Oleh : Ahmad Usman
Dosen Universitas Mbojo Bima
Inipasti.com, Scripta manent, verba volant.” Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap bersama hembusan angin” (Arianto, 2007). Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian (Pramoedya Ananta Toer). Menulis merupakan suatu seni keabadian yang mutlak, jika seseorang hanya mengandalkan kemampuan ingatannya saja, maka ilmunya juga ikut sirna setelah jasadnya tiada, tetapi jika ditorehkan kepada tetesan tinta dan terabadikan dengan seksama, maka itu akan membuat “flashback” bagi pembacanya yang pasti akan mengangan-angan siapa sang penulisnya (Asymuni, 2016).
“Jika Anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah Anda meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau berbuatlah sesuatu yang patut diabadikan” (Franklin).
“Apabila engkau bukan putra raja atau putra ulama besar, maka menulislah!” Itulah kalimat yang selalu diucapkan Al-Ghazali, salah seorang cendekiawan muslim yang termashur.
Begitulah kira-kira apa yang disampaikan Imam Al-Ghazali kepada kita tentang urgensi menulis ilmu. Semua pasti sepakat jika para ilmuan Barat dan Islam dikenal karena karyanya yang fenomenal. Sebut saja, Aristoteles, Plato, Karl Marx, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, dan Al-Ghazali adalah segelintir orang yang membuktikan dirinya layak disebut intelektual dengan buku-buku yang dihasilkannya (Radar Bangka, 25 Februari 2015). Ada ungkapan menarik yang bisa kita jadikan motivasi untuk menumbuhkan rasa semangat menulis. Kurang lebih begini isi ungkapan tersebut: “Kalau kamu ingin mengenal dunia, maka membacalah, tapi kalau dunia ingin mengenalmu, maka menulislah.”
Ma’al hibral ilal maqbarah begitulah kira-kira Imam Ahmad bin Hambal memotivasi dirinya. Ma’al hibral ilal maqbarah arti sederhananya : bersama pena sampai keperistirahatan, alias kuburan. Kita tahu sendiri bahwa Imam Ahmad bin Hambal termasuk salah satu ulama yang karyanya kekal sampai sekarang dan dibaca oleh milyaran manusia di muka bumi ini. Menurut hemat saya, menulis bukanlah suatu hal yang mudah, tapi juga bukanlah suatu hal yang sulit. Menulis dianggap sulit bagi mereka yang tidak mau memulainya, tapi bagi mereka yang mau untuk memulai, menulis akan menjadi mudah, asyik dan menggembirakan. Perlu diketahui, menulis butuh waktu, proses dan renungan. Sebab, hakikat tulisan terpancar dari pikiran dan hati. Boleh jadi konten tulisan yang radikal berawal dari pikiran dan hati yang sedang marah. Begitupun sebaliknya, saat suasana pikiran dan hati tenang, alur tulisan pun menjadi damai dan nyaman. Menulis tidak jauh berbeda dengan ucapan. Sebab tulisan merupakan ungkapan lisan yang tersampaikan dengan bentuk huruf yang berawal dari buah pikiran, pengetahuan dan pengalaman. Karena tulisan adalah bahasa lisan (ucapan) yang tersampaikan dengan tarian tangan, maka setiap ucapan yang bermuara dari hati akan masuk ke hati, begitupun setiap rangkaian kata (tulisan) yang keluar dari hati akan berlabuh di hati pula (Asymuni, 2016).
Guru dan Budaya Menulis
Nah, bagaimana budaya menulis para pendidik kita?
