Mengagungkan Arafah

Dr. Atabik Luthfi, Lc, MA (Ketua Bidang Dakwah PP IKADI)

Oleh: Dr. Atabik Luthfi, Lc, MA
(Ketua Bidang Dakwah PP IKADI)

INIPASTI.COM, Secara bahasa, Arafah berasal dari kata ‘Arafa – Ya’rifu: mengetahui dan mengenal. Implementasinya mengenal kelemahan diri, sekaligus lebih mengenal (ma’rifat) keagungan Allah swt. Allah swt berfirman menegaskan keagunganNya dan kelemahan hambaNya:
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَاۤءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِیُّ ٱلۡحَمِیدُ
“Wahai manusia! Kamulah yang Fakir (bergantung kepada Allah; dan Allah Dialah Yang MahaKaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji”. (QS. Fâthir: 15)

Inline Ad

Merujuk kepada Al-Qur’an dan hadits, Arafah dapat difahami sebagai nama bagi suatu tempat di Mekah, dan juga nama bagi hari kesembilan bulan Dzulhijjah. Sebagai nama tempat atau nama hari, Arafah tetap diyakini keagungannya, baik bagi yang sedang menunaikan ibadah haji, maupun yang berada di negerinya masing-masing
Arafah sebagai tempat yang agung, mengharuskan semua jama’ah haji berwukuf di tempat tersebut, tanpa terkecuali. Seorang yang sakit atau uzur sekalipun, harus berada di Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Tentang lokasi wukuf ini, Allah swt menyebut di surat Al-Baqarah: 198:
فَإِذَاۤ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَـٰتࣲ فَٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَشۡعَرِ ٱلۡحَرَامِۖ وَٱذۡكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمۡ
“Maka apabila kalian (jama’ah haji) bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharām. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu…”. (QS. Al-Baqarah: 198). Sedangkan Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu Arafah”. [HR. Tirmidzi, Nasâ’i, dan Ibnu Mâjah]. Isyarat hadits ini bahwa wukuf di Arafah adalah rukun utama ibadah haji, tanpanya harus mengulang haji tahun depan.

Arafah sebagai waktu, yaitu hari ke 9 Dzulhijjah banyak disebutkan oleh Al-Qur’an dan hadits sebagai waktu utama untuk berpuasa, memperbanyak dzikir dan do’a. Diantaranya, Puasa hari Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang. Rasulullah saw bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“Puasa hari Arafah aku harapkan dari Allâh  bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya”. [HR. Muslim]

Do’a dan munajat hari arafah adalah yang terbaik di sisi Allah swt.
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan juga para nabi sebelumku adalah ” Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allâh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan semesta dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [HR. Tirmidzi]

Arafah juga disebut oleh Al-Qur’an sebagai hari yang disaksikan ‘Masyhud’, berdampingan dengan hari jum’at yang disebut ‘Syahid’: hari yang menyaksikan, sebagaimana tafsiran mayoritas mufassir terhadap ayat:
وَشَاهِدࣲ وَمَشۡهُودࣲ
“Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan”. (QS. Al-Burûj: 3)
Di ayat yang lain, Allah swt mengisyaratkan Arafah sebagai hari yang ganjil, berdampingan dengan Idul Adha sebagai hari yang genap.
وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ
“Demi yang genap dan yang ganjil”
(QS. Al-Fajr: 3)

Intinya, apakah Arafah sebagai tempat wukuf bagi jama’ah haji, maupun sebagai hari berpuasa dan berdo’a bagi seluruh umat Islam, akan tetap sebagai hari agung sepanjang masa. Oleh karena itu, keagungan Arafah berlaku bagi siapapun yang mengagungkannya, tanpa membeda-bedakan hari yang ditetapkan, karena perbedaan mathla’ bagi masing-masing negeri.

Mari kita agungkan bersama hari Arafah ini, dengan saling mengingatkan diri akan keagungan Dzat yang berkenan menghadirkan Arafah tahun 1443 H untuk kemuliaan kita semua. Insya Allah

Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.