INIPASTI.COM, MAKASSAR –Dari kasus prostitusi Online merebak di Makassar membuat banyak pihak merasa amat prihatin, apalagi perempuan yang terlibat jaringan prostitusi online adalah mahasiswi, ibu rumah tangga, bahkan ada pegawai swasta. Lebih mengejutkan lagi, mucikarinya adalah pegawai honorer pemerintah kota. Apa sesungguhnya yang membuat mereka nekat melakukan perbuatan yang memalukan itu?
Dalam kacamata sosiologi, seorang wanita rela menjual kehormatannya atau terjun ke dunia prostitusi karena tiga alasan utama. Pertama soal kebutuhan hidup, kedua, berkembangnya ambisi untuk hidup berlebih, dan ketiga, wanita cenderung terpengaruh gaya hidup mewah atau hedonistik. Ketiga alasan ini bisa tumbuh dalam diri manusia karena terjadinya krisis rasa syukur, tidak pernah puas, selalu mau menjadi pusat perhatian, menjadi fokus bagi lingkungannya. Untuk menghindari masalah ini, lingkungan sosial dan pranata sosial harus meletakkan kehormatan dan harga diri sebagai sesuatu yang penting. Selain itu, fungsi agama harus diletakkan sebagai pilar utama dalam keluarga dan kehidupan masyarakat.
Terungkapnya praktik prostitusi online secara terselubung dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Kalangan yang tak memiliki pekerjaan, bisa jadi melihat dunia prostitusi sebagai jalan mendapatkan banyak uang dengan cara mudah. Apalagi, belum ada undang-undang yang mengatur tentang pemberian sanksi bagi para pekerja seks.
“Ini berbahaya, karena ketika (pemberitaan prostitusi) ini terbuka dan orang-orang jadi berbondong-bondong tertarik untuk jadi pelacur. Karena bayarannya besar dan tidak ada risiko jerat hukum. Akhirnya orang yang tidak punya pekerjaan, tidak ada pendidikan, memilih jadi pelacur,” ujar Dr. Adi Sumandiar, Sosiolog alumni UNM Makassar.
Menurut Adi, masyarakat cenderung suka meniru saat melihat seseorang berhasil mendapatkan uang banyak dengan cara prostitusi. Sehingga masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan luas dan keterampilan akan mencoba hal yang sama.
“Lihat sejumlah fakta, ada banyak orang Indonesia justru meniru untuk menjadi kaya nggak perlu bekerja keras. Apalagi orang yang susah hidupnya. Dampak sosialnya akan diikuti anak remaja,”tutup Adi. (*ipc)