”Jika ruang kelas dengan segala isinya, termasuk para siswa, diibaratkan tata surya, maka guru adalah mataharinya. Guru adalah pusat di mana seluruh planet berputar mengelilinginya. Segala energi yang ada, tidak akan berarti apa-apa ketika dia tidak ada” (Anang, 2013)
Ranah tugas seorang guru idealnya tidak lagi dibatasi tembok-tembok ruang kelas, tetapi harus sudah mampu merambah ke “dunia lain”; dunia yang akan terus melecutnya menjadi sosok inspiratif; sosok yang mampu mengilhami peserta didik menjadi generasi masa depan yang cerdas, baik secara intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial. Di tengah rumit dan kompleksnya situasi peradaban yang kian mengarah pada atmosfer global, peran guru jelas makin sarat tantangan. Ia tidak hanya dituntut untuk mentransfer setumpuk ilmu dan teori kepada siswa didik, tetapi diharapkan juga mampu menorehkan tinta sejarah dalam ornamen peradaban. Ia tidak harus terjebak menjadi guru kurikulum yang hanya menjadikan murid sebagai “tong sampah” ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjalankan peran kemanusiaannya sebagai guru inspiratif dalam kurikulum kehidupan yang sesungguhnya. Peran kemanusiaan itu mewujud dalam sebuah aksi pemikiran kreatif, kritis, cerdas, dan mencerahkan melalui tulisan sebagai media beraktualisasi dan katarsis diri di tengah meruyaknya berbagai fenomena hidup dan kehidupan yang kian anomalis, barbar, dan korup. Bertahun-tahun lamanya, guru dininabobokan oleh adagium “pahlawan tanpa tanda jasa” yang –disadari atau tidak—telah melumpuhkan daya kreativitas guru sebagai pionir perubahan (Sawali, 2012).
”Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau kamu memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkannya terlepas begitu sahaja” (Imam Syafi’i).
“Membacalah, maka dunia akan terbaca olehmu. Dan menulislah, maka kamu akan tertulis oleh dunia.” Demikian kalimat para bijak. Tulisan ini, mengingatkan kita kepada quotenya Pramoedya Ananta Toer yang sangat dahsyat, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tdak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Untaian kalimat bijak lain: ”Ilmu itu bagaikan binatang buruan. Tulisan adalah pengikatnya.” “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” (Ali bin Abi Thalib). Dengan menulis, ada pesan yang disampaikan, dan dengan menulis ada tabungan kata-kata hikmah yang dapat disimpan menuju keabadian. “Bangsa besar adalah bangsa yang menulis.”
Berdasarkan kata-kata bijak nan arif-filosofis tersebut tampaknya bangsa Indonesia cukup sulit untuk menjadi bangsa besar. Hal ini dapat dilihat dari budaya tulis (writing culture) bangsa Indonesia yang sangat rendah. Rendahnya budaya tulis barangkali terasa wajar jika dialami oleh masyarakat awam saja. Namun, yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa kaum intelektual seperti siswa/pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen juga menderita penyakit budaya tulis yang parah.
Budaya menulis adalah suatu budaya yang tidak dapat dipisahkan oleh setiap manusia, khususnya bagi para guru. Menulis adalah bakat yang selalu ada dalam setiap individu. Namun untuk mengasah lebih dalam, itu ada pada potensi diri masing-masing.
Pada dasarnya budaya menulis di Indonesia sangat rendah, kalau budaya lisan paling jago, seperti infotainment, gosip, kasak kusuk dan sejenisnya.
Budaya tulis itu bukan sekadar menulis, atau membaca dan menulis. Budaya tulis itu menciptakan kontinuitas antara tulisan dan kehidupan. Kalau tulisan bisa menjadi kehidupan, maka baru bisa disebut sebagai budaya tulisan. Misalnya, seperti tulisan tersebut menjadi sumber bacaan yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak, yakni majalah, surat kabar dan buku.
Jumlah buku yang dihasilkan oleh penduduk sebuah bangsa setiap tahunnya dapat menjadi barometer tingkat kemajuan sebuah negara. Tingkat kesadaran sebuah penduduk dalam sebuah bangsa akan pentingnya membaca dan menulis merupakan faktor terpenting akan banyaknya penulis yang menghasilkan karya setiap tahunnya.
