Menguak “Dosa-dosa” Perencana Kota

Drs. Ahmad Usman, M.Si, Dosen STISIP Mbojo Bima, Pengamat Pendidikan dan Penulis Buku Menjadi Guru Parpurna Sejati dan Beberapa Buku Lainnya

INIPASTI.COM, Bila dikaji secara arif nan bijak tentang sejarah perkembangan peradaban kota, maka kota-kota mengalami rentang riwayat pertumbuhan, perkembangan, kemudian mekar menjadi kota besar dan selanjutnya kita lihat kota yang hilang– tinggal namanya dalam sejarah. Kita masih ingat dengan kota-kota dunia yang pernah mencapai masa keemasannya, misal Kerajaan Inka, Babylonia, Kerajaan Bulgis, Kerajaan (Nabi) Sulaiman, Istana Alhamra’ dan lain-lain.

Demikian halnya di nusantara ini, ada sejumlah kota yang pernah mencapai masa kejayaan, seperti Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit, dan sejumlah kota kerajaan. Lalu, kenapa sebuah kota dapat hilang? Lenyap, musnah atau runtuhnya sebuah kota, selain karena peristiwa alam (bencana alam, misal), pun akibat ulah manusia, perang misal, termasuk dalam hal ini akibat ulah para perancang atau perencana kota.

Inline Ad

Lewis Mumford dalam “The Culture of Cities”-nya sebagaimana disadur Khoe Shoe Kiam (1956), menceritakan perkembangan peradaban kota-kota yakni bermula dari “eopolis” (kota yang baru berdiri); kemudian menjadi “polis” (kota); selanjutnya berkembang menjadi “metropolis” (kota besar; metro = induk); tumbuh menjadi “megapolis” (megalo = besar; kota yang sudah menunjukkan keruntuhan); “tyrannopolis” (tyran = penguasa kejam; penguasa kota menguasai pedalaman dengan perusahaan-perusahaan raksasa); kemudian, “nekropolis” (nekro = mayat; kota runtuh).

Baca Juga:  Toenjoengan, Riwayatmu Kini…

Memang, untuk sampai ke kota yang “nekropolis” dalam pengertian hilang, runtuh, dan hancur sesungguhnya kecil kemungkinan terjadi, dan kalau toh terjadi membutuhkan waktu yang relatif lama, namun “runtuh” atau “hilang” dimaksudkan penulis yakni kota yang tidak lebih sekadar dari kumpulan desa-desa yang tidak tertata, tidak menarik, acak-acakan, semrawut, horok, dan kering kerontang, dan sebangsanya.

Menarik apa yang pernah diungkapkan Mahbub Ul Haq 1995 lalu dalam “The Poverty Curtain” atau “Tirai Kemiskinan” sebagaimana dinukil kembali Badrul Munir (2002) mengenai sejumlah “dosa” para perencana pembangunan—juga perencana kota. Beliau mengungkapkan adanya “tujuh dosa” para perencana pembangunan. Dosa pertama yaitu “permainan angka.”

Mereka pemuja angka. Diam-diam mereka menganggap apa yang dapat diukur bermakna, apa yang tidak dapat diukur boleh diabaikan. Akibatnya, terlalu banyak menciptakan model-model ekonometri dan sedikit merumuskan kebijaksanaan ekonomi. Dosa kedua yakni pengendalian yang berlebihan. Mereka cinta pengendalian langsung atas ekonomi. Cepat sekali dianggap bahwa merencanakan akan pembangunan itu berarti mendorong sektor pemerintah dan menjalankan pengendalian birokrasi guna mengatur kegiatan ekonomi, terutama di sektor swasta.

Baca Juga:  Penjara = Tempat “Pertobatan” Atau Justru “Sekolah Kejahatan”?

Dosa ketiga adalah penanaman modal khayal. Mereka asyik menghitung tingkat penanaman modal. Tak jadi soal apakah tingkat penanaman modal produktif atau tidak, bagaimana kaitan dengan investasi pembangunan sumber daya manusia. Ini sebagai gambaran dunia nyata, bahwa kita telah melihat investor khayal. Dosa keempat yakni mode-mode yang berlebihan. Mereka kecanduan mode pembangunan. Hal ini terjadi karena ada perasaan ketakutan tidak akan mendapat bantuan. Jika mereka tidak ikut patuh dengan jalan pikiran yang sedang jadi mode di kalangan negara pemberi bantuan.

Kemudian, dosa kelima adalah perencana dan pelaksana dipisahkan. Mereka memisahkan antara perencana dan pelaksana. Sebuah rencana yang baik biasanya disertai dengan langkah-langkah yang perlu diambil untuk melaksanakannya. Dosa keenam yaitu sumber daya manusia diabaikan. Mereka cenderung mengabaikan sumber daya manusia. Walaupun banyak sanggahan, tetapi umumnya di sebagian besar negara sedang berkembang, sedikit sekali modal yang ditanam untuk mengembangkan sumber daya manusia.

Baca Juga:  Tinjauan Kebijakan Publik Dalam Reuni 212

*Penulis: Alumni IKIP dan Unhas Makassar, Dosen Pengampu Mata Kuliah Pembangunan Perkotaan STISIP Mbojo Bima NTB

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.