, lanjutnya, lembaga pendidikan seperti Ponpes itu sudah mendapatkan rekognisi atau pengakuan kesetaraan dengan lembaga pendidikan lain. Jadi, ia menilai posisi pesantren saat ini sangat strategis dan mendapatkan porsi yang sama dalam mencetak generasi indonesia yang cerdas, bermartabat dan berakhlak karimah.
“Harapan saya agar guru atau tenaga pengajar yang ada di pesantren ini untuk terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya karena generasi yang cerdas dan terbaik bisa lahir dari guru yang cerdas dan unggul,” tutupnya. (sule)