Budaya tulis-menulis merupakan hal yang ekslusif karena tidak semua orang dapat melakukannya. Berbeda dengan budaya lisan, interaksi lewat bahasa tulis juga dapat bersifat dua arah namun juga dapat bersifat satu arah saja.
Budaya menulis harus menjadi kebiasaan hidup (habitus) para pendidik. Artinya menulis itu menjadi kebutuhan, sama dengan makan, minum, ataupun berpakaian. Kalau tidak menulis, rasanya badan sakit, bahkan seperti mau mati. Ingatlah bahwa sebagai pendidik, kita punya kewajiban luhur untuk menulis dan menyebarkan karya penelitian maupun pemikiran kita untuk para peserta didik kita, serta untuk masyarakat yang lebih luas.
Guru yang sering menulis tidak hanya kaya akan pengetahuan dan berwawasan luas, tetapi juga akan lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya. Kepekaan terbentuk karena mereka terbiasa menajamkan mata dan telinga untuk menyimak dan menelisik segala peristiwa yang ada di sekitarnya.
Guru sebagai pendidik dan narasumber bagi peserta didik, pada dasarnya mempunyai energi dan potensi yang strategis untuk menulis. Betapa tidak, dengan bekal ilmu dan pengalaman, dapat membuahkan sumber inspirasi bagi perbaikan strategi, metode atau model pembelajaran yang efektif. Bukan sesuatu yang mustahil, apa yang disampaikan dan dideskripsikan guru melalui tulisannya akan memberikan kontribusi bagi banyak kalangan. Suka duka menjadi seorang guru, plus minus sebagai pendidik, serba serbi kehidupan guru, alangkah eloknya jika ditulis oleh guru itu sendiri. Jadi jurus pertama adalah memulai menulis.
Guru Menulis : Mengapa?
Ada beberapa hal mengapa guru harus menulis. Sugiantoro (2021) memberikan beberapa alasan argumentatif sebagai berikut. Pertama, menyampaikan pemikiran, gagasan, pengalaman, bahkan uneg-uneg. Potensi pemikiran guru begitu besar, maka perlu dituliskan. Pemikiran guru terkait dunia pendidikan sebenarnya dibutuhkan. Guru perlu menghargai gagasan-gagasannya dengan menulis agar bisa terekam dan dibaca banyak orang. Disadari atau tidak, apa yang dituliskan guru itu memiliki nilai penting. Kalangan di luar dunia pendidikan bisa membaca wajah pendidikan dari guru secara langsung. Malah apa yang dituliskan oleh guru bisa menopang pengembangan teori atau ilmu kependidikan. Pengalaman guru dalam mengajar yang dituliskan akan menjadi pelajaran dan refleksi tersendiri. Tidak ada salahnya guru menyampaikan keluh kesah dan uneg-uneg terkait dunia pendidikan dengan menuliskannya.
Kedua, memberi keteladanan bagi siswa. Saat ini rendahnya kemampuan menulis siswa juga dikeluhkan. Meminjam Taufik Ismail, generasi saat ini lumpuh menulis dan rabun membaca. Dengan menulis, guru bisa memberikan keteladanan bagi siswa-siswanya untuk aktif menulis. Tidak mungkin kita sebagai guru menganjurkan siswa menulis, padahal kita sendiri tidak menulis. Dengan melihat gurunya menulis, siswa terpacu untuk berkarya sebagaimana gurunya. Membangkitkan budaya menulis (dan membaca) para siswa, dibutuhkan keteladanan dari guru.
Ruang aktualisasi guru menulis tidak terbatas. Guru bisa menulis di jurnal, majalah dan koran. Pihak sekolah bisa membangun jaringan dengan berbagai pihak untuk menyalurkan karya tulis guru. Bahkan, ada jurnal dan majalah ilmiah yang diterbitkan pihak perguruan tinggi yang bisa ditembus guru. Guru bisa menembus rubrik-rubrik di koran, termasuk rubrik surat pembaca. Malah bisa saja guru membuat dan menerbitkan buku. Jika Andrea Hirata bisa menceritakan kondisi pendidikan di kampung halamannya lewat “Laskar Pelangi”, mengapa guru tidak bisa? Sekali lagi, pemikiran, gagasan, pengalaman, dan uneg-uneg guru sangat berharga karena gurulah pelaku pendidikan yang terjun langsung di lapangan. Maka, tuliskanlah!
