Kronologi Serangan di Prancis 2012-2016

Berikut kronologi serangan di Prancis sejak 2012 hingga 2016, sebagaimana dikutip dari BBC.

2012

11-22 Maret, kota Toulouse and Montauban: Penembakan oleh Mohammed Merah, 23, warga Prancis keturunan Aljazair, membunuh tiga tentara pada 11 dan 15 Maret, Sebelum menembak tiga anak-anak dan seorang guru pada sebuah sekolah Yahudi, 19 Maret.

Dia akhirnya terbunuh pada 22 Maret setelah pengepungan berkepanjangan di apartemennya di Toulouse.

2013

23 Mei, La Defense, Paris: Seorang tentara ditikam di bagian tengkuk oleh seorang mualaf, bernama Alexandre Dhaussy. Tentara tersebut selamat.

2014

20 Desember, Joue-les-Tours: Seorang berkebangsaan Prancis kelahiran Burundi menyerang tiga polisi dengan menggunakan pisau, sambil meneriakkan “Allahu Akbar”. Dia ditembak mati polisi.

21 Desember, Dijon: Seorang pengemudi meneriakkan “Allahu Akbar” sambil menabrakkan mobilnya ke pejalan kaki di Dijon, bagian timur Prancis, melukai 11 orang.

22 Desember, Nantes: Pada sebuah pasar Natal di bagian barat Prancis, 10 orang cedera ketika sebuah mobil van menabrak para pejalan kaki, sebelum pengemudinya mencoba bunuh diri.

2015

7-9 Januari, Lokasi Perkantoran Charlie Hebdo dan Supermarket Hypercacher, Paris: Said dan Cherif Kouachi bersaudara Menyerang perkantoran majalah Chalie Hebdo di Paris, menewaskan 12 orang, termasuk editor dan kartunis terkenal. Keesokan harinya, seorang wanita polisi dibunuh oleh Amedy Coulibaly, yang kemudian menduduki supermarket Yahudi dan membunuh empat orang. Kouachi bersaudara dan Coulibaly terbunuh setelah polisi berupaya membebaskan para sandera.

Baca Juga:  Remaja Keturunan Jerman-Iran, Pelaku Penembakan Mall di Munich

3 Februari, Nice: Seorang pria bersenjatakan pisau menyerang dan melukai tiga tentara yang tengah berpatroli di luar pusat pemukiman Yahudi di Nice. Penyerangnya bernama Moussa Coulibaly, seorang berkebangsaan Mali yang tdaik emmiliki kaitan dengan penembak di Paris yang memiliki nama keluarga yang sama.

19 April, Villejuif, Paris: Sid Ahmed Ghlam, seorang pria berusia 24 tahun, berkebangsaan Aljazair, ditangkap polisI setelah dia tampaknya tidak sengaja telah menembak dirinya sendiri. Para penyidik yakin bahwa dia tengah merencanakan serangan terhadap “satu atau dua gereja” di pinggiran kota Paris. Dia didakwa dengan tuduhan melakukan teror dan membunuh seorang wanita yang ditemukan dalam sebuah mobil yang terbakar.

26 Juni, Saint-Quentin-Fallavier: Seorang pria ditemukan dengan leher terpenggal dan sejumlah luka pada sebuah pabrik di dekat kota Lyon. Sejumlah ledakan terdengar dan salah seorang tersangka ditangkap polisi. Presiden Prancis Francois Hollande menggambarkan kejadian tersebut sebagai serangan teroris.

21 Agustus, Oignies: Penembakan massal dapat digagalkan di atas kereta api cepat antara Amsterdam dan Paris, ketika seorang penumpang bersenjata pistol otomatis dan sekotak cutter dilumpuhkan oleh enam penumpang lainnya. Tiga orang terluka dalam pergulatan yang terjadi pada sebuah jalur kereta api di bagian utara Prancis tersebut.

13-14 November, Paris: Penembakan dan bom bunuh diriterjadi pada sebuah gedung konser, sebuah stadion besar, restoran dan bar, hampir secara bersamaan–mengakibatkan 130 orang tewas dan ratusan orang luka. Serangan paling mematikan pada malam itu terjadi pada lokasi konser di Boulevard Voltaire, di mana grup musik rok asal Kalifornia, Eagles of Death Metal tengah menggelar pertunjukan. Delapan puluh sembilan orang tewas ketika sejumlah pria menembakkan senapan serbu jenis Kalashnikov ke arah kerumunan penonton.

Baca Juga:  Serangan Gereja Prancis: Kaum Muslim Hadiri Misa

2016

1 Januari, Valence: Seorang pria ditembak di bagian tenggara Prancis setalah dia dilaporkan menabrakkan mobilnya ke arah empat tentara yang sedang menjaga masjid. Seorang di antara tentara tersebut terluka, dan sebutir peluru nyasar mengenai bagian kepala seorang lelaki tua yang ada di lokasi kejadian.

7 Januari, Paris: Seorang pria yang kelihatan sedang mencoba menyerang kantor polisi pada acara peringatan serangan Chalie Hebdo ditembak oleh polisi. Tersangka membawa parang dan mengenakan rompi bunuh diri palsu.

13 Juni, Magnanville: Seorang komandan polisi Prancis bersama pasangannya ditikam hingga tewas di rumah mereka di bagian barat Paris oleh seorang pria yang mengaku berpihak kepada Islamic State. Anak mereka yang berusia tiga tahun, selamat. Penyerang tersebut terbunuh setelah polisi menyerbu ke dalam rumah.

14 Juli, Nice: Setidaknya 84 orang terbunuh, termasuk anak-anak, setelah sebuah truk melindas kerumunan orang yang tengah merayakan Bastille Day di bagian selatan kota Nice, Prancis. Pengendaraa truk menubrukkan truknya sejauh 2 kilometer di jalan Promenade des Anglais sekitar pukul 23:00 waktu setempat, sebelum ditembak mati oleh polisi. Saksi mata mengatakan truk berkecepatan tinggi berkelok kiri kanan dalam upaya menabrak sebanyak mungkin orang.

Baca Juga:  Yunani Keluar dari Program Bailout namun Masih Terperangkap dalam Utang

26 Juli, Saint-Etienne-du-Rouvray: Seorang pendeta terbunuh dalam sebuah serangan yang dilakukan dua orang bersenjata tajam pada sebuah gereja di pedesaan Rouen, Prancis utara. Penyerang yang memasuki gereja di Saint-Etienne-du-Rouvray pada saat misa pagi sedang berlangsung, menyandera pendeta Jacques Hamel, 84 tahun, dan empat orang lainnya, ditembak mati oleh polisi. Presiden Framcois Hollande mengatakan kedua orang itu mengaku anggota Islamic State. (arhab)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.