INIPASTI.COM – Ulasan berikut ini merupakan kutipan langsung dari Majalah Wisatahati Edisi Maret 2018 pada Rubrik Teras Ustadz Yusuf Mansur.
Apabila kita telah berusaha dan bekerja keras. Apabila kita telah jalani salat yang lima waktu. Apabila kita sudah melakukan Salat Dhuha, Tahajud, Dzikir, shalawat, dan Doa. Namun tetap miskin juga, tak perlu minder apalagi protes pada-Nya.
Seorang anak bertanya kepada ibunya, Ibu mengapa kita miskin? Dengan tenang Sang Ibu berkata,
“Hidup ini seperti jalan-jalan di supermarket, semua orang boleh memiliki dan membawa barang apa saja yang ia inginkan. Siapa yang membawa sepotong roti, maka ia harus membayar seharga sepotong roti. Siapa yang membawa 3 potong roti, ia pun harus membayar 3 potong roti. Sementara kita tak mungkin membawa apa-apa, karena tak punya uang untuk membelinya. Di pintu kasir pun, kita tak akan diperiksa, dibiarkan jalan begitu saja.”
“Begitu pula kelak di Hari Kiamat nak. Saat orang-orang kaya antri menjalani pemeriksaan untuk dimintai pertanggungjawaban. Saat orang-orang kaya ditanya tentang, Dari mana hartanya mereka peroleh? Dan kemana hartanya mereka gunakan? Kita dibiarkan terus berjalan tanpa beban. Lebih enak bukan!?, Apakah engkau masih juga belum bisa menerima?”
“Anakku, jika kita memang ditakdirkan menjadi orang miskin: Bersabarlah sejenak, karena setelah kematian, kemiskinan itu akan sirna. Berpikirlah positif, barangkali jika kita kaya belum tentu bisa lebih bertakwa. Mungkin juga, dengan kemiskinan kita akan lebih mudah meraih Surga-Nya. Jangan pernah minder, karena kaya dan miskin bukanlah ukuran mulia dan hinanya manusia.”
“Tetaplah berprasangka baik pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Singkirkan cemburu, buanglah tanda tanya tentang kehendak Sang Pembagi Nikmat. Mungkin jatah buat kita masih tersimpan di Surga, menunggu kita siap menerima,”
Subhanallah, ini sebagai bahan renungan dan diskusi. Aslinya, hisab tidak bakal ada cerita lama. Sarii’ul hisaab, teramat cepat hitungannya. Toh, kita gini saja kan.
Di Indonesia saja, kita semua di kehidupan sehari-hari, pembukuan itu bakal susah diauditnya jika tidak benar pembukuannya, jika banyak bolongnya, banyak pengurangan atau penambahan yang tidak jelas. Tapi jika rapi dari awal, benar, lengkap, maka audit itu tidak susah, cepat, dan lancar.
Nah, bagaimana pembukuan dan pencatatan Allah? Jika seseorang menjalani kehidupan ini, lalu ada ketetapan Allah, ia miskin. Tapi ia bersabar, ga ngeluhan (tidak sering mengeluh,red) ga ngegerutuan (tidak sering menggerutu,red), tidak minta-minta sama manusia, tidak membawanya pada maksiat. Insya Allah, kemiskinannya itulah ibadah dan amal salehnya. Apalagi jika ia memang rajin dan taat beribadah.
Hisabnya, bisa jadi ‘lebih lama’ juga dari orang miskin biasa. Sebab kebaikannya -bahwa ia tidak mengeluh dan seterusnya- dihitung setiap waktunya.
Dan sebaliknya pun bisa ‘lama juga’ hisabnya. Sebab gerutuan (sering menggerutu,red) dan sebagainya. Ya, dihitung juga oleh Allah di hari hisab kelak.
Dan orang kaya juga bila saleh dan banyak dermanya, itu yang membuat lama sikit (sedikit,red) hisabnya. Sebab, misalnya dia bangun sepuluh masjid, punya 3 pabrik dengan 6000 karyawan, punya sekolah dengan belasan ribu anak, ya, lama dikit jadinya. (*)