Marijan (2012), mengemukakan bahwa rendahnya minat menulis di kalangan guru disebabkan oleh tujuh hal, yakni: (1) minimnya pemahaman akan manfaat menulis; (2) cara pandang yang masih keliru, menulis hanya untuk memenuhi persyaratan administrasi kenaikan pangkat; (3) tidak punya waktu untuk menulis karena tanggung jawab profesi yang berat; (4) rendahnya minat baca; (5) kurangnya informasi wadah publikasi karya; (6) belum maraknya lomba menulis; dan (7) kurang tertantang.
Tujuan dan Manfaat Menulis bagi Guru
Menurut Semi (2007) tujuan menulis antara lain: a) untuk menceritakan sesuatu, b) untuk memberikan petunjuk atau pengarahan, c) untuk menjelaskan sesuatu, d) untuk meyakinkan, dan e) untuk merangkum. Lalu Elina, Zulkarnaini, dan Sumarno (2009), tujuan menulis adalah: a) menginformasikan, b) membujuk, c) mendidik, dan d) menghibur.
Fatima Mernissi dalam ”Quantum Writing”-nya (2003) mengatakan: ”usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit Anda akan segar kembali akibat kandungan yang luar biasa! Dan saat Anda bangun, menulis meningkatkan sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali.” Menulis dapat menjernihkan pikiran, menulis mengatasi trauma, menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, menulis membantu memecahkan masalah, menulis bebas membantu kita ketika kita terpaksa harus menulis (Pennebaker dalam Priyadi, 2014).
Hairston (Nursisto, 2000) mendeskripsikan manfaat menulis, di antaranya sebagai sarana menemukan sesuatu, dapat memunculkan ide baru dan sarana mengungkapkan diri, melatih kemampuan, mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep, membantu menyerap dan memproses informasi, melatih berpikir aktif serta mengembangkan pemahaman dan kemampuan menggunakan bahasa.
Sebagaimana dikutip dari buku Pedoman dan Aplikasi Karya Tulis Ilmiah (Widya, 2013), setidaknya ada lima manfaat di antara sederet faedah lain dari kegiatan menulis bagi guru dan dosen. Terutama menulis buku. Pertama, Anda mendapatkan kepuasan jiwa karena sudah menuangkan gagasan kreatif. Kepuasan menulis identik dengan seorang penulis yang telah merampungkan karya besarnya. Kedua, Anda memperoleh nama baik dan dikenal luas oleh publik. Dengan munculnya nama Anda berulang-ulang, baik di media massa maupun dunia perbukuan, Anda akan diingat seumur hidup. Ketiga, menulis (artikel ilmiah populer dan buku) akan mendukung dan memperkuat citra profesi Anda. Keempat, tajamnya tulisan Anda dapat menggetarkan dinding-dinding kekuasaan yang angkuh dan merobohkan tembok keangkuhan. Terakhir, jika kita kembali ke pangkuan Ilahi, tulisan kita akan tetap hidup. Api semangat yang kita kobarkan tetap tertanam di lubuk hati pembaca.
Hairston (Darmadi, 1996), mengemukakan ada tujuh alasan yang jauh lebih penting, yaitu : 1) Kegiatan menulis adalah sarana untuk menemukan sesuatu. Dengan menulis kita dapat merangsang pemikiran kita. 2) Kegiatan menulis dapat memunculkan ide baru. 3) Kegiatan menulis dapat melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep ide yang kita miliki. 4) Kegiatan menulis dapat melatih sikap obyektif yang ada pada diri seseorang. 5) Kegiatan menulis dapat membantu diri kita untuk menyerap dan memproses informasi. 6) Kegiatan menulis akan memungkinkan kita untuk berlatih memecahkan beberapa masalah sekaligus. 7) Kegiatan menulis adalah suatu bidang ilmu akan memungkinkan kita untuk menjadi aktif dan tidak hanya menjadi penerima informasi.
