INIPASTI.COM, MAKASSAR – Caleg DPR RI Dapil 1 Partai Golkar, Muhammad Risman Pasigai menyasar pemilih milenial pada Pileg 2019 mendatang. Risman menganggap, pemilih milenial punya peran besar dalam menentukan figur wakil rakyatnya di Senayan.
Untuk meraih dukungan pemilih milenial, Risman mengaku punya caranya sendiri. Besar di banyak organisasi mahasiswa dan kepemudaan, Risman tahu betul cara mendapat simpati pemilih anak muda.
Menurutnya, saat ini anak muda banyak dianggap remeh soal urusan politik. Padahal, anak muda menurutnya punya kemampuan berinovatif, kreatif dan visioner.
Bahkan banyak anak muda saat ini yang teruji dalam mengelola pemerintah dengan baik.
“Dan yang terjadi sekarang, anak muda jarang diberi kesempatan oleh cara berfikir kebanyakan. Padahal kan ada pemimpin muda sekarang, kayak Adnan (Bupati Gowa), Seto (bupati Sinjai terpilih),” lanjut Risman.
Ia juga melihat, kultur politik di Indonesia saat ini, belum ada ruang yang besar diberikan bagi anak muda dalam berbagai kontestasi politik. Karena, pilihan politik masih sangat ditentukan oleh kedekatan emosional, kultural dan geng.
“Padahal idealnya orang menentukan pilihan itu karena visi-misinya, karena inovasinya. Itulah menurut saya, anak muda itu sangat susah untuk bertarung secara fair dengan kompetitor-kompetitor yang dari segi umur lebih tua,” lanjut Ketua DPP KNPI ini.
Makanya menurut mantan jubir Nurdin Halid-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar di Pilgub Sulsel ini, jangan heran kalau banyak anak muda yang dianggap remeh dalam politik. Padahal jelas-jelas, anak muda itu menawarkan gagasan baru.
“Coba kita beri ruang, pasti anak muda akan memberi yang lebih untuk Indonesia, untuk Sulsel. Dan isu anak muda sebenarnya, belum menjadi konsumsi publik untuk menentukan pilihan politiknya. Istilahnya belum menjadi dominan,” tambah eks Wakil Ketua PB HMI ini.
“Saya melihat banyak persepsi bahwa kaum milenial itu tidak lebih daripada gaya saja, style. Padahal yang sebenarnya kita harapkan, cara berpikirnya jauh kedepan, lebih kreatif,” ujarnya.
Sehingga menurut Risman, cara pandang seperti itu mesti dihilangkan. Masyarakat mesti memberi kesempatan bagi anak muda.
“Politik itu bagaimana strategi pemenangan, tidak berpikir tua atau muda. Makanya, milenial itu bukan gaya atau style sebenarnya, tapi melinial itu cara berpikir dan gagasan baru,” urai Risman.
(Muh Seilessy)










