INIPASTI.COM – Nurdin Halid (NH) dan Ichsan Yasin Limpo (IYL) secara politik dibesarkan pada wadah politik yang sama, yakni Golkar. IYL tumbuh dari kekuatan bawah: Anggota DPRD, Bupati Gowa dua periode, dan sekarang menjadi calon Gubernur Sulsel pada 2018 mendatang, setelah kursi Bupati Gowa di “transfer” kepada putra kandungnya dengan mulus. Sedangkan karir politik NH bersemai sejak ia menjadi Dirut Puskud Hasanuddin, kemudian menjadi anggota DPR RI, pengurus DPP Golkar, pernah menjadi calon Gubernur Sulsel yang kalah melawan Amin Syam-Syahrul YL pada 2003. Dua-duanya sama-sama dibesarkan Partai Golkar. Kini kontestasi “sedarah” dalam satu partai itu kembali terkuak.
Secara politik, NH selalu berseberangan dengan keluarga YL. Jika NH dan IYL benar-benar akan maju menjadi calon Gubernur Sulsel 2018 mendatang, maka pertarungan ini akan menjadi pertarungan politik dengan seri yang kesekian kalinya antara NH dan keluarga YL. Sejauh ini, kekuatan politik keluarga YL di Sulsel selalu unggul dibanding dengan keluarga NH. NH tidak memiliki arena politik yang riil (lokus politik), sebagaimana keluarga YL mengontrol sepenuhnya kekuatan politik di Kabupaten Gowa, sebuah kabupaten dengan jumlah pemilih nomor dua terbesar sesudah kota Makassar. Sebuah kabupaten yang memiliki sejarah panjang tentang politik dan kekuasaan.
Beda halnya dengan Kabupaten Bone, tempat kelahirannya NH. Bone tidak sepenuhnya dapat dikontrol oleh jaringan politik NH. Karena Kabupaten Bone memiliki ekslusivitas politik yang kuat. Bone tidak gampang “dimasuki” oleh sembarang aktor politik, meskipun ia lahir dan tumbuh di sana. Bone memiliki hirarki politik “darah biru” yang datang dari gen kekuasaan yang sudah berlapis-lapis. Kecuali, kalangan darah biru politik itu memberi ruang yang seluas-luasnya kepada aktor baru (aktor di luar kalangan darah biru politik), itu pun belum tentu kalangan “bawah” bisa langsung klop dengan aktor yang disodorkan itu. NH tidak memiliki tangan langsung yang bisa mengatur nafas politik yang beredar di Bone. NH harus meminjam tangan pihak lain untuk mengontrol gerakan politik di Bone. Sedangkan IYL, masih sepenuhnya mengontrol hitam-putihnya politik dan kekuasaan di Gowa. IYL belum terlalu lama melepaskan genggaman politiknya di Gowa, kini anak kandungnya yang melanjutkan dan mewariskan genggaman politik itu.
Menurut Pierre Bourdie, sosiolog yang kerapkali mengamati dinamika kekuasaan dalam masyarakat, penguasa harus memiliki habitus politik yang kuat. Caranya menurut Bourdie adalah dengan penguasaan arena dan modal (sosial, ekonomi, alam, politik). Kontrol terhadap wilayah kekuasaan, seperti “NH menguasai Bone” dan “IYL menggengam Gowa” ini yang dimaksud Bourdie sebagai habitus, sebuah praktek sosial untuk melayukan bibit-bibit kekuasaan baru, yang mencoba menjadi gulma bagi kekuasaan pokok. Apakah NH melakukan praktek sosial seperti ini di Bone? Dan, apakah IYL melakukan hal seperti yang diuraikan Bourdie di Gowa?
Sebagai politisi, tentu saja keduanya melakukan hal yang sama pada masing-masing habitusnya. Akan tetapi di antara keduanya pasti ada yang lebih efektif melakukannya, karena perbedaan sumberdaya yang dimiliki. Sampai disini, terdapat perbedaan kualitas habitus politik antara NH dan IYL. Habitus politik NH di Bone, dan habitus politik IYL di Gowa disebut sebagai habitus politik internal bagi keduanya. Di luar dua arena ini disebut sebagai habitus politik eksternal, wilayah pertarungan terbuka.
Habitus internal membutuhkan arena politik (lokus politik) yang jelas, dan dominan. Hanya dengan memicingkan mata sekalipun, habitus politik internal yang kuat akan dengan mudah menggandakan power politiknya. Pada sosok yang memiliki kekuatan habitus internal, sangat mudah memproduksi kekuasaan. Ia bisa mereproduksi kekuasaan kapan dan dimana saja. Siapa diantara IYL dan NH yang memiliki kualitas habitus politik internal yang lebih tinggi? Wallahualam. (*/ipc)