Beberapa manfaat menulis bagi guru menurut Sukarto (2010) dapat diidentifikasi sebagai berikut. (1) Menulis menjadi media untuk menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran mengenai berbagai hal, khususnya terkait dengan tugas dan fungsinya sebagai tenaga pendidik. (2) Menulis merupakan media untuk mengembangkan kemampuan guru dalam memecahkan masalah. Menulis merupakan salah satu cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru di kelas dan di sekolah atau berbagai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini. Dalam hal ini, berkaitan dengan fungsinya sebagai pendidik. (3) Menulis bermanfaat untuk kelancaran kenaikan pangkat guru, baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Guru yang mampu menulis buku atau artikel dinilai sebagai guru yang memiliki kemampuan lebih dalam profesinya. Tulisan yang dibuat oleh guru juga mencerminkan sejauhmana guru memiliki penguasaan kompetensi terhadap bahan ajar/pengetahuan terkait dengan bidang/ruang lingkup pengetahuannya. (4) Menulis bermanfaat untuk pengembangan materi atau bahan ajar dalam mata pelajaran yang diembannya. Dengan menulis, seperti menulis buku mata pelajaran, berarti guru telah melakukan pengembangan materi pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik. Materi tersebut akan dibaca dan dianalisis oleh guru-guru lain, khususnya guru yang memiliki mata pelajaran sama atau satu rumpun pelajaran. Berdasarkan analisis itulah, guru akan mendapatkan masukan, kritik, saran, dan pengembangan dari tulisan yang dibuatnya. (5) Tulisan yang dibuat oleh guru akan menjadi investasi bagi dirinya untuk kepentingan akhirat. Guru yang meyakini bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan akhirat, maka ia akan termotivasi untuk banyak menulis. Dengan menulis, ia yakin telah berbuat kebaikan. Bahkan ketika ia telah tiada. Perkembangan Islam sampai saat ini merupakan salah satu contoh dari jasa para penulis al-Quran dan al-Hadist. Tanpa teks al-Quran dan al-Hadist, kita akan sulit untuk menerima kebenaran Islam sebagai agama yang hakiki di muka bumi ini. (6) Menulis akan mengikat pengetahuan yang dimiliki oleh penulis itu sendiri. Dengan menulis, guru dapat membuka kembali pemahamannya mengenai sesuatu yang ditulis dan mengembangkannya dengan lebih mudah. Tanpa ada tulisan, guru akan sulit mengembangkan materi bahan ajar dan pengetahuan yang dimilikinya. (7) Menulis merupakan bagian dari pertanggungjawaban profesi terhadap stakeholdernya (berbagai pihak yang menggunakan jasanya). Guru yang menulis sudah barang tentu akan selalu berinteraksi dengan pelanggan-pelanggannya, seperti siswa, guru lain, orang tua, dan dunia usaha/dunia industri. Semua pihak tersebut sangat berkepentingan untuk melihat sejauhmana guru memiliki kemampuan atau tidak dalam bidang profesinya (mata pelajaran/bidang studinya). (8) Menulis juga dapat menghantarkan penulisnya sebagai jutawan. Banyak penulis yang kemudian menjadi unjuk kemampuan untuk menulis ide, pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan yang menarik. Setiap tulisan yang dimuat dalam media cetak akan mendapatkan honor, demikian halnya tulisan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh penerbit akan mendapatkan honor yang besar. (9) Menulis akan menghantarkan penulisnya sebagai seseorang yang terkenal. Simak saja pengalaman penulis novel “ayat-ayat cinta” Habiburrahman El Shirazy, karena novel yang ditulisnya, siapa yang tidak mengenal beliau. Selain novelnya difilmkan, dia menjadi terkenal di mata penulis, masyarakat, tokoh politik, guru, umat Islam, dan berbagai kalangan anak-anak, remaja, pemuda, dan orang tua. Selain itu buku lainnya pun akan difilmkan juga. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menulis Habiburrahman El Shirazy menjadi terkenal.
