Lima Sebab Donald Trump Menang

Foto: Reuters

INIPASTI.COM – Donald Trump telah menyalahi semua perkiraan orang sejak awal kampanye kepresidenannya lebih dari setahun lalu.

Sangat sedikit orang yang mengira dia akan benar-benar ikut kampanye, ternyata dia ikut. Mereka mengira dia tidak akan menanjak dalam polling, ternyata namanya menanjak. Mereka berkata dia tidak akan memenangi satupun pemilihan pendahuluan, ternyata dia menang. Mereka berkata dia tidak akan menjadi calon presiden dari Partai Republik, ternyata dia yang calonkan. Akhirnya, mereka berkata tidak akan mungkin dia bisa bersaing, apalagi menang, dalam pemilu presiden.

Ternyata, kini dia adalah presiden terpilih Trump.

Berikut ini lima sebab mengapa dia mencapai sesuatu yang tak terduga oleh sebagian besar orang dan tak dapat dipahami orang banyak.

Gelombang Putih Trump

Pertaruhan dimulai. Satu demi satu negara bagian penentu, Ohio, Florida dan North Carolina jatuh ke tangan Trump.

Tinggallah wilayah biru yang dikuasai Hillary Clinton, namun wilayah biru itu pun akhirnya ada yang berubah merah.

Kubu terakhir Demokrat sebagian besar bertumpu pada pendukung fanatik Hillary Clinton di wilayah Midwest. Wilayah bagian barat dan tengah itu merupakan negara-negara bagian yang selama ini merupakan pendukung Demokrat, terutama karena dukungan suara dari kalangan kulit hitam dan kelas pekerja kulit putih.

Para kelas pekerja kulit putih itulah justru–terutama mereka yang tidak berpendidikan tinggi, pria maupun wanita–yang berbondong-bondong membelot. Para pemilih dari daerah pedesaan yang merasa terabaikan oleh kalangan mapan dan penduduk wilayah pesisir yang merasa ditinggalkan oleh para elite, muncul dalam jumlah besar untuk memberikan suara mereka.

Meskipun negara bagian seperti Virginia dan Colorado tetap setia, namun negara bagian Wisconsin jatuh ke tangan Republik–dan bersamanya jatuh pula harapan Clinton untuk jadi presiden.

Pada akhirnya, Clinton boleh jadi akan mengumpulkan suara terbanyak di wilayah-wilayah pendukung beratnya seperti di California dan New York dan wilayah Republik seperti Utah.

Baca Juga:  Trump Ajak Rusia Bobol Email Hillary Clinton (2)

Namun, Trump menaklukkan wilayah-wilayah yang harus ditaklukkannya. Dan dia menaklukannya dengan telak.

Kekebalan Donald

Trump menghina John McCain, tokoh dan veteran perang dengan banyak penghargaan.

Dia berseteru dengan penyiar populer Fox News, Megan Kelly.

Dia malah semakin menjadi-jadi saat ditanya tentang ejekannya terhadap berat badan mantan ratu kecantikan Hispanik.

Dia hanya minta maaf setengah hati ketika video tentang ucapan-ucapannya yang merendahkan perempuan secara seksual menyebar luas.

Dalam tiga debat calon presiden, dia hampir-hampir tidak dapat membela diri saat diperhadapkan dengan segala blunder masa lalu yang pernah diperbuatnya.

Namun, itu semua tidak ada pengaruhnya. Meski jajak pendapat memperlihatkan dia akan tenggelam sesaat setelah insiden-insiden hebat menerpanya, namun popularitasnya bagai gabus yang selalu mumbul kembali ke permukaan tak lama berselang.

Mungkin, berbagai macam kontoversi menghantam begitu keras dan cepat sehingga tidak sempat membuatnya berdarah. Boleh jadi kepribadian dan daya tarik Trump begitu kuat sehingga semua skandalnya bagi menguap entah ke mana. Apapun alasannya, Trump ternyata kebal hantaman.

Orang Luar

Dia bertarung melawan partai Demokrat. Di saat yang sama, dia juga bertarung melawan kekuatan mapan di dalam partainya sendiri.

Dan, dia mengalahkan mereka semua.

