Menjadi Insan Cerdas yang Bertakwa

Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat (Pengurus Pusat IKADI)

INIPASTI.COM, Kesuksesan menjalankan ibadah Ramadhan 1442 H, telah mengantarkan seseorang mencapai fitrahnya (kesucian) diri. Mereka itulah yang mencapai derajat takwa. Mereka suci ibarat bayi yang baru dilahirkan.

Karena itu, pada hari-hari berikutnya pasca Ramadhan, kita harus menjadi insan yang cerdas berdasarkan fitrah dan ketakwaan. Yang mengajak tunduk dan patuh kepada Allah SWT, kepada agama-Nya, hukum-hukum dan aturan hidup dari-Nya. Karena hanya dengan kembali kepada fitrah insaniah yang Islami dan ketakwaan yang sempurna, manusia akan selamat dari kesesatan dan kesengsaraan.

Inline Ad

Manusia fitri nan takwa inilah yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalah-permasalahan hidup menuju kesejahteraan idaman setiap manusia. Agar bisa menghadapi berbagai bentuk aktifitas destruktif di muka bumi. Untuk selanjutnya menyelamatkan umat manusia dari jurang kenistaan.

Sesungguhnya, kemakmuran dan kesejahteraan serta peradaban sebuah bangsa hanya akan bisa dibangun dan diraih melalui hadirnya insan-insan cerdas yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Yang senantiasa merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah seraya berzikir mengagungkan asma-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

Baca Juga:  Penuh Tekad, Perempuan Ini Jadi Penulis Muda Hingga Ingin Buat Stasiun Radio Sendiri

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)

 

Insan-insan cerdas yang beriman dan bertaqwa adalah mereka yang memiliki kecerdasan berlipat-lipat. Cerdas secara intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial.

Insan yang cerdas secara intelektual berarti, mereka mampu beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka juga memiliki sikap kritis, kreatif dan imajinatif.

Baca Juga:  OPINI: Dia “Meninggalkan” Kuliahnya di APDN

Sementara insan yang cerdas spiritualnya adalah mereka yang mampu beraktualisasi diri melalui olah hati atau qolbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul.

Sedangkan insan yang cerdas secara emosional dan sosial, merupakan mereka yang mampu beraktualisasi diri melalui olah rasa, untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasi akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya. Mereka beraktualisasi diri melalui interaksi sosial dengan sikap-sikap positif, empatik dan simpatik serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Semoga kita bisa termasuk ke dalam golongan insan cerdas yang bertakwa. Sehingga mampu membangun dan mewujudkan kesejahteraan pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita. Amien ya rabbal ’alamin

Baca Juga:  Malapetaka Pergantian Tahun

Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat

(Pengurus Pusat IKADI)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.