Khususnya manfaat menulis di media massa itu cukup banyak. Di antaranya, pertama, ini kiranya yang terpenting, yakni untuk mendapatkan nilai kredit (credit point) bagi profesinya sebagai guru. Dengan menulis guru yang bersangkutan akan mendapatkan nilai angka kredit, dan ini berdampak langsung bagi karier/kepangkatan. Kedua, dengan menulis seorang guru dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Tulisan-tulisan yang berhasil dimuat di media massa bisa lebih meyakinkan dirinya lagi bahwa ia memiliki kualitas. Tulisan-tulisan itu dapat menjadi bukti nyata dari kualitas dan kapabilitasnya sebagai seorang pendidik. Ketiga, dengan menulis secara kontinu, berarti seorang guru telah mengedukasi masyarakat. Jadi, guru tak hanya mendidik para siswa di sekolah, bahkan juga menjadi ‘guru’ bagi masyarakat. Dengan menulis, para guru yang penulis dapat berbagi (sharing) kepada masyarakat pembaca melalui ide-ide yang dituangkan ke dalam artikelnya. Alangkah menyenangkan kalau melalui artikel-artikelnya di media cetak para guru juga bisa berbagi kepada masyarakat luas, bukan? Masyarakat kita tentu akan semakin cepat meningkat kecerdasan dan meningkat pula pengetahuannya melalui bantuan para guru yang penulis.
Keempat, dengan menulis seorang guru akan mendapatkan tambahan penghasilan dari honorarium yang diterima atas dimuatnya tulisannya di koran atau majalah. Sebutlah, misalnya, dalam sebulan ia dapat meloloskan artikelnya sebanyak 4 buah di sebuah media nasional. Andaikan honor setiap artikel itu sebesar Rp. 250.000 rupiah. Jadi, dalam sebulan ia akan mendapatkan tambahan penghasilan satu juta rupiah. Lumayan untuk menambah isi kantong, bukan? Kelima, dengan menulis, seorang guru akan meningkatkan kecerdasan atau intelektualitasnya. Mengapa? Karena, untuk menulis, ia mesti menggali berbagai sumber informasi yang relevan. Aktivitas ini berdampak langsung terhadap peningkatan kemampuan intektual dan daya imajinasinya (Suweca, 2013).
Begitu banyak manfaat yang dapat dipetik dari menulis. Kemanfaatan itu di antaranya dalam hal : peningkatan kecerdasan; pengembangan daya inisiatif dan kreativitas; penumbuhan keberanian; dan pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
Setidaknya ada enam keuntungan yang bisa didapatkan oleh seorang guru yang aktif menulis dan berhasil menembus media cetak (Sawali, 2012). Pertama, popularitas. Melalui tulisan, seorang guru mampu menyuguhkan pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif kepada publik dengan jangkauan yang (nyaris) tak terbatas. Semakin banyak tulisan yang sukses menembus media cetak, nama sang penulis juga akan makin pupuler dan mendapatkan tempat tersendiri di mata pembaca. Dengan demikian, guru yang membudayakan aktivitas menulis akan mampu membangun opini publik terhadap persoalan-persoalan pendidikan yang hingga saat ini masih sarat dengan beban masalah. Kedua, profesionalisme. Secara langsung, sebuah tulisan memang tidak bisa memberikan manfaat praktis terhadap peningkatan mutu proses pembelajaran dan bisa menyihir generasi masa depan negeri ini menjadi sosok yang cerdas dan berkarakter. Namun, secara tidak langsung, tulisan bisa dijadikan sebagai media untuk memberikan asupan dan nutrisi batin bagi guru yang bersangkutan dalam meningkatkan kompetensi dirinya. Jika dikaitkan dengan peran guru sebagai agen pembelajaran, aktivitas menulis telah menyentuh naluri seorang guru untuk membebaskan mitos peserta didik sebagai robot yang hanya bisa menjalankan perintah dan taat pada komando. Peserta didik adalah potret generasi masa depan yang harus bisa menentukan jalan hidupnya secara cerdas dan kreatif, hingga kelak mereka bukan menjadi beban bangsa, melainkan justru menjadi “katalisator” yang mampu memadukan kekuatan, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya, hingga sanggup melahirkan potensi dahsyat untuk melakukan sebuah perubahan.