Trump membangun singgasananya di atas kepala lawan-lawan dari partai Republik dalam pemilihan pendahuluan. Beberapa di antaranya, seperti Marco RUbio, Ted Cruz, Chris Christie dan Ben Carson, akhirnya bertekuk lutut. Sebagian yang lain, yang tetap kukuh menentangnya, seperti Jeb Bush dan Gubernur Ohio John Kasich, kini menjadi orang luar yang memandang ke dalam Partai Republik.

Bagaimana dengan orang dalam Partai Republik, mulai dari Ketua DPR Paul Ryan sampai ke jajaran bawah? Trump tidak perlu bantuan mereka–bahkan, sebenarnya, dia mungkin menang karena keberaniannya berseberangan dengan mereka.

Baca Juga:  Saat Presiden Trump Bertemu Presiden Obama di Gedung Putih

Sikap jengkel yang diperlihatkan Trump terhadap mereka itu sangat mungkin mewakili independensinya sekaligus mewakili statusnya sebagai orang luar partai pada suatu ketika banyak publik Amerika mencaci maki Washington (meski hal itu tidak cukup untuk menghalangi sebagian besar anggota kongres incumbent yang kembali ikut pemilihan untuk terpilih kembali).

Itu adalah mood politik yang dirasakan pula oleh politisi nasional lainnya–Bernie Sanders dari Partai Demokrat, misalnya, atau Ted Cruz. Namun, tak seorang pun yang mampu memanfaatkan mood itu sebaik Trump, dan hal itu mengantarkannya ke Gedung Putih.

Faktor Comey

Jajak pendapat jelas memiliki tugas berat memprediksi bentuk dan kecenderungan pemilih, khususnya di negara-negara bagian Mideastern. Pada hari-hari terakhir masa kampanye, realitasnya adalah bahwa jajak pendapat memperlihatkan angka yang bersaing ketat yang memungkinkan Trump memiliki peluang menang.

Peluang itu sangat jauh terlihat sekitar dua minggu sebelumnya, sebelum Direktur FBI James Comey merilis suratnya yang mengumumkan bahwa mereka membuka kembali penyelidikan terhadap server email pribadi Clinton.

Memang benar bahwa jajak pendapat menjadi sedikit ketat angkanya, namun kenaikan angka poling Trump paling besar terjadi antara minggu-minggu dikeluarkannya surat pertama Comey dan surat keduanya yang menyatakan bahwa penyelidikan itu kembali tidak menghasilkan bukti tindakan kriminal Clinton.

Tampaknya, selama periode itu, Trump berhasil mengkonsolidasikan kekuatan, menarik para kaum konservatif untuk turun dan menghancurkan harapan Clinton untuk memberikan pesan penutup yang meyakinkan bagi pemilih.

Tentu saja, tindakan direktur FBI itu tidak akan ada pengaruhnya kepada Clinton seandainya dia memutuskan untuk tetap mengandalkan server email Departemen Luar Negeri AS untuk menyalurkan surat elektroniknya. Akibatnya harus dia tanggung sendiri.

Percaya kepada Instingnya

Trump menjalankan kampanye politik yang paling tidak lazim, namun hal itu ternyata memperlihatkan bahwa Trump mengalahkan para pakar politik.

Baca Juga:  Kampanye Hillary Clinton dan Partai Demokrat ''Di-hack"

Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di jalanan, bukan berkutat dengan jajak pendapat. Dia berkunjung ke negara-negara bagian seperti Wisconsin dan Michigan yang oleh para empu politik dikatakan berada di luar jangkauannnya.

Dia mengadakan kampanye besar-besaran, bukan berfokus pada kampanye dari rumah ke rumah dan mengajak orang keluar rumah memberikan suaranya.

Dia mengadakan konvensi politik nasional terpisah-pisah yang kadang kala diwarnai kekacauan dan pidato penerimaan yang lebih cocok dikatakan pidato paling buruk dalam sejarah politik Amerika Serikat modern.

Dia kalah jauh dalam hal dana kampanye dibanding yang dikeluarkan tim kampanye Clinton, seperti halnya pada saat dia berkampanya untuk pemilihan awal partai Republik. Dia menjungkirbalikkan konsensus lama mengenai cara untuk memenangi pemilihan presiden. Semua keputusannya dicemooh di lingkaran “orang pandai”.

Namun, pada akhirnya, semua jerih payahnya berhasil. Trump bersama lingkaran dalamnyalah–anak dan penasihat terdekatnya–yang akan tertawa paling belakangan. Dan, tawa renyah itu akan mereka lepaskan dari Gedung Putih.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.