Ketiga, aktualisasi diri. Secara internal, tulisan bisa dijadikan sebagai media untuk beraktualisasi diri. Melalui opini yang disajikan dalam sebuah tulisan, gagasan-gagasan kreatif seorang guru makin memperkokoh posisi dan legitimasi sosialnya di mata publik sehingga sosok guru makin terhormat dan bermartabat. Sebagai praktisi yang merasakan denyut kehidupan dunia pendidikan secara langsung, gagasan-gagasan kreatif dan orisinil dari seorang guru sangat dibutuhkan untuk membangun desain pendidikan yang lebih mencerdaskan dan mencerahkan. Opini guru yang terkemas dalam sebuah tulisan di media cetak makin melengkapi berbagai diskursus pendidikan yang mencuat di berbagai media.
Keempat, katarsis diri. Sebagai sosok yang berdiri di garda depan dalam dunia pendidikan, guru jelas sangat memahami silang-sengkarutnya dunia pendidikan yang hingga kini belum sanggup melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter. Ironisnya, guru tak jarang dituding sebagai biang penyebab rendahnya mutu pendidikan. Dalam situasi demikian, tulisan bisa dijadikan sebagai media katarsis diri untuk menyuarakan beban kegelisahan yang mengerak dalam ruang batin sang guru. Menumpuknya problem pendidikan, mulai dari Ujian Nasional, sertifikasi guru, kurikulum, limbah politik lokal pasca-otonomi daerah, hingga implementasi pembelajaran yang dinilai miskin inovasi, sesungguhnya bisa menjadi bahan tulisan yang menarik bagi seorang guru.
Kelima, mengasah kepekaan. Guru abad ke-21 tidak cukup hanya menjadi guru kurikulum yang menafsirkan kurikulum semacam “kitab suci” yang monotafsir. Ia perlu menjadi guru inspiratif yang mampu menerjemahkan kurikulum secara multidimensional. Guru perlu menjadi elemen bangsa yang memiliki kepedulian untuk ikut memperbaiki nasib bangsanya dengan memosisikan diri sebagai sumber inspirasi bagi banyak kalangan melalui sebuah tulisan. Melalui tulisan, guru akan terus terasah kepekaannya dalam menyuarakan berbagai problem pendidikan sehingga mampu berkiprah dalam menggerakkan dinamika pendidikan sesuai dengan tuntutan peradaban dan kebutuhan masa depan.
Keenam, finansial. Ini merupakan keuntungan lain yang bisa didapatkan seorang guru di balik jerih-payahnya menekuni dunia kepenulisan. Saat ini media cetak sangat menghargai tulisan karya guru yang dinilai kreatif, inovatif, dan orisinil. Rubrik media cetak pun terbuka luas bagi seorang guru untuk berkarya. Honor tulisan yang didapatkan lebih dari cukup untuk terus memacu adrenalin kepenulisan, termasuk membeli buku-buku yang dibutuhkan. Selain itu, guru yang aktif menulis akan mampu memuluskan langkahnya dalam menapaki jenjang karier, terutama kewajiban untuk memenuhi angka kredit pengembangan keprofesian berkelanjutan, yang dinilai menjadi momok dan beban guru.
Semoga !!